Sektor Pariwisata Belum Pulih, Ekonomi Thailand Terkontraksi 2,6 Persen
Sektor pariwisata yang belum pulih membuat ekonomi Thailand ambruk di angka minus 2,6% year on year (yoy) pada kuartal I-2021. Kendati demikian, ekonomi Thailand tumbuh 0,2% bila dilihat secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

Muhamad Arfan Septiawan
Author


Wisata Thailand. / Pixabay
(Istimewa)JAKARTA – Sektor pariwisata yang belum pulih membuat ekonomi Thailand terpuruk di angka minus 2,6% year on year (yoy) pada kuartal I-2021. Kendati demikian, ekonomi Thailand tumbuh 0,2% bila dilihat secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).
Realisasi ekonomi Thailand melampaui survei yang dilakukan Reuters. Dalam surveinya, Reuters meramal ekonomi Thailand bakal terkontraksi lebih dalam, yakni 3,9% yoy.
Meski masih jauh dari zona netral, sejumlah indikator telah menunjukan adanya perbaikan di negeri Gajah Putih. Sektor manufaktur Thailand tumbuh 0,7% yoy. Lalu, Investasi yang masuk ke Thailand naik 7,3% yoy serta ekspor yang merangkak naik 5,3% yoy.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Ekonomi yang ditopang oleh sektor pariwisata ini belum bergeliat kembali imbas dari merosotnya jumlah wisatawan asing hingga 99,7%.
Sektor akomodasi dan makanan anjlok 35% pada kuartal I-2021. Otoritas setempat memperkirakan kedatangan wisatawan asing tidak akan pulih pada tahun ini.
Jumlah wisatawan asing ke Thailand diperkirakan hanya 500.000 orang tahun ini. Padahal, pada awal 2021, Thailand sempat menaruh proyeksi wisatawan asing di angka 3,2 juta orang.
Dewan Ekonomi dan Pembangunan Sosial Thailand (NESDC) pun mendorong target pertumbuhan ekspor 10,3% demi melepaskan Thailand dari resesi ekonomi.
Penyebaran virus COVID-19 gelombang kedua di sejumlah negara membuat Thailand pun realistis menatap target pertumbuhan ekonomi pada 2021. Otoritas setempat menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahunan Thailand dari 2,5%-3,2% menjadi 1,5%-2,5%.
NESDC mengungkapkan bakal fokus membenahi konsumsi masyarakat yang ambruk akibat pandemi COVID-19. Pemerintah Thailand pun menyiapkan stimulus sebesar 255 miliar bath atau Rp116,02 triliun (Asumsi kurs Rp455 per bath) untuk penanganan pandemi COVID-19 dan pemulihan ekonomi.
Thailand pun bersanding dengan Filipina sebagai negara di Asia Tenggara yang ekonominya masih jauh dari zona positif pada kuartal I-2021. Sebelumnya, otoritas setempat mengumumkan ekonomi Filipina terkontraksi 4,2% yoy.
Sementara itu, Malaysia dan Indonesia kompak mendekati zona netral pada kuartal I-2021. Meski masih resesi, ekonomi Malaysia dan Indonesia lebih baik dengan terkontraksi 0,5% yoy dan 0,74% yoy.
