Dunia

Rusia Dituduh Gunakan Bom Ledak Ilegal di Ukraina

  • Menurut penelitian terbaru oleh Amnesty International, Rusia telah melakukan menggunakan bom klaster/munisi tandan yang dilarang untuk membunuh ratusan warga sipil di Kharkiv, Ukraina.
Rusia dituduh menggunakan jenis bom ilegal yang membahayakan warga sipil dalam invasinya ke Ukraina.
Rusia dituduh menggunakan jenis bom ilegal yang membahayakan warga sipil dalam invasinya ke Ukraina. (BBC)

KHARKIV - Menurut penelitian terbaru oleh Amnesty International, Rusia telah melakukan menggunakan bom klaster/munisi tandan yang dilarang untuk membunuh ratusan warga sipil di Kharkiv, Ukraina.

Menurut organisasi non-pemerintah itu, ditemukan banyak bukti yang menunjukkan penggunaan bom ledak 9N210/9N235. 

Penggunaan munisi tandan dianggap kontroversial karena senjata itu meledak di udara dan menyebarkan bom lebih kecil dalam jangkauan lebih luas, seperti dikutip dari BBC. Karena penyebarannya yang tidak tentu, ledakan dari bom ini akan membahayakan warga sipil.

Lebih dari 120 negara telah menandatangani perjanjian untuk tidak menggunakan bom itu, meskipun Rusia dan Ukraina tidak termasuk. 

Menurut penyelidikan Amnesty, ditemukan bukti efek ledak yang dihasilkan dari munisi jenis itu di lima titik di lingkungan perumahan di Kharkiv.

Sebuah rekaman CCTV yang diterima juga menunjukkan ledakan-ledakan berurutan. 

“Ini merupakan indikator yang sangat kuat dari bagian dari senjata klaster,” ujar Hamish de Bretton Gordon, mantan kolonel Angkatan Darat Inggris dan pakar senjata Universitas Cambridge.

Dalam sebuah serangan yang terjadi di sekitar perumahan dan taman bermain di Industrialnyi, sisa pecahan bom masih terlihat. Ledakan itu membunuh setidaknya Sembilan orang dan melukai 35 orang, dengan ledakan yang mencakup 700 meter persegi, menurut Amnesty. 

Menurut dokter yang menangani korban ledakan di Industrialnyi, mereka mendapati adanya luka tembus di perut, dada, dan punggung. Pecahan logam yang ditemukan juga cocok dengan bagian munisi tandan 9N210/9N235.

Sementara itu, ditemukan ledakan lainnya di depan bangunan tempat tinggal di Haribaldi Street, Kharkiv. Terdapat dua korban meninggal dan luka-luka pada penghuni lainnya.  

Secara keseluruhan penelitian dua minggu, Amnesty menemukan 41 ledakan munisi tandan di Kharkiv yang membunuh 62 warga dan melukai 196 lainnya. 

Selain itu, ada beberapa bom yang tidak langsung meledak dan menjadi ancaman yang akan terus menerus ada dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. 

“Penggunaan senjata itu sama saja dengan sengaja menargetkan warga sipil. Rusia tidak dapat mengklaim bahwa mereka tidak mengetahui efek dari jenis senjata ini,” kata penasihat tanggap krisis senior Amnesty, Donatella Rover. 

Ia menambahkan bahwa penggunaannya menunjukkan pengabaian mutlak terhadap warga sipil.

Sebelumnya Rusia telah membantah penggunaan bom ledak klaster di Ukraina dan meyakinkan bahwa mereka hanya menyerang target militer.