Tren Ekbis

Jangan Senang Dulu, Ini 3 PR Besar Indonesia Menuju Negara Berpendapatan Tinggi

  • JAKARTA – Di bawah bayang-bayang resesi ekonomi, Indonesia justru mendapat suntikan semangat lewat pengumuman Bank Dunia (World Bank) yang menaikkan...

JAKARTA – Di bawah bayang-bayang resesi ekonomi, Indonesia justru mendapat suntikan semangat lewat pengumuman Bank Dunia (World Bank) yang menaikkan peringkat Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah ke atas.

Untuk selanjutnya naik ke kelompok negara berpendapatan tinggi, Indonesia menghadapi tiga tantangan terbesar. Pertama, penguatan sumber daya manusia (SDM) yang sehat dan berdaya saing global. Kedua, penguasaan teknologi, dan ketiga, mempersempit ketimpangan sosial ekonomi masyarakat.

“Berdasarkan pengalaman ratusan tahun perjalanan banyak negara, ketiga faktor itulah yang paling dominan dalam memuluskan pendakian mencapai puncak: negara maju,” tulis ekonom, Faisal Basri di laman resminya, Jumat, 9 Juli 2020.

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan Indonesia akan menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2043. Tepatnya, dua tahun sebelum perayaan 100 tahun usia Indonesia pada 2045.

Dengan kata lain, Indonesia butuh 23 tahun untuk mengentaskan tiga problem utama jebakan negara berpendapatan menengah seperti yang diprediksi OECD. Belajar dari naiknya peringkat Indonesia dari negara berpendapatan menengah ke bawah, Indonesia butuh 23 tahun sampai berada di kelompok negara berpendapatan menengah ke atas.

Potensi Turun Kelas

Dengan kondisi ekonomi yang terkontraksi cukup dalam saat ini, Faisal menyebut sebuah negara termasuk Indonesia sangat mungkin untuk turun peringkat. Penyebabnya, karena perekonomian Indonesia mungkin belum sepenuhnya pulih pada 2021.

Faktor lainnya adalah kemerosotan nilai tukar rupiah dan ancaman inflasi karena peningkatan jumlah uang beredar akibat “cetak uang”.

Kesempatan Indonesia naik peringkat sebetulnya datang pada 2018, karena gross national income (GNI) Indonesia sudah mencapai US$3.850. Sayangnya, nilai tukar rupiah kala itu lemah dan pertumbuhan ekonomi juga tidak mampu mendongkrak peringkat.

Pada 2019, meskipun pertumbuhan ekonomi tidak tumbuh signifikan, nilai tukar rupiah yang kuat mendorong masuknya Indonesia ke dalam negara berpendapatan menengah ke atas, dengan GNI per kapita naik menjadi US$4.050.

Angka ini US$4 lebih banyak dari batas bawah kelompok negara berpendapatan menengah ke atas dan US$5 lebih tinggi dari batas atas kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah.

Negara Lain

Tahun lalu, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang berhasil naik peringkat dari kelompok berpendapatan menengah ke bawah menjadi menengah ke atas. Di kelompok lainnya, Benin, Nepal, dan Tanzania juga berhasil naik dari negara berpendapatan rendah menjadi berpendapatan menengah ke bawah.

Di sisi lain, Aljazair dan Sri Langka justru turun dari negara berpendapatan menengah ke atas menjadi menengah ke bawah dan Sudah turun dari negara berpendapatan menengah ke bawah menjadi negara berpendapatan rendah.

“Persembahan istimewa untuk generasi mendatang harus kita siapkan dari sekarang dengan kerja keras, segera menghimpun segala potensi yang berserakan, dan kembali ke jatidiri sebagai negara maritim,” tukas Faisal.