Korporasi

Menakar Kinerja Emiten Boy Thohir: ADRO Tertekan, AADI Bertahan, ADMR Bertumbuh

  • Strategi utama AADI adalah peningkatan volume produksi dan penjualan, yang masing-masing naik 8% dan 7% dari tahun sebelumnya.
Boy Tohir Saratoga - Panji 2.jpg
CEO PT Adaro Energy Indonesia Tbk Garibaldi Thohir/Boy Thohir . Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Tiga emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi 'Boy' Thohir, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), menunjukkan kinerja profitabilitas yang bervariasi sepanjang 2024.

Meski menghadapi tantangan fluktuasi harga batu bara, masing-masing perusahaan menerapkan strategi adaptasi bisnis yang berbeda guna menjaga daya saing dan profitabilitas. Lantas, bagaimana prospek ke depannya?

Berdasarkan laporan keuangan 2024, ADRO mencetak laba bersih sebesar US$1,38 miliar, turun 15,93% secara tahunan dari US$1,64 miliar pada 2023. Penurunan ini sejalan dengan pendapatan yang menyusut 2,66% dari US$2,13 miliar menjadi US$2,07 miliar.

Untuk mengatasi tekanan ini, ADRO berfokus pada efisiensi operasional dan disiplin biaya. Presiden Direktur dan CEO ADRO, Garibaldi Thohir, menegaskan bahwa perseroan menjaga margin EBITDA operasional sebesar 47%, mencerminkan keberhasilan strategi pengendalian biaya di tengah kondisi pasar yang menantang.

Di sisi lain, ADRO membukukan laba dari operasi yang dihentikan senilai US$918,64 juta akibat spin-off lini bisnis batu bara termal ke AADI. Langkah ini menunjukkan upaya ADRO dalam mengoptimalkan portofolio bisnisnya agar lebih fokus pada keberlanjutan jangka panjang.

Bertumbuh dengan Diversifikasi

Berbeda dengan ADRO, ADMR mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,28% YoY menjadi US$1,15 miliar pada 2024. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan permintaan batu bara metalurgi, yang menjadi segmen utama perusahaan.

ADMR mencatat penjualan batu bara metalurgi sebesar 5,62 juta ton, naik 26% dibandingkan 2023, dengan produksi yang juga meningkat 30% menjadi 6,63 juta ton. Peningkatan ini menegaskan strategi ADMR dalam memperkuat segmen pasar yang memiliki permintaan lebih stabil dibandingkan batu bara termal.

Resiliensi AADI

Sementara itu, AADI menunjukkan ketahanan bisnis dengan mencatat laba bersih sebesar US$1,21 miliar pada 2024, naik 5,86% dari US$1,14 miliar pada 2023, meskipun pendapatan turun 10% menjadi US$5,32 miliar.

Strategi utama AADI adalah peningkatan volume produksi dan penjualan, yang masing-masing naik 8% dan 7% dari tahun sebelumnya. Dengan produksi mencapai 65,82 juta ton dan penjualan 68,06 juta ton, AADI berhasil mengompensasi dampak penurunan harga jual rata-rata batu bara yang melemah hingga 17%.

Menurut Presiden Direktur AADI, Julius Aslan, perusahaan telah mengandalkan pengalaman dalam mengarungi siklus pasar batu bara. “Rekam jejak kami dalam menghadapi siklus ini membuktikan resiliensi dan keahlian kami di sektor ini,” ujarnya.

Adaptasi dan Peluang di Ekonomi Hijau

Menghadapi dinamika industri, ADRO, ADMR, dan AADI terus menyesuaikan strategi bisnis mereka. ADRO mulai berfokus pada diversifikasi dan efisiensi operasional, ADMR memanfaatkan permintaan batu bara metalurgi yang tinggi, sementara AADI mengandalkan kapasitas produksi yang lebih besar untuk menjaga profitabilitas.

Garibaldi Thohir juga menekankan pentingnya menangkap peluang dalam ekonomi hijau. Dengan organisasi yang ramping dan strategi berkelanjutan, ketiga emiten ini berusaha memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian pasar energi global.

Ke depan, adaptasi terhadap tren energi bersih serta inovasi dalam efisiensi operasional akan menjadi kunci bagi keberlanjutan bisnis di sektor pertambangan batu bara. Dari lantai bursa hingga perdagangan pada Rabu, 5 Maret 2025, saham ketiga perusahaan tersebut bergerak variatif. Saham ADRO turun 0,52% ke level Rp1.900 per saham.

Sementara itu, saham ADMR dan AADI justru menguat masing-masing sebesar 4,26% ke Rp735 per saham dan 2,41% ke Rp6.375 per saham, mencerminkan minat investor yang tetap tinggi meskipun sektor ini menghadapi tantangan dalam transisi energi global.

Berkaitan dengan rekomendasi saham Mandiri Sekuritas dalam riset terbarunya merekomendasi buy saham AADI dengan target harga Rp10.500 per saham, Sementara itu, untuk ADRO perusahaan dengan kode broker CC ini neutral dengan target harga Rp3.250 per saham. 

Tags: ADROAADI