Korporasi

Usai IPO, GoTo Bakal Punya Likuiditas Jumbo Sebesar Rp84,36 Triliun

  • Jika digabung dengan hasil pendanaan maksimum IPO nanti, maka likuiditas GoTo akan mencapai Rp84,36 triliun.
<p>Kolaborasi dua perusahaan Gojek dan Tokopedia menjadi GoTo Group dipimpin oleh salah satu CEO Gojek, Andre Soelistyo. Pendiri dan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya (kanan) masih akan menakhodai startup unicorn e-commerce itu. / Dok. GoTo Group</p>

Kolaborasi dua perusahaan Gojek dan Tokopedia menjadi GoTo Group dipimpin oleh salah satu CEO Gojek, Andre Soelistyo. Pendiri dan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya (kanan) masih akan menakhodai startup unicorn e-commerce itu. / Dok. GoTo Group

(Istimewa)

JAKARTA – Raksasa teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, perseroan tengah melangsungkan penawaran awal alias book building.

Rencananya, entitas gabungan ride-hailing dan e-commerce ini akan melepas 52 miliar lembar saham ke publik pada kisaran harga Rp316 – Rp346 per saham. Dengan begitu, perseroan berpotensi meraup dana hingga Rp17,99 triliun lewat aksi korporasi tersebut.

Persentase saham yang akan dilepas ke publik setara dengan 4,35% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum. Adapun masa penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) akan dilaksanakan pada 29 - 31 Maret 2022.

Dalam prospektus GoTo dinyatakan bahwa perseroan telah membiayai kebutuhan modalnya terutama melalui penggalangan dana modal bersifat ekuitas. Kebutuhan modal GoTo terutama digunakan untuk akuisisi pelanggan, penjualan dan pemasaran, pengembangan produk dan biaya operasional.

Manajemen meyakini akan memiliki sumber pendanaan yang cukup dari kas hasil penawaran umum perdana saham ini serta pinjaman dari bank dan non-bank untuk memenuhi kebutuhan modal sampai dengan 12 bulan mendatang sejak 31 Juli 2021.

Pada saat itu, perseroan memiliki saldo kas dan setara kas sebesar Rp20,49 triliun dan fasilitas pinjaman bank yang belum digunakan sebesar US$357 juta atau setara dengan Rp5,17 triliun.

Selain itu, GoTo telah mendapatkan dana tambahan dari penerbitan saham baru setelah 31 Juli 2021 sebesar Rp40,71 triliun melalui seri pendanaan terakhirnya. Jika digabung dengan hasil pendanaan maksimum IPO nanti, maka likuiditas GoTo akan mencapai sekitar Rp84,36 triliun.

Dengan dana sebesar itu, perseroan diyakini dapat melakukan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan yang cukup atraktif pascapenawaran umum perdana.

Ekonom dan Praktisi Pasar Modal, Lucky Bayu Purnomo mengatakan bahwa GoTo memiliki prospek yang baik di masa depan, didukung oleh ekosistem yang kuat. Hal ini juga ditopang oleh bisnis finansial yang dimiliki GoTo, yakni GoPay.

“Jadi GoPay memang diharapkan bisa menjadi secamam shadow banking dan memang benar-benar menurut saya akan memiliki nilai tersendiri untuk entitas ini,” ujarnya kepada TrenAsia.com beberapa waktu lalu.

Di atas kertas, jumlah pendapatan bruto pihak ketiga perseroan per 31 Juli 2020 sebesar Rp5,05 triliun. Angka ini hanya berasal dari bisnis Gojek, sebelum merger dengan Tokopedia.

Kemudian, total pendapatan bruto pihak ketiga perseroan di periode yang sama tahun lalu naik menjadi Rp6,90 triliun. Pertumbuhan ini berkat kontribusi pendapatan dari Tokopedia setelah adanya penggabungan bisnis.

Adapun pendapatan dari segmen e-commerce yang berasal dari Tokopedia pada saat itu sebesar Rp1,28 triliun. Nilai tersebut setara dengan 18,50% dari seluruh pendapatan GoTo per 31 juli 2021.

Kontribusi ini sangat wajar jika berkaca pada bisnis Gojek yang mencakup on-demand services seperti GoRide, GoCar, dan GoSend. Ini belum termasuk lini bisnis jasa teknologi keuangannya, yakni GoPay. Berbeda dengan Tokopedia yang hanya fokus dalam industri lokapasar.

Sebagai informasi tambahan, GoTo juga berencana untuk kembali mencatatkan sahamnya di bursa asing usai sukses melantai di BEI. Beberapa opsinya antara lain New York Stock Exchange (NYSE), National Association of Securities Dealers Automated Quotations (NASDAQ), Hong Kong Stock Exchange (HKSE), Singapore Stock Exchange (SGX), atau London Stock Exchange (LSE).

CEO GoTo Andre Soelistyo mengungkapkan rencana dual listing tersebut masih dalam proses pengkajian perseroan karena banyaknya pertimbangan yang harus dilakukan.

"Memang kalau ada kesempatan kami akan melakukan dual listing. Tapi dengan konsiderasinya adalah di tempat di mana perusahaan teknologi serupa kami mempunyai jumlah investor yang lebih banyak. Supaya kami mendapatkan akses untuk bertemu dengan calon-calon investor baru," kata dia dalam siaran pers, Selasa, 15 Maret 2022.

Penawaran internasional diharapkan akan membantu emiten untuk mengakses basis investor yang lebih luas. Rencana tersebut juga akan memberikan kesempatan bagi GoTo untuk membuka keran investasi sebesar-besarnya di tataran global.

Penerbitan saham baru sehubungan dengan penawaran Internasional telah disetujui oleh pemegang saham pada 15 Desember 2021. Sehingga tidak ada lagi persetujuan yang dibutuhkan untuk penawaran internasional tersebut.