BPPT Bersama TNI Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Cegah Banjir Jabodetabek
- Dalam Rakor Penanganan Banjir Jabodetabek di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (2/1), BNPB meminta Badan Pengkajian dan Penerapan...

Acep Saepudin
Author


Jakarta, 3 Desember 2020 - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (2/1), BNPB meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Hal ini untuk mengurangi curah hujan penyebab banjir di Jabodetabek.
Dilansir dari situs BNPB, BPPT telah melakukan analisis pertumbuhan awan penyebab hujan di Jabodetabek. Awan-awan tersebut berasal dari sebelah barat dan barat laut Jabodetabek yaitu selat Sunda, Lampung, dan sekitarnya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo mengatakan dua sortie penerbangan mulai dilakukan pada pukul 09.00 WIB. Sedangkan dua sortie selanjutnya akan dilakukan pada pukul 13.00 WIB.
"Adapun operasi TMC dilakukan pada Jumat pagi (3/1) oleh BPPT bersama TNI. Operasi modifikasi cuaca tersebut dilakukan dalam empat sortie penerbangan. Keempat sortie penerbangan tersebut akan menggunakan 1 unit Casa, 1 unit CN-295, dan pesawat tambahan 1 unit Hercules," ujar Agus dalam Rakor Penanganan Banjir Jabodetabek Kamis (02/01)
Adapun skema yang dilakukan pada pagi hari adalah prediksi dan monitoring pertumbuhan dan pergerakan awan. Semua awan yang bergerak ke Jabodetabek dan diperkirakan akan hujan akan disemai dengan pesawat menggunakan bahan semai NaCl. Diharapkan, awan akan jatuh sebelum memasuki Jabodetabek.
Sementara Kepala BPPT Hammam Riza menyebutkan bahwa pihaknya sudah menyiapkan 22 ton bahan semai (garam), dan segera ditambah lagi stoknya. “Empat sortie penerbangan per hari akan terus dilakukan untuk menyemai awan. Ini dalam rangka mempercepat penurunan hujan sehingga tidak sampai turun di wilayah Jabodetabek,” lanjutnya.
Sedangkan Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, teknologi modifikasi cuaca ini adalah untuk mengurangi volume awan. Oleh karenanya, curah hujan yang turun lebih terkendali dan tidak menyebabkan banjir. "Volume awan yang kemungkinan bisa menjadi hujan harus dikurangi dari sekarang agar tidak menumpuk di satu waktu," katanya.
