Nasional & Internasional

Harga Minyak Mentah Naik Akibat Konflik Timur Tengah dan Cuaca Ekstrem Texas

  • Harga minyak mentah dunia terkerek sekitar 1,1%-1,5% pascanaiknya tensi konflik antara Koalisi Arab Saudi dengan kelompok Houthi Iran di Yaman.

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia terkerek sekitar 1,1%-1,5% pascanaiknya tensi konflik antara Koalisi Arab Saudi dengan kelompok Houthi Iran di Yaman.

Mengutip dari Fox Bussiness tanggal 15 Februari 2021, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik  86 sen (Rp12.000) atau 1,5% menjadi US$60,33 (Rp840.000) per barel.

Sedangkan minyak jenis Brent mentah naik 66 sen (Rp9.190) atau 1,1% pada kisaran US$63,09 (Rp878.000) per barel di 0004 GMT.

Harga itu dicapai setelah sebelumnya naik ke US$63,44 (Rp883.402). Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 22 Januari 2020.

Dilansir dari Anadolu Agency, tensi konflik tersebut mulai menguat karena kelompok Houthi beberapa kali melancarkan serangan roket dan drone ke teritori Yaman dan dan Koalisi Arab Saudi belakangan ini.

Kabar terbaru ialah ketika militer Yaman sempat mengkonfirmasi jika mereka telah menghentikan serangan drone dari Houthi di provinsi Saada pada Sabtu, 13 Februari 2021.

Menurut Kepala Analis Fujitomi.co Kazuhiko Saito, kenaikan awal  harga minyak mentah tersebut dipicu oleh beberapa berita salah satunya mengenai konflik tersebut.

Namun tidak hanya itu, mengutip dari Reuters kenaikan minyak juga disebabkan oleh cuaca ekstrem yang menghentikan operasi pada sumur dan pengilangan minyak di Texas, kawasan negara bagian dengan produksi minyak mentah terbesar di Amerika Serikat.

Hal itu disebabkan oleh kondisi pembekuan, sehingga mendorong pemasok listrik negara terpaksa harus melakukan pemadaman bergilir, dan menyebabkan hampir 3 juta rumah dan perusahaan tanpa dialiri listrik. (SKO)