Dunia

Hampir Samai Joseph Stalin, Putin Bisa Berkuasa Hingga 2036

  • MOSKOW-Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin 5 April 2021 waktu Rusia menandatangani undang-undang yang membuatnya bisa berkuasa hingga 2036. Jika hal itu terjadi, Putin akan menjabat selama 24 tahun berturut-turut. Pemungutan suara Juli lalu mendukung ketentuan yang akan mengatur ulang masa jabatan Putin menjadi nol hingga  memungkinkan dia mencalonkan diri sebagai presiden dua kali lagi. […]

AZ

AZ

Author

<p>Presiden Rusia Vladimir Putin/TASS</p>

Presiden Rusia Vladimir Putin/TASS

(Istimewa)

MOSKOW-Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin 5 April 2021 waktu Rusia menandatangani undang-undang yang membuatnya bisa berkuasa hingga 2036. Jika hal itu terjadi, Putin akan menjabat selama 24 tahun berturut-turut.

Pemungutan suara Juli lalu mendukung ketentuan yang akan mengatur ulang masa jabatan Putin menjadi nol hingga  memungkinkan dia mencalonkan diri sebagai presiden dua kali lagi. Masa jabatan presiden di Rusia adalah enam tahun.

Undang-undang tersebut disetujui oleh badan legislatif yang dikendalikan Kremlin dan ditandatangani menjadi undang-undang oleh Putin, kemudian diposting di portal resmi informasi hukum Rusia pada Senin.

Presiden Rusia berusia 68 tahun itu telah berkuasa selama lebih dari dua dekade. Dia menjabat sebagai presiden dari tahun 2000 hingga 2008; perdana menteri dari 2008 hingga 2012; dan presiden lagi dari tahun 2012 hingga sekarang.

Dia adalah orang kedua setelah Joseph Stalin dalam hal berapa lama memegang kendali pemerintah Rusia. Stalin menjadi pemimpin Soviet pada 1927 hingga 1953 atau 26 tahun. Putin mengatakan dia akan memutuskan nanti apakah akan mencalonkan diri pada 2024 setelah masa jabatannya saat ini berakhir.

Ketuhanan Jadi Nilai Inti

Sebagaimana dilaporkan TASS Rusia, amandemen konstitusi juga menekankan keutamaan hukum Rusia atas norma-norma internasional, melarang pernikahan sesama jenis dan menyebutkan “kepercayaan pada Tuhan” sebagai nilai inti. Hampir 78 persen pemilih menyetujui amandemen konstitusi selama pemungutan suara yang berlangsung selama seminggu dan berakhir pada 1 Juli 2020. Jumlah pemilih adalah 68 persen.

Setelah pemungutan suara, anggota parlemen Rusia secara metodis memodifikasi undang-undang nasional, menyetujui undang-undang yang relevan.

Pihak oposisi mengkritik pemungutan suara dengan alasan bahwa hal itu ternoda oleh laporan luas tentang tekanan terhadap pemilih dan penyimpangan lainnya, serta kurangnya transparansi dan rintangan yang menghalangi pemantauan independen.

Dalam beberapa bulan sejak pemungutan suara, Rusia telah memenjarakan tokoh oposisi paling terkemuka di negara itu, Alexei Navalny.

Navalny yang berusia 44 tahun ditangkap pada Januari sekembalinya dari Jerman, di mana dia menghabiskan lima bulan untuk memulihkan diri dari keracunan zat saraf. Dia menuduh hal itu karena tindakan Kremlin. Otoritas Rusia telah menolak tuduhan tersebut.

Pada bulan Februari, Navalny dijatuhi hukuman 2,5  tahun penjara karena melanggar ketentuan masa percobaannya saat menjalani pemulihan di Jerman. Hukuman itu berasal dari dakwaan penggelapan tahun 2014 yang disebut Navalny dibuat-buat. Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan vonis itu melanggar hukum.