Korporasi

Pendapatan Lesu, Laba Bersih Astra Internasional Menukik 22 Persen

  • PT Astra Internasional Tbk mengalami penurunan laba bersih hingga 22% pada kuartal I 2021. Merosotnya laba bersih emiten berkode ASII ini disebabkan pendapatan pada kuartal I yang turun 4% year on year (yoy).

<p>Karyawan melayani konsumen yang bertanya mengenai pembiayaan pembelian mobil listrik di stan Mandiri Tunas Finance di Jakarta, Selasa, 23 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan melayani konsumen yang bertanya mengenai pembiayaan pembelian mobil listrik di stan Mandiri Tunas Finance di Jakarta, Selasa, 23 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – PT Astra International Tbk mengalami penurunan laba bersih hingga 22% pada kuartal I 2021. Merosotnya laba bersih emiten berkode ASII ini disebabkan pendapatan pada kuartal I yang turun 4% year on year (yoy).

Pendapatan perusahaan tercatat turun dari Rp54 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp51,7 triliun pada kuartal I 2021.

Lini bisnis otomotif perusahaan masih terdampak pandemi COVID-19 dengan mencatatkan penurunan pendapatan 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp1,43 triliun.

Kendati demikian, ASII masih mendapat pertumbuhan keuntungan dari segmen alat berat, pertambangan dan energi sebesar Rp1,09 triliun atau meningkat 3%

“Laba bersih grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat 3% disebabkan oleh peningkatan penjualan alat berat Komatsu serta harga emas dan batubara yang lebih tinggi,” kata Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto dalam keterangan resmi, Kamis, 22 April 2021.

Sementara itu, pendapatan perusahaan dari segmen jasa keuangan pada kuartal I 2021 menukik 30% yoy menjadi Rp985 miliar.

Adapun pendapatan dari segmen agrobisnis tercatat sebesar Rp129 miliar, segmen infrastruktur dan logistik Rp42 miliar, dan segmen properti Rp49 miliar pada kuartal I 2021 ini.

Maka, ASII memperoleh laba bersih sebesar Rp3,72 triliun pada kuartal I 2021. Capaian itu lebih rendah dibandingkan kuartal I 2020 yang sebesar Rp4,81 triliun.

Hal ini berdampak pada earning per share (EPS) atau laba bersih per saham perusahaan yang menurun dari Rp119 pada kuartal I 2020 menjadi Rp92 per lembar saham pada kuartal I 2021.

Kendati penjualan perusahaan kurang memuaskan, ASII rupanya masih mampu mengumpulkan penambahan total aset pada kuartal I 2021 ini.

Total aset perusahaan tumbuh 4% dari Rp338 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp351,97 triliun pada kuartal I 2021.

Hal ini diikuti pertumbuhan kas bersih perusahaan dari Rp7,3 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp15,9 triliun pada kuartal I 2021. Untuk diketahui, jumlah kas ini tidak termasuk kas anak perusahaan dari ASII.

“Walaupun kinerja usaha Grup perlahan membaik pada beberapa bulan terakhir, prospek kinerja tahun ini masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat dampak dari pandemi yang masih berlanjut,” jelas Djony.

Sementara itu, liabilitas perusahaan naik tipis dari Rp142,74 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp149,64 triliun pada kuartal I 2021. Kenaikan ini dipicu liabilitas jangka pendek perusahaan yang melesat menjadi Rp99 triliun dari sebelumnya Rp85 triliun pada kuartal I 2020.

Selanjutnya, ekuitas perusahaan pada kuartal I 2021 tercatat berada pada posisi Rp202,33 triliun atau meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp194,45 triliun. 

Maka, debt to equity ratio (DER) atau rasio utang terhadap modal perusahaan pada kuartal I 2021 adalah 0,7 kali. Itu artinya, meski liabilitas naik, modal bersih perusahaan masih lebih banyak 30%. (RCS)