Nasional & Internasional

Hingga Mei 2021, Metland (MTLA) Baru Serap Capex Rp88 Miliar

  • Hingga Mei 2021, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland baru menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp88 miliar. Serapan capex...

JAKARTA – Hingga Mei 2021, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland baru menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp88 miliar. Serapan capex tersebut baru mencapai 16% dari alokasi capex Metland tahun ini yang sebesar Rp550 miliar.

“Penyerapan capex paling besar dari akuisisi lahan baru mencapai sekitar Rp33 miliar,” ujar Direktur MTLA Olivia Surodjo dalam konferensi pers usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), Senin, 14 Juni 2021.

Olivia menjelaskan akuisisi lahan memang jadi fokus utama penyerapan capex tahun ini. Pihaknya mengalokasikan Rp205 miliar dari total capex untuk akuisisi lahan. Sementara itu, Rp190 miliar akan digunakan untuk keperluan infrastruktur dan sisanya penyelesaian proyek investasi.

“Kami mostly akan melakukan akuisisi lahan yang sudah existing ada di proyek kami. Jadi, kami melakukan pembulatan,” katanya.

Akuisisi lahan ini contohnya seperti proyek Metland di Cibitung, Kertajati, dan lain-lain. Sebagai informasi, Metland memiliki proyek rumah tapak di Cibitung dan Hotel Horison di Kertajati.

Tahun lalu, Metland berhasil menyalurkan capex sekitar Rp210 miliar. Jumlah penyaluran ini jauh dari target awal sebelum pandemi. Olivia mengatakan pandemi sempat membuat prioritas perusahaan berubah.

“Ada beberapa proyek yang tadinya hendak kita bangun tahun kemarin, kita geser pembangunannya di 2021 dan 2022,” ujarnya.

Dari total penggunaan capex Rp210 miliar, keperluan infrastruktur menyerap capex terbesar yaitu Rp86 miliar. Sementara itu, Rp43 miliar digunakan untuk akuisisi lahan dan sisanya untuk proyek-proyek yang sudah ada.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan, Metland meraup pendapatan sebesar Rp1,11 triliun di 2020. Angka ini turun 20,88% dari pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,4 triliun.

Sementara itu, beban pokok pendapatan dan beban langsung ikut turun 14,37% menjadi Rp524,9 miliar dari sebelumnya Rp613,04 miliar. Dengan begitu, laba kotor pun turun 25,92% menjadi Rp585,74 miliar dari sebelumnya Rp790,72 miliar.

Adapun, laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok 44,08% menjadi Rp272,3 miliar dari sebelumnya Rp486,97 miliar. (LRD)