Dunia

AS Ingin Kenakan Tarif hingga 3.500% pada Panel Surya dari Asia Tenggara

  • Tarif yang diumumkan Senin 21 April 2025 sangat bervariasi tergantung pada perusahaan dan negara tetapi secara umum lebih tinggi daripada bea awal yang diumumkan akhir tahun lalu.
serial-cop26-strategi-pln-lakukan-dekarbonisasi-untuk-capai-carbon-neutral-2060-2.jpg
Ilustrasi pemasangan panel surya untuk mendukung dekarbonisasi. (PLN)

WASHINGTON- Pejabat perdagangan Amerika menetapkan tarif tinggi untuk sebagian besar sel surya dari Asia Tenggara. Sebuah langkah penting dalam menyelesaikan kasus perdagangan yang telah berlangsung setahun di mana produsen Amerika menuduh perusahaan China membanjiri pasar dengan barang-barang murah yang tidak adil.

Kasus tersebut diajukan tahun lalu oleh Hanwha Qcells Korea, First Solar Inc yang berkantor pusat di Arizona dan beberapa produsen kecil yang berupaya melindungi investasi miliaran dolar dalam manufaktur solar AS.

Kelompok pemohon Komite Perdagangan Aliansi Amerika untuk Manufaktur Tenaga Surya menuduh produsen panel surya besar China mengirimkan panel dengan harga di bawah biaya produksi, dan menerima subsidi tidak adil yang membuat barang-barang Amerika tidak kompetitif. Produsen China ini memiliki pabrik solar sel di Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam

Agar tarif dapat difinalisasi, Komisi Perdagangan Internasional harus memberikan suara pada bulan Juni mengenai apakah industri tersebut dirugikan secara material oleh impor yang disubsidi dan didumping.

Tarif yang diumumkan  Senin 21 April 2025 sangat bervariasi tergantung pada perusahaan dan negara tetapi secara umum lebih tinggi daripada bea awal yang diumumkan akhir tahun lalu.

Gabungan bea dumping dan bea masuk imbalan atas produk Jinko Solar dari Malaysia termasuk yang terendah, yakni sebesar 41,56%. Produk pesaingnya, Trina Solar, yang beroperasi di Thailand, dikenakan bea masuk sebesar 375,19%.

Presiden Donald Trump telah berulang kali mengklaim bahwa negara-negara lain telah “merampok” Amerika Serikat selama bertahun-tahun, meskipun tingkat pertumbuhan Amerika telah membuat iri negara-negara maju.

Produk dari Kamboja akan menghadapi bea masuk lebih dari 3.500% karena produsennya memilih untuk tidak bekerja sama dengan penyelidikan AS.

"Ini adalah hasil yang sangat kuat," kata Tim Brightbill, seorang pengacara untuk kelompok manufaktur AS dikutip Reuters. 

"Kami yakin bahwa mereka akan mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil dari perusahaan-perusahaan milik China di keempat negara ini, yang telah merugikan industri manufaktur tenaga surya AS terlalu lama."

Ancaman tarif pada negara-negara yang memasok lebih dari US$10 miliar produk solar ke Amerika Serikat tahun lalu. Ini yang mencakup sebagian besar pasokan domestik, telah menyebabkan perubahan dramatis dalam perdagangan solar global. Impor dari empat negara yang menjadi target tahun ini hanya sebagian kecil dari tahun lalu, sementara pengiriman panel dari negara-negara seperti Laos dan Indonesia terus meningkat.

Kritikus upaya tersebut, termasuk kelompok dagang Asosiasi Industri Energi Surya, mengatakan tarif akan merugikan produsen surya AS karena akan menaikkan harga sel impor yang dirakit menjadi panel oleh pabrik-pabrik Amerika. Fasilitas tersebut telah meningkat sejak subsidi baru untuk manufaktur energi bersih dibuat pada tahun 2022.