Laba Asuransi Tugu Mandiri Meroket 119 Persen Jadi Rp18,39 Miliar Sepanjang 2020
PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (AJTM) mencatat laba setelah pajak sebesar Rp18,39 miliar, meroket 119% dibandingkan dengan 2019 yakni Rp8,39 miliar.

Ananda Astri Dianka
Author


Seorang nasabah sedang mendapat penjelasan tentang produk Asuransi dari staff Customer Service AJTM di Kantor Tugu Mandiri, Jakarta pada Jumat (28/5/2021). (Foto: Dok. Tugu Mandiri)
(Istimewa)JAKARTA – PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (AJTM) mencatat laba setelah pajak sebesar Rp18,39 miliar, meroket 119% dibandingkan dengan 2019 yakni Rp8,39 miliar.
Tak hanya laba, Tugu Mandiri juga membukukan kenaikan aset sebesar 15% dari Rp1,7 triliun pada 2019 menjadi Rp1,96 triliun tahun lalu.
“Di tengah kondisi COVID-19 dan perlambatan ekonomi, kami bisa mencapai performa yang cukup baik di sisi keuangan dan operasional,” kata Direktur Utama AJTM, Hanindio W. Hadi dikutip dari keterangan resmi, Selasa 2 Juni 2021.
Dari sisi tingkat kesehatan keuangan Risk Based Capital (RBC) perusahaan pada 2019 sekitar 101%, sedangkan 2020 melesat menjadi 257%. Sedangkan Rasio Kecukupan Investasi (RKI) naik dari semula 104% menjadi 111%.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Adapun hasil underwriting juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dari semula minus Rp11,69 miliar pada 2019, berbalik positif menjadi Rp97,48 miliar pada 2020.
Menurut Hanindio, peningkatan hasil underwriting ini akibat diberlakukannya prudent underwriting.
Di mana AJTM melakukan secara lebih proper pada saat melakukan asesmen risiko, serta keberhasilan program efisiensi melalui program transformasi yang dicanangkan sejak September 2020.
AJTM juga melakukan penghentian produk-produk yang dinilai tidak profitable, moratorium beberapa produk asuransi, sekaligus juga rebalancing portfolio dari produk yang ada.
“Sehingga semua produksi yang tidak memenuhi hukum bilangan besar harus dihentikan dan restructuring karena berdampak pada bisnis yang tidak sehat. Itu menjadi kunci yang membuat kami survive pada 2020,” terang Hanindio. (RCS)
