Fintech

Harga Ethereum Melonjak 40 Persen saat Bitcoin Turun, Ini Penyebabnya

  • Sementara Bitcoin mulai melemah secara momentum, Ethereum (ETH) justru tampil menggila. Sepanjang bulan Mei 2025, ETH tercatat menguat hingga +40,85%, dari level US$1.753 ke US$2.784.
mata uang kripto ethereum

mata uang kripto ethereum / pixabay.com

(pixabay.com)

JAKARTA – Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$111.971 selama Mei 2025, harga Bitcoin (BTC) kini memasuki fase konsolidasi. Fase ini menjadi "napas sejenak" usai reli signifikan yang bikin euforia pasar melonjak. Saat artikel ini ditulis, BTC bergerak di kisaran antara US$104.000 hingga US$109.000.

Fase konsolidasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi, apalagi setelah lonjakan harga yang cepat. Namun, ada sejumlah faktor yang ikut memengaruhi pergerakan harga, mulai dari arus keluar di ETF hingga sentimen makroekonomi AS yang mulai goyah.

Salah satu alasan koreksi harga BTC berasal dari arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin. Berdasarkan data dari SoSoValue, selama periode perdagangan antara 27–30 Mei 2025, total arus keluar bersih mencapai US$157 juta.

Meski begitu, secara keseluruhan nilai aset bersih (net asset value/NAV) dari seluruh ETF spot Bitcoin saat ini masih cukup solid, yakni sebesar US$126,15 miliar, atau setara 6,07% dari kapitalisasi pasar Bitcoin global. Total arus masuk kumulatif secara historis juga mencatatkan angka yang tinggi: US$44,37 miliar, mengindikasikan bahwa ketertarikan investor institusional terhadap BTC masih cukup kuat.

Ethereum Bikin Kejutan: Naik 40% dan ETF-nya Diserbu Investor

Sementara Bitcoin mulai melemah secara momentum, Ethereum (ETH) justru tampil menggila. Sepanjang bulan Mei 2025, ETH tercatat menguat hingga +40,85%, dari level US$1.753 ke US$2.784.

Menurut Panji Yudha, Financial Expert dari Ajaib, performa luar biasa Ethereum ini tidak hanya didorong oleh faktor harga, tapi juga oleh meningkatnya minat terhadap produk investasi berbasis ETH.

Data dari SoSoValue mencatat, pada periode 27–30 Mei, ETF spot Ethereum di AS mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$286 juta, menjadi minggu ketiga berturut-turut dengan inflow positif tertinggi sejak Desember 2024.

NAV ETF Ethereum saat ini berada di US$9,45 miliar, atau 3,04% dari market cap ETH secara keseluruhan. Total arus masuk kumulatif sejak awal peluncurannya juga mencapai angka signifikan yakni US$3,05 miliar.

Kabar menarik lainnya, raksasa investasi BlackRock disebut tengah menyiapkan peluncuran ETF Ethereum staking, yang kabarnya berpeluang disetujui oleh SEC dalam dua pekan ke depan. Kalau ini terjadi, bukan nggak mungkin ETH bisa menyentuh level US$3.000 dalam waktu dekat.

RUU BITCOIN Act 2025: Amerika Mau Beli 1 Juta BTC?

Dari sisi regulasi, dunia kripto kembali jadi sorotan setelah RUU BITCOIN Act 2025 diajukan oleh Senator Cynthia Lummis. Dalam rancangan undang-undang ini, pemerintah AS melalui Departemen Keuangan diusulkan untuk membeli 1 juta Bitcoin dalam lima tahun ke depan.

Tujuannya? Untuk membentuk semacam Cadangan Strategis Bitcoin, layaknya cadangan emas nasional yang disimpan negara.

Uniknya, RUU ini mendapat dukungan langsung dari Presiden Donald Trump, bahkan melalui perintah eksekutif yang menegaskan bahwa BTC bisa jadi bagian dari strategi nasional AS.

Dalam skemanya, Bitcoin bakal disimpan secara desentralisasi dan transparan dengan mekanisme proof-of-reserve (PoR). Minimum waktu penyimpanan juga ditetapkan selama 20 tahun, memperkuat peran Bitcoin sebagai aset jangka panjang.

Kalau RUU ini lolos, itu artinya dunia akan menyaksikan salah satu langkah legalisasi terbesar dalam sejarah aset kripto oleh sebuah negara adidaya.

5 Data Ekonomi AS Minggu Ini Bisa Jadi Penentu Arah Pasar Kripto

Minggu pertama Juni 2025 bisa jadi minggu yang menentukan, terutama buat pasar kripto. Pasalnya, akan ada lima laporan ekonomi penting dari AS yang berpotensi mengguncang harga BTC dan ETH:

  1. 2 Juni – Pidato Jerome Powell:
    Ketua The Fed ini bakal kasih sinyal arah kebijakan suku bunga. Kalau ada tanda-tanda pelonggaran, aset berisiko seperti Bitcoin bisa kembali rally.
  2. 3 Juni – Laporan JOLTS:
    Data lowongan kerja ini penting untuk mengukur kekuatan pasar tenaga kerja. Penurunan lowongan bisa jadi sinyal bahwa Fed perlu menurunkan suku bunga.
  3. 4 Juni – Laporan ADP Employment:
    Kalau data lapangan kerja swasta lemah, pasar akan melihat ini sebagai sinyal dovish. Efeknya? Kripto bisa naik.
  4. 5 Juni – Klaim Pengangguran Mingguan:
    Lonjakan angka pengangguran bisa membuka peluang kebijakan fiskal yang lebih longgar.
  5. 6 Juni – Non-Farm Payroll (NFP):
    Data ketenagakerjaan utama ini diprediksi melambat karena efek kebijakan tarif Trump terhadap ekonomi.

Bitcoin Jadi Aset Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?

Kondisi ekonomi AS juga nggak bisa dibilang baik-baik saja. Data terbaru menunjukkan bahwa PDB AS menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2025. Salah satu penyebabnya adalah lonjakan impor jelang penerapan tarif baru oleh pemerintah Trump.

Belanja konsumen juga mulai turun, dan ini jadi sinyal bahwa tekanan ekonomi makin terasa. Meskipun Indeks Harga Konsumen (CPI) masih berada di level 2,3%, yang sedikit di atas target The Fed, situasi tetap dianggap stabil.

Namun, geopolitik yang tegang dan kebijakan moneter yang belum pasti bikin banyak investor global mulai melirik Bitcoin dan aset kripto sebagai penyimpan nilai alternatif.

Menurut Panji Yudha, “Tekanan ekonomi saat ini bikin banyak investor mulai mencari alternatif lindung nilai. Dan Bitcoin, bersama Ethereum, jadi opsi yang makin masuk akal—apalagi dengan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di depan mata,” ujar Pandji melalui hasil riset yang diterima TrenAsia, dikutip Rabu, 4 Juni 2025.

Meskipun Bitcoin saat ini dalam fase konsolidasi, fundamental pasar kripto tetap kuat. Ketertarikan institusional, adopsi regulasi, dan tekanan ekonomi makro global justru bisa membuka ruang bagi penguatan lebih lanjut.

Untuk investor muda dan milenial yang ngikutin pasar kripto, sekarang adalah waktu yang tepat untuk pantau perkembangan data makro, berita ETF, dan kebijakan AS. Potensi naik masih terbuka—baik untuk BTC maupun ETH—tapi risiko volatilitas juga tetap harus diperhitungkan.