Korporasi

BBRI Diburu Asing, Net Buy Tembus Rp909 Miliar, IHSG Ikut Reli

  • Aksi beli agresif terhadap BBRI turut mendorong aliran dana asing secara keseluruhan mencatatkan net buy jumbo sebesar Rp1,68 triliun di seluruh pasar. Tren ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya investor asing cenderung melakukan aksi jual bersih.
Ilustrasi Bank BRI 4.jpg
Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menjadi primadona di mata investor asing. Pada perdagangan Kamis, 15 Mei 2025, asing memborong saham BBRI senilai Rp909,9 miliar di pasar regular, menjadikannya sebagai saham dengan nilai beli bersih (net buy) terbesar hari ini.

Aksi beli agresif terhadap BBRI turut mendorong aliran dana asing secara keseluruhan mencatatkan net buy jumbo sebesar Rp1,68 triliun di seluruh pasar. Tren ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya investor asing cenderung melakukan aksi jual bersih. Kini, akumulasi net sell asing sejak awal tahun berhasil terpangkas menjadi Rp49,3 triliun.

Tak hanya BBRI, investor asing juga melanjutkan akumulasi pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp498,3 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp250,9 miliar. Sebaliknya, tekanan jual asing masih terlihat pada saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan net sell Rp117,7 miliar dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp62,9 miliar.

Aliran dana masuk ke saham-saham unggulan seperti BBRI ikut menopang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup naik 60,28 poin atau 0,86% ke level 7.040,1. Ini merupakan penguatan tiga hari beruntun yang mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar.

Perdagangan hari ini berlangsung aktif, dengan total nilai transaksi mencapai Rp16,8 triliun dan volume perdagangan mencapai 36,5 miliar saham dari 1,5 juta kali transaksi. Sebanyak 345 saham menguat, 257 melemah, dan 208 stagnan.

Sektor keuangan menjadi motor penggerak utama IHSG, mencatat kenaikan 1,4%. Sektor lainnya yang turut menguat antara lain energi (1%), properti (0,9%), barang baku (0,9%), dan infrastruktur (0,8%). Di sisi lain, sektor teknologi terkoreksi paling dalam sebesar 1,9%.

Di tengah penguatan pasar, saham-saham lapis dua dan tiga juga mencuri perhatian. Saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) melonjak 34,5% ke Rp214, sementara PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) naik 34,3% ke Rp184. Beberapa saham lainnya seperti PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) dan PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) juga menguat di atas 24%.

Namun, tak semua saham bernasib mujur. Beberapa emiten mencatat penurunan signifikan, seperti PT First Media Tbk (KBLV) yang ambrol 14,9% ke Rp74 dan PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang merosot 14,6% ke Rp111.