Berikut Tiga Jurus OJK Bangkitkan Pasar Modal Indonesia
- JAKARTA – Pandemi COVID-19 bukan satu-satunya alasan yang menyebabkan geliat pasar modal Indonesia begitu melempem sepanjang tahun ini. Di luar itu, ada...

Fajar Yusuf Rasdianto
Author
JAKARTA – Pandemi COVID-19 bukan satu-satunya alasan yang menyebabkan geliat pasar modal Indonesia begitu melempem sepanjang tahun ini. Di luar itu, ada faktor-faktor elementer yang membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini hanya suam-suam kuku belaka.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, salah satu faktor mendasar itu adalah kurang mendalamnya penetrasi pasar modal Indonesia. Itu, kata dia, menyebabkan volatilitas pasar modal di Tanah Air sangat rentan terhadap setiap sentimen yang terjadi, baik secara nasional maupun korporasi.
- Dukung MotoGP 2021 di Lombok, 915 Rumah Telah Disulap Jadi Homestay
- Lebih Gokil dari Bitcoin, Harga Kripto Stellar Lumens Menjulang 600 Persen
- Pembiayaan Korporasi Desember 2020 Naik, Tertinggi dalam 5 Bulan
- Ekonomi China 2020 Diprediksi Tumbuh 2,3%
- BI Taksir Kebutuhan dan Pembiayaan Korporasi Q1-2021 Meningkat
Untuk itu, Wimboh pun mengaku telah menyiapkan sejumlah siasat untuk mengakali problematika ini. Pertama, OJK bakal berupaya untuk memperluas instrumen pasar modal di Indonesia.
“Instrumen ritel sangat penting bagaimana kita memberikan insentif bagi para emiten untuk menciptakan instruman yang bisa diakses investor ritel,” Dengan banyaknya instrumen, maka kita akan mempunyai variasi instrumen yg lebih banyak,” terang Wimboh dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020, Senin 19 Oktober 2020.
Cara selanjutnya adalah dengan memperluas basis investor Tanah Air. Utamanya perluasan investor-investor ritel dalam negeri. Dengan cara ini, volatilitas pasar modal di Tanah Air bisa terjaga dan stabil kendatipun ada banyak guncangan yang menerpa.
Berikutnya, perbaikan infrastruktur. Wimboh menginginkan adanya digitalisasi dan sentralisasi teknologi untuk mempermudah akses pasar modal bagi seluruh investor di Tanah Air.
Untuk mengejawantahkan mimpi itu, OJK pun tengah menyiapkan teknologi Central Counterparty (CCP) agar sentralisasi dan digitalisasi pasar modal semakin menyeluruh dan komprehensif.
“Ini adalah terobosan yang kami harapkan tidak terlalu lama dan bisa segera digunakan untuk centralize clearing,” tegas Wimboh.
