Korporasi

Jualan Sari Roti, Perusahaan Konglomerat Anthoni Salim Raup Laba Rp215 Miliar

  • Produsen sari roti milik konglomerat Anthoni Salim, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mencatatkan laba penjualan yang stabil di tengah pandemi COVID-19. Produsen Sari Roti ini membukukan penjualan bersih konsolidasian sebesar Rp3,21 triliun, turun tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,37 triliun.

sari-roti

Sari Roti adalah produk yang dibuat PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. (ROTI). / Sariroti.com

(TrenAsia)

JAKARTA – Produsen sari roti milik konglomerat Anthoni Salim, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mencatatkan laba penjualan yang stabil di tengah pandemi COVID-19. Produsen Sari Roti ini membukukan penjualan bersih konsolidasian sebesar Rp3,21 triliun, turun tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,37 triliun.

Laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk ROTI sepanjang 2020 mencapai Rp215 miliar. Angka tersebut menurun dari tahun 2019 yang mencapai Rp301 miliar.

Kendati demikian, perusahaan masih bisa menjaga net profit margin atau rasio laba bersih di level 6,7%. 

Keuangan perusahaan juga terjaga berkat pengendalian liabilitas perusahaan sepanjang tahun lalu. Liabilitas ROTI menyusut sebesar 22,96% dari Rp1,58 triliun pada 2019 menjadi Rp1,22 triliun pada 2020.

Penjualan dari kanal modern menjadi tumpuan utama perusahaan sepanjang tahun lalu. Meski outlet penjualan terhalang pengurangan jam operasi, perusahaan masih mampu membukukan penjualan dari kanal modern sebesar Rp2,2 triliun.

Selain itu, kanal tradisional penjualan berhasil meroket 20% menjadi Rp947 miliar pada 2020. Direktur Nippon Indosari Corpindo Arlina Sofia menilainya perusahaan mampu meredam dampak pandemi COVID-19 dengan penjualan optimal pada 2020 lalu.

“Mempertimbangkan kondisi pandemi dan operasional Filipina yang hanya kontribusi 8 bulan sebelum divestasi pada September lalu, kami melihat kinerja tahun 2020 sebagai prestasi yang baik,” kata Arlina, Selasa 30 Maret 2021.

Produsen Sari Roti ini memiliki dua entitas usaha bidang makanan dan minuman di Filipina. Perusahaan memutuksan melepas 55% saham di Sarimonde Food Corporation. ROTI juga memutuskan menjual entitas usaha All Fit & Popular Foods Inc yang dibeli pada 2016 silam.

Menurut Arlina, langkah ini ditempuh agar perusahaan bisa fokus ke bisnis dalam negeri. Hal ini nampak dari aksi perusahaan yang melakukan pengeluaran untuk menambah nilai aset atau Capex sebesar Rp455 miliar pada 2020 lalu.

Arlina menilai bisnis sari roti bakal prospektif. Menurutnya, perusahaan bisa menggenjot produksi setelah pabrik sari roti di Banjarmasin mulai beroperasi mulai Februari 2021 silam. Secara keseluruhan, sari roti telah memiliki 14 pabrik yang telah beroperasi di Indonesia.

ROTI meninjau kinerja penjualan akan semakin moncer pada 2022. Pasalnya, perusahaan menargetkan pabrik ke 15 sari roti di Pekanbaru bisa beroperasi di akhir tahun ini.

“Pabrik Pekanbaru akan menjadi penutup dari rangkaian penambahan kapasitas produksi yang telah kami mulai tahun 2017. Sari Roti optimis untuk meraih potensi pertumbuhan pesat bisnis roti di Indonesia,” ujar Arlina. (SKO)