Perang Timteng Apakah Berefek ke Invasi Rusia di Ukraina?
- Jika ladang minyak Iran diserang, Rusia bisa menjadi salah satu dari sedikit negara penghasil minyak yang tersisa.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Operasi gabungan AS-Israel ke Iran telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh perencanaan anggaran Rusia selama empat tahun. Yakni mendorong harga minyak mentah Rusia kembali ke tingkat yang dibutuhkan Moskow untuk mendanai perangnya melawan Ukraina
Anggaran federal Rusia tahun 2026 mengasumsikan harga minyak mentah Urals sebesar 59 dolar amerika per barel. Angka yang oleh Menteri Keuangan Anton Siluanov disebut cukup seimbang pada September lalu.
Namun kenyataannya jauh dari itu. Pada Januari harga minyak Urals telah merosot menjadi US$50-54 per barel. Pendapatan negara dari pajak industri minyak dan gas turun menjadi US$5,1 miliar. Turun dari US$14,5 miliar setahun sebelumnya. Sekaligus terendah sejak pandemi.
Kombinasi sanksi Barat, serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap kilang minyak, dan pembatasan harga mengambang baru Uni Eropa telah mendorong pendapatan minyak Rusia ke titik yang oleh analis Russia disebut sebagai "titik terlemah" Moskow dalam negosiasi perang.
Kemudian bom-bom berjatuhan di Teheran. Minyak mentah Brent melonjak 13% menjadi US$82 per barel . Tertinggi sejak Januari 2025. Minyak Urals menyusul yakni mencapai US$59,8 . Level tertinggi sejak 2024 dan tepat pada asumsi anggaran Kremlin.
Utusan Kremlin Kirill Dmitriev memposting di X harga minyak akan segera mencapai US$100 per barel. Sejumlah pengamat Rusia menilai serangan terhadap Iran adalah keuntungan besar bagi Rusia. Jika ladang minyak Iran dihantam, Rusia dapat menjadi salah satu dari sedikit negara penghasil minyak yang tersisa.
Baca juga:Perang Timur Tengah Berkobar, Harga Pertalite Bisa Rp18.000
Tekanan Pada Anggaran
Perhitungan anggaran Moskow menjadi lebih baik dengan sendirinya. Sebelum serangan Iran, Rusia mengalami kerugian pendapatan yang besar. Defisit anggaran negara pada tahun 2025 mencapai US$$73 miliar. Trbesar setidaknya sejak tahun 1996 dan hampir dua kali lipat dari target semula.
Dana Kekayaan Nasional, yang dimaksudkan untuk menutupi kekurangan semacam ini telah menyusut dari US$113 miliar sebelum invasi menjadi US$52,2 miliar. Analis Gazprombank memperingatkan bahwa dana tersebut dapat habis dalam waktu satu tahun.
Perang Iran mengubah arah tersebut. Analis JPMorgan memperkirakan bahwa produsen Teluk memiliki kapasitas penyimpanan darat sekitar 25 hari sebelum penutupan Selat Hormuz memaksa penghentian produksi wajib.
Lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut praktis terhenti dengan arus ekspor pada 28 Februari turun menjadi sekitar 4 juta barel. kira-kira seperempat dari tingkat harian normal. Jika gangguan berlanjut Deutsche Bank memproyeksikan Brent dapat mencapai US$120. Dalam skenario terburuk jika terjadi penutupan total. Sementara JPMorgan memperkirakan akan mencapai US$200.
Lonjakan harga hanyalah setengah dari keuntungan tak terduga. Pergeseran permintaan memperparahnya. Kilang-kilang kecil dan menengah independen China mengimpor sekitar 99% ekspor minyak mentah Iran. Kira-kira 13% dari impor minyak mentah China melalui jalur laut pada tahun 2025. Dengan terganggunya pengiriman tersebut Rusia akan diuntungkan karena permintaan India dan China kemungkinan akan beralih ke minyak Urals yang didiskon besar-besaran. situasi yang akan mengurangi tekanan pada Kremlin akibat penurunan harga minyak mentah.
Perusahaan intelijen komoditas Kpler menilai konflik tersebut secara signifikan meningkatkan posisi kompetitif Rusia di pasar minyak mentah. India yang telah mulai mengurangi pembelian minyak Rusia di bawah tekanan AS juga mempertimbangkan untuk melanjutkan pembelian minyak Ural.
Serangan pesawat tak berawak Ukraina telah merusak kilang minyak sepanjang tahun 2025. Pendapatan minyak Rusia pada Januari 2026 telah anjlok 46% dibandingkan Januari 2025. Uni Eropa telah memperketat batas harga dengan mekanisme mengambang baru yang ditetapkan 15% di bawah rata-rata 22 minggu.
Jika Selat Hormuz tetap terganggu, tekanan kepada Rusia yang telah dibangun selama bertahun-tahun akan melemah. Ini karena kenaikan harga global yang didorong oleh konflik Teluk. Dengan kata lain Rusia adalah pihak yang sangat diuntungkan dari perang di Timur Tengah. Artinya Rusia akan mendapatkan dana besar untuk membiayai invasinya ke Ukraina.

Chrisna Chanis Cara
Editor
