Korporasi

Daftar Saham High Dividend Teratas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Ada BBRI dan TLKM

  • Saham defensif dengan imbal hasil dividen tinggi menjadi pilihan menarik di BEI 2025, dengan sektor konsumsi, peternakan, dan telekomunikasi diuntungkan oleh stimulus pemerintah.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 4.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, saham-saham defensif dengan fundamental kuat dan imbal hasil dividen yang tinggi (high dividend yield) dapat menjadi opsi menarik bagi investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun ini. 

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan mencapai level 7.700 hingga akhir 2025, dengan sejumlah saham unggulan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Dalam riset yang dirilis oleh tim Samuel Sekuritas di Jakarta, dipaparkan bahwa kebijakan pemangkasan suku bunga BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% baru-baru ini menimbulkan tantangan tersendiri. 

“Meski bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, kebijakan ini berisiko melemahkan nilai tukar rupiah serta memicu keluarnya aliran dana asing akibat penurunan spread antara BI Rate dan Fed Funds Rate,” kata mereka dalam riset dikutip pada Selasa, 28 Januari 2025.

Samuel Sekuritas menilai, masuknya aliran dana asing ke pasar saham beberapa waktu terakhir tidak akan berlangsung lama. "Kami memprediksi aliran dana asing ini tidak bertahan lama karena risk premium masih meningkat seiring penguatan ekonomi AS dan ketidakpastian kebijakan pemerintahan negara tersebut," paparnya. 

Dari sisi kebijakan moneter AS, peluang pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini diperkirakan terbatas, hanya 25 bps, lebih rendah dibandingkan ekspektasi tahun lalu. Kondisi ini juga menyulitkan Bank Indonesia untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut, bahkan kemungkinan besar tidak akan ada penurunan suku bunga tambahan tahun ini.

Dengan latar belakang tersebut, Samuel Sekuritas merekomendasikan sektor saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan, otomotif, dan properti, dengan posisi neutral atau underweight. Di sisi lain, sektor-sektor seperti semen, teknologi, dan perbankan digital dinilai kurang menarik akibat minimnya katalis jangka pendek.

Sebaliknya, saham-saham defensif seperti konsumsi, peternakan, telekomunikasi, dan layanan kesehatan mendapat rekomendasi overweight. Sektor-sektor ini diuntungkan oleh berbagai stimulus pemerintah, seperti program makan bergizi gratis dan kenaikan upah minimum.

IHSG diperkirakan mencapai target PE sebesar 13 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata regional 13,2 kali. Pertumbuhan laba emiten di BEI tahun ini diproyeksikan hanya 7%, lebih rendah dari rata-rata regional sebesar 10,5%.

Dengan mempertimbangkan ketidakpastian global dan tantangan domestik, investor disarankan memasukkan saham defensif dan berimbal hasil dividen tinggi ke dalam portofolio mereka. Saham-saham seperti ICBP, TLKM, JPFA, HEAL, dan BBRI disebut sebagai pilihan teratas tahun ini.