Kolom & Foto

Reduksi Dunia, Akibat Pergeseran Pencarian Informasi: dari Searching Engine ke Artificial Intelligence

  • Meski banyak tanggapan yang dihasilkan oleh generator teks AI akurat, namun juga sering dihasilkan tanggapan misinformasi. Sering juga jawabannya campuran antara kebenaran dengan fiksi. Dan perangkat AI tak mampu menilai informasi yang diberikannya itu.
Artificial-Intelligence-in-Indonesia-The-current-state-and-its-opportunities.jpeg

Saat penulis mencari informasi adanya atap yang roboh --di lapangan Padel Jakarta Barat-- menggunakan Copilot dengan prompt: “Atap lapangan Padel di Jakarta roboh dan menimbulkan kepanikan. Ceritakan kapan peristiwanya, bagaimana kejadiannya, di mana tempatnya, adakah korban dan apa tindakan selanjutnya?” Diperoleh jawaban ringkasnya, “Peristiwa robohnya atap lapangan Padel terjadi pada Minggu, 26 Oktober 2025 di kawasan Taman Villa Meruya, Kembangan, Jakarta Barat, akibat hujan deras dan angin kencang. Tidak ada korban jiwa, namun insiden ini menimbulkan kepanikan dan menyebabkan penutupan sementara fasilitas olahraga tersebut.” 

Selain versi ringkasnya, diperoleh informasi yang berisi uraian sesuai prompt: “Berikut kronologi dan rincian kejadian. Waktu Kejadian: Hari Minggu, 26 Oktober 2025. Terjadi saat hujan deras mengguyur Jakarta siang hingga sore hari. Tempat: Anwa Racquet Club, Taman Villa Meruya, Kembangan, Jakarta Barat. Lapangan yang terdampak adalah fasilitas olahraga Padel dan Tenis di kompleks tersebut.

Kronologi dan penyebab: cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang, menerjang wilayah Jakarta Barat. Enam atap lapangan Padel dan Tenis roboh akibat hempasan angin kuat. Saat kejadian, sedang berlangsung turnamen Padel bertajuk The Prime Tournament, yang akhirnya dihentikan. Pengunjung dan peserta turnamen sempat panik dan berlarian menjauhi lokasi. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini, menurut keterangan Kapolsek Kembangan, Kompol Taufiq. 

Tindakan Lanjutannya: penutupan sementara lapangan Padel oleh pihak pengelola untuk investigasi dan perbaikan struktur. Wali Kota Jakarta Barat --Uus Kuswanto-- meninjau lokasi dan meminta pengelola memastikan keamanan struktur bangunan ke depan. Awak media tidak diperkenankan meliput langsung di lokasi, demi kelancaran proses investigasi dan perbaikan. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya evaluasi konstruksi fasilitas olahraga, terhadap risiko cuaca ekstrem.” 

Pada bagian jawaban, juga terdapat endnotes --berupa kode angka kecil di akhir kalimat-- yang menunjukkan sumber informasi yang digunakan Copilot dalam menyusun jawabannya. Setidaknya ada 5 media konvesional yang dijadikan sebagai sumber informasi, dan dikutip secara proporsional. Saat hasil di atas dibandingkan menggunakan Google search, penulis memperoleh 8 sumber informasi terkait peristiwa itu. Berupa 6 informasi, berbentuk video dari Youtube dan TikTok. Sedangkan 2 lainnya, dalam tampilan teks. 

Untuk memperoleh kronologi peristiwanya, 8 sumber informasi itu dapat dirangkai menggunakan formula 5W + 1 H. Penggunaan formula yang sering dirujuk para jurnalis saat menuliskan berita --What, Who, When, Where, Why dan How-- menyebabkan konsumsi waktu yang lebih banyak. Ini jika dibanding menggunakan Copilot. Konsumsi waktu itulah, yang menjadi salah satu pendorong pergeseran perilaku perolehan informasi: dari searching engine ke aplikasi berbasis AI. Ini termasuk Copilot, ChatGPT, Grok Gemini, dan masih banyak lainnya. 

Seluruh pergeseran itu, terkonfirmasi dalam laporan McKinsey & Company, 2025, dalam “New Front Door to The Internet: Winning in The Age of AI Search”. Disebutkannya, pencari informasi --sebagai konsumen pemasaran-- beralih cepat ke pencarian berbasis AI. Ini digunakan untuk memandu pilihannya, mengevaluasi brand dan menemukan brand baru. Dalam realitasnya, setengah dari konsumen yang disurvei memang sengaja menggunakan mesin pencari berbasis AI. Mayoritas menjadikannya sebagai sumber digital utama, yang digunakan untuk membuat keputusan pembelian. 

Pencari informasi ini meliputi semua usia, termasuk baby boomer yang sudah mengadopsinya. Pendorong di balik bergesernya pencarian ke perangkat berbasis AI, dikemukakan Gobi Luxman, 2025, dalam “AI vs Search Engines: Coexistence, Influence, and the Future of Information Discovery”. Disebutkannya kurang lebih: selama ini, operasional mesin pencari dalam memenuhi kebutuhan informasi, dengan mengindeks halaman web dan menyusunnya berdasarkan kriteria otoritas dan relevansi. Ini artinya, informasi yang ditafsir mesin pencari sebagai “paling memenuhi kebutuhan” akan disajikan paling awal. 

