Fintech

Skenario Terbaik dan Terburuk Bitcoin Atas Rilis Data Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga AS

  • Perilisan data inflasi AS dan penetapan kebijakan suku bunga The Fed menjadi dua peristiwa penting untuk pasar keuangan yang pada gilirannya dapat berdampak pula pada kinerja aset kripto.
Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Pixabay.com (Pixabay.com)

JAKARTA - Trader Tokocrypto Afid Sugiono memaparkan skenario terbaik dan terburuk untuk Bitcoin setelah perilisan data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk bulan November dan penetapan kebijakan suku bunga dari bank sentral The Federal Reserve (The Fed) periode Desember 2022.

Perilisan data inflasi AS dan penetapan kebijakan suku bunga The Fed menjadi dua peristiwa penting untuk pasar keuangan yang pada gilirannya dapat berdampak pula pada kinerja aset kripto.

Afid mengatakan, saat ini tampaknya para investor aset kripto sedang mengantisipasi perilisan laporan data inflasi AS yang diproyeksikan mulai membaik.

Selain data inflasi, rapat Federal open Market Committee (FOMC) soal kebijakan suku bunga pun akan menjadi perhatian para investor.

"Kedua peristiwa penting ini yang membuat investor dan trader tampak mencoba untuk mengambil keuntungan terlebih dahulu sebelum terjadi volatilitas yang tinggi," ungkap Afid dikutip dari riset mingguan, Selasa, 13 Desember 2022.

Afid menambahkan, apabila data inflasi menunjukkan perkembangan di luar ekspetasi atau bahkan tidak terjadi penurunan sama sekali, maka pasar kripto akan terhantam oleh sentimen negatif.

Data yang lebih buruk dari perkiraan dapat meningkatkan ekspetasi atas sikap agresif The Fed dalam mengerek suku bunga dan pada gilirannya dapat menghambat kinerja aset berisiko, termasuk kripto.

Afid pun mengungkapkan bagaimana data inflasi AS dan penetapan suku bunga dapat memicu skenario terbaik sekaligus terburuk untuk aset kripto Bitcoin.

"Dengan menunggu perilisan data inflasi dan suku bunga yang membaik, kemungkinan volatilitas Bitcoin diharapkan bisa kembali menembus US$17.000 (Rp265,91 juta dalam asumsi kurs Rp15.642 perdolar AS) dan naik menuju US$19.000 (Rp297,19 juta). Namun, jika hasilnya memburuk, ada kemungkinan akan menghadapi penurunan kembali menuju US$15.000 (Rp234,6 juta)," kata Afid.

Menurut analisis yang dilakukan Afid dari segi teknikal, Bitcoin saat ini masih berada di jalur mendatar atau sideways.

Dalam waktu terdekat, Bitcoin diperkirakan Afid dapat terperosok ke tren bearish apabila nilainya menembus batas bawah US$16.678 (Rp260,8 juta).

Sementara itu, Bitcoin diprediksi Afid bisa masuk ke tren bullish apabila harganya menembus level resistance di kisaran US$17.622 (Rp275,64 juta).