Kolom & Foto

Menengok Pembuatan Dodol Betawi Jelang Lebaran

  • Ramadan dan Idul Fitri tidak hanya momentum masya­ra­kat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Momentum ini menjadi keberkahan bagi para pedagang, khususny
Pengrajin Dodol Jelang Lebaran - Panji 1.jpg
Nampak sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan dodol Betawi jelang Hari Raya di tempat produksi dodol Sari Rasa Ibu Yuyun dikawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

Ramadan dan Idul Fitri tidak hanya momentum masya­ra­kat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Momentum ini menjadi keberkahan bagi para pedagang, khususnya makanan. Pasalnya Ramadan dan Lebaran menjadi perayaan para pecinta kuliner. Salah satu yang cukup dirindukan yakni dodol Betawi. 

Sesuai namanya, kudapan ini menjadi menu wajib masyarakat Betawi. Rasa manisnya yang khas dinilai cocok untuk menemani kehangatan kumpul keluarga baik saat berbuka atau halal bihalal. Tak heran jika dodol Betawi masih berjaya di tengah terpaan makanan kekinian. Pondok dodol Sari Rasa contohnya, sejak awal Ramadan kebanjiran pesanan. 

Pesanan dodol Betawi terus meningkat seiring kebutuhan untuk Idul fitri. Dodol Betawi memiliki tekstur menyerupai kue keranjang atau dodol Cina. War­nanya coklat gelap, ­ke­nyal tetapi tetap lembut. Hanya saja dodol Betawi biasanya dikemas memanjang seperti dodol Duren khas Lampung. 

Rasanya pun yang lebih gurih karena mengandung kelapa. Selain tepung beras dan gula merah, kelapa merupakan bahan baku utama dodol Betawi. Hal yang membedakan lainnya yakni cara pembuat­annya yang membutuhkan tenaga ekstra. Dodol Betawi dimasak di atas kuali dengan tungku yang menggunakan kayu bakar. Sepanjang pemasakan, adonan dodol ha­rus diaduk. Proses ini yang membutuhkan tenaga lebih karena waktu pemasakannya sendiri mencapai 10 jam.

Foto : Panji Asmoro/TrenAsia