Fintech

Kekhawatiran Kebijakan Tarif Trump Mereda, Bitcoin Bisa Tembus US$100.000?

  • Setelah sempat melemah hingga menyentuh US$75.000 pada 7 April, Bitcoin mengalami pembalikan tren. Dalam tujuh hari terakhir, BTC menguat sekitar 8%, dan kini diperdagangkan di kisaran US$95.500, level tertinggi sejak Februari 2025.
closeup-golden-bitcoins-dark-reflective-surface-histogram-decreasing-crypto.jpg
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Freepik)

JAKARTA - Harga Bitcoin kembali mencatatkan penguatan signifikan. Mata uang kripto terbesar di dunia ini menembus level US$95.000, didorong oleh aliran dana masuk (inflow) yang tinggi ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin dan meredanya kekhawatiran terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Berdasarkan catatan Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha, lonjakan harga Bitcoin kali ini mencerminkan kembalinya kepercayaan pasar terhadap aset digital. “Bitcoin kembali menguat, menembus level US$95.000 setelah ETF Bitcoin membukukan inflow terbesar sejak Desember lalu,” ungkap Panji melalui hasil riset yang diterima TrenAsia, Rabu, 30 April 2025.

Inflow ETF Bitcoin Sentuh Lebih dari US$3 Miliar

Mengutip data dari SoSoValue, total inflow ke 12 ETF Bitcoin yang diperdagangkan di bursa mencapai lebih dari US$3 miliar hanya dalam sepekan terakhir. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya minat institusional terhadap Bitcoin sebagai aset investasi di tengah ketidakpastian pasar global.

ETF Bitcoin yang mencerminkan harga aset digital ini sering dijadikan indikator sentimen investor terhadap kripto. Menurut Panji, “Arus masuk dana yang besar menunjukkan optimisme terhadap masa depan Bitcoin di tengah ketidakpastian geopolitik.”

Tren Kenaikan Bitcoin Didukung Pemulihan Pasar Kripto

Setelah sempat melemah hingga menyentuh US$75.000 pada 7 April, Bitcoin mengalami pembalikan tren. Dalam tujuh hari terakhir, BTC menguat sekitar 8%, dan kini diperdagangkan di kisaran US$95.500, level tertinggi sejak Februari 2025.

Tidak hanya Bitcoin, aset kripto lainnya juga menunjukkan tren pemulihan. Dalam sepekan terakhir, Ethereum naik 11%, XRP menguat 9%, dan Solana menanjak 8%, menandakan perbaikan sentimen secara menyeluruh di pasar kripto.

Dampak Kebijakan Tarif Trump terhadap Pasar Aset

Di awal bulan ini, pengumuman kebijakan tarif baru oleh Presiden Trump sempat menimbulkan gejolak di pasar finansial, termasuk saham dan kripto. Namun situasi mulai membaik setelah Trump mengumumkan penangguhan sebagian besar tarif selama 90 hari, kecuali terhadap produk dari Tiongkok.

Langkah ini disambut positif oleh pelaku pasar, dan sejak saat itu Bitcoin telah menguat sekitar 14%. Kinerja tersebut memperkuat posisi BTC sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Kripto Bisa Jadi Strategi Efisien Pajak dan Pembayaran Internasional bagi Pelaku Usaha

Data Makroekonomi Pekan Ini Jadi Sorotan Pasar

Selain perkembangan dari pasar kripto, investor juga tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset digital.

  • 29 April: Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang akan mengindikasikan dampak perang dagang terhadap sektor ketenagakerjaan AS.
  • 30 April: Proyeksi Core PCE (Personal Consumption Expenditures) sebagai barometer laju inflasi AS.
  • 1 Mei: Rilis data ISM Manufacturing PMI yang akan mengukur tingkat kepercayaan bisnis.
  • 2 Mei: Laporan ketenagakerjaan yang krusial untuk membaca tren pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian pasar.

Inflasi AS Turun, Trump Desak Penurunan Suku Bunga

Sejak menjabat kembali, Trump mengklaim keberhasilan dalam menurunkan inflasi AS. Berdasarkan data dari TradingEconomics, laju inflasi AS telah menurun tajam dari puncak 9,1% pada 2022 menjadi 2,4% pada Maret 2025.

Namun, di sisi lain, Trump tetap mendorong penerapan tarif sebagai kebijakan proteksionis, meskipun para ekonom memperingatkan bahwa langkah ini bisa memicu kenaikan harga secara tidak langsung.

Sebagai respon terhadap inflasi yang melandai, Trump semakin vokal mendorong pemangkasan suku bunga. Namun, data dari CME FedWatch menunjukkan bahwa sebesar 90,1% pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya yang dijadwalkan pada 7 Mei 2025.

Data On-Chain Perkuat Sinyal Bullish Bitcoin

Sentimen positif juga diperkuat oleh data on-chain yang menunjukkan peningkatan aktivitas penyimpanan Bitcoin di wallet pribadi. Berdasarkan data dari CryptoQuant, sejak seruan Trump untuk pemangkasan suku bunga, investor menarik lebih dari US$4 miliar Bitcoin dari berbagai platform exchange.

Total simpanan Bitcoin di bursa pun menurun, dari US$237,8 miliar pada 22 April menjadi US$233,8 miliar saat ini. “Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak investor memilih untuk mengamankan Bitcoin mereka di wallet pribadi, mengurangi tekanan jual di pasar,” jelas Panji.

Menurutnya, ketika pasokan Bitcoin di exchange semakin berkurang dan permintaan tetap tinggi, maka prospek Bitcoin menuju level psikologis US$100.000 semakin terbuka lebar.