Komisi, Protes, dan Persaingan: Dinamika Grab dan Gojek di Pasar ASEAN
- Persaingan Grab dan Gojek di pasar ride-hailing Asia Tenggara menjadi cerita utama dalam transformasi ekonomi digital kawasan. Kedua perusahaan ini berkembang dari startup menjadi raksasa teknologi yang memengaruhi cara jutaan orang bergerak, bekerja, dan berinteraksi secara digital.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Persaingan antara Grab dan Gojek di pasar ride-hailing Asia Tenggara kini menjadi salah satu cerita terbesar dalam transformasi ekonomi digital kawasan. Kedua perusahaan yang awalnya startup kini telah menjelma menjadi raksasa teknologi dengan jangkauan dan pengaruh yang luas, membentuk cara jutaan orang bergerak, bekerja, dan berinteraksi secara digital.
Strategi yang diambil Grab dan Gojek sangat berbeda: Grab mengandalkan ekspansi regional ke delapan negara ASEAN, sementara Gojek memilih memperkuat posisi di pasar domestik Indonesia yang kompleks dan besar. Persaingan ini bukan hanya soal kecepatan antar penumpang, melainkan juga soal bagaimana mengelola skala bisnis, kesejahteraan mitra pengemudi, serta tekanan regulasi yang terus berkembang.
Namun, pertumbuhan dan inovasi mereka tidak lepas dari tantangan. Kebijakan potongan komisi yang semakin tinggi memicu gelombang protes dari mitra pengemudi di berbagai negara. Ditambah lagi, wacana merger besar-besaran yang melibatkan kedua perusahaan ini menimbulkan kekhawatiran terkait monopoli dan masa depan persaingan di industri ride-hailing Asia Tenggara.
Strategi Ekspansi dan Dominasi Pasar
Grab mengusung strategi ekspansi regional yang agresif dengan beroperasi di delapan negara ASEAN: Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Myanmar. Dengan lebih dari 5 juta mitra pengemudi dan layanan yang meluas dari transportasi hingga pengiriman barang dan layanan keuangan digital, Grab memanfaatkan skala besar untuk memperkuat posisinya di berbagai pasar.
Di sisi lain, Gojek fokus pada penguasaan pasar domestik Indonesia, dengan sekitar 2 juta mitra pengemudi lokal. Indonesia yang kompleks dan besar menjadi pangkalan utama Gojek, meski perusahaan ini juga hadir di beberapa negara lain di kawasan. Pendekatan ini membangun kedekatan kuat dengan ekosistem lokal yang menjadi keunggulan kompetitif Gojek.
Perbedaan strategi ini memperlihatkan dua pendekatan yang berbeda dalam menghadapi tantangan ekonomi digital di Asia Tenggara: ekspansi luas versus konsolidasi pasar domestik yang intens. Kedua pendekatan menghadapi risiko dan peluang unik, terutama dalam regulasi dan dinamika sosial.
Isu Komisi, Protes, dan Transformasi Bisnis
Sejak 2018, Grab dan Gojek menaikkan potongan komisi mitra pengemudi dari kisaran 10-15% menjadi sekitar 20%, bahkan mencapai 25-30% untuk merchant makanan. Kebijakan ini bertujuan mendukung profitabilitas, seiring keduanya menjadi perusahaan publik — Grab tercatat di Nasdaq dan Gojek melalui GoTo Group di Bursa Efek Indonesia.
Kenaikan komisi ini memicu gelombang protes besar, terutama di Indonesia pada Agustus 2024, dengan ribuan pengemudi menuntut transparansi dan pengurangan komisi. Protes juga terjadi di negara lain seperti Malaysia dan Filipina, menunjukkan masalah kesejahteraan mitra pengemudi yang bersifat regional.
Selain itu, pemerintah Indonesia mulai mengawasi isu ini lebih ketat. Pada Maret 2025, DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum terkait tuduhan potongan pendapatan pengemudi yang tinggi. Perusahaan membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa potongan sudah sesuai regulasi.
Terbaru, laporan pada Mei 2025 mengungkapkan bahwa Grab tengah mengupayakan akuisisi GoTo senilai sekitar 7 miliar dolar AS, yang akan menciptakan dominasi pasar hingga 85% di ASEAN. Namun, merger ini menghadapi pengawasan ketat regulator terkait monopoli dan dampak sosialnya.
Dinamika persaingan Grab dan Gojek ini bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga tantangan sosial dan regulasi yang harus dikelola dengan cermat agar pertumbuhan berkelanjutan dan kesejahteraan mitra pengemudi tetap terjaga.

Ananda Astridianka
Editor