Namun dengan hadirnya perangkat berbasis AI prosesnya berubah. Jawaban diberikan langsung, dan ini dapat mereduksi kebutuhan untuk mengunjungi banyak situs web. Perangkat memilah data dalam jumlah besar, dan meringkasnya sesuai kebutuhan pengguna. Saat penulis yang mencari informasi robohnya atap lapangan Padel, tidak perlu mengunjungi 8 sumber informasi. Cukup mengandalkan informasi yang telah diformulasi perangkat berbasis AI. Ini mempercepat perolehan informasi. Namun, akankah percepatan itu mengakselerasi pergeseran perilaku pencarian informasi?

Salah satu jawabannya diberikan seo.com, 2025, dalam “Will AI Replace Google? The Future of AI and Google Search”. Disebutkannya, tak kurang dari 13 juta orang dewasa di AS –sejak tahun 2023-- telah beralih ke Generative AI sebagai mesin pencari informasi. Dan angka itu terus bertambah --mencapai 90 juta di tahun 2027-- dengan pilihan terbanyaknya pada Google. Sedangkan pilihan lainnya, pada platform yang memang sejak awal dikembangkan sebagai Generative AI. Termasuk, ChatGPT, Copiilot, Gemini. Seluruhnya lantaran: pertama, tanggapan yang diberikan sesuai dengan perilaku dan harapan penggunanya. 

Perangkat berbasis AI mempelajari interaksi penggunanya secara real-time. Juga menyesuaikan hasilnya, berdasarkan kecenderungan pilihan dan perilaku pengguna. Ini menimbulkan persepsi: diri yang dipahami. Persepsi dipahami ini, ditunjang oleh kedua: respon yang cepat. Saat penulis mencari informasi menggunakan Copilot dibanding Google Search, hasil yang diberikan Copilot lebih cepat dan memuaskan. Ini kemudian mendorong penggunaannya pada alasan ketiga, interaksi pertanyaannya berformat percakapan. Seluruhnya memberi pengalaman, seakan pengguna melakukan interaksi yang alamiah. 

Adapun enabler --hal yang memungkinkan-- perangkat berbasis AI mampu menggeser posisi searching engine, diungkapkan Gisma University, 2025, dalam “How AI is Transforming Search Engines”. Disebutkannya, AI makin mampu menirukan kecerdasan manusia. Kemampuan itu dalam hal analisis data yang berjumlah sangat besar, identifikasi pola, dan prediksinya yang akurat. Akibatnya, AI makin dipercaya pencari informasi. Terlebih saat cara permintaan informasinya dipahami, juga prosesnya yang sesuai harapan. 

Seluruhnya itu tercapai dengan adanya algoritma pencarian berbasis AI. Algoritma –hasil peran deep learning dan neuron network-- yang membantu mesin pencari: menafsir bahasa alami, memprediksi maksud pencari informasi dan memberikan hasil berkualitas tinggi. Peran ini terus meningkat akurasi dan relevansinya, sebagai enabler seluruh pencapaiannya. Menjadi pertanyaan selanjutnya: dengan fenomena pergeseran cara pencarian informasi, akankah kualitas informasi yang diperoleh menjadi lebih baik atau justru sebaliknya? Ini mengingat, pencarian informasi dengan perangkat berbasis AI makin meminimalkan peran manusia. Peran dalam seleksi dan penyajian isi informasi, yang telah diambilalih mesin. 

Terhadap pertanyaan ini, salah satu jawabannya diberikan Maryland University Libraries, melalui lib.guides.umd.edu, 2025, berjudul, “Artificial Intelligence (AI) and Information Literacy”. Disebutkannya, meskipun banyak tanggapan yang dihasilkan oleh generator teks AI akurat, namun juga sering dihasilkan tanggapan misinformasi. Sering juga jawabannya campuran antara kebenaran dengan fiksi. Dan perangkat AI tak mampu menilai informasi yang diberikannya itu. Saat menerima perintah, ditanggapi dengan rangkaian kata yang menurutnya paling mungkin untuk menjawab perintah tersebut. 

Frasa “paling mungkin” ini, berimplikasi panjang. AI terkadang menghasilkan jawaban benar, tetapi terkadang juga tidak. Sementara AI pada dirinya sendiri, tak dapat membedakan keduanya. Penggunanya yang harus memilah jawaban yang benar dari yang salah. Dan ini tak mudah. Mengingat ada berbagai bentuk kesalahan yang dapat terjadi, dalam wujud: jawaban yang salah, hilangnya informasi secara tidak sengaja, menghadirkan --orang, acara, dan artikel-- yang sepenuhnya palsu dan mencampuradukkan kebenaran dengan fiksi. 

Maka --saat pengguna belum mampu memastikan jawaban AI yang benar dari yang salah-- setidaknya pemahaman adanya kemungkinan AI melakukan kesalahan, dapat memberi batasan pada penggunanya. Batasan untuk tak sepenuhnya menerima jawaban AI secara mutlak. Dalam praktiknya, batasan itu dapat diterapkan: menggunakan AI hanya di tahap awal. Bukan akhir. Dengan cara Ini, AI dengan segala keunggulan dan kelemahannya tetap diletakkan sebagai kolaborator yang memberi insiprasi, membuka wawasan atau mengarahkan orientasi pencarian informasi berikutnya. 

Alih-alih menjadikannya sebagai pemberi hasil final, yang justru dapat menyesatkan. Dalam prosesnya terlihat --saat perangkat berbasis AI memformulasi jawaban yang diberikannya— ketika sumbernya mengandung bias, misinformasi, bahkan disinformasi, formulasi jawaban yang diberikan juga akan mengandung seluruh cacat itu. Karenanya, melakukan pencarian dengan perangkat berbasis AI, bukankah justru membuka risiko: menghadirkan dunia yang telah tereduksi?

 

Tulisan kolom oleh  Dr. Firman Kurniawan 

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Pendiri LITEROS.org  

Tags: AI