Fintech

2 Pekan Melonjak 17 Persen, Bitcoin Kembali Kukuhkan Posisi sebagai Pelindung Nilai

  • Tak hanya dari sisi harga, arus dana ke produk investasi berbasis kripto juga menunjukkan sinyal positif. Sepanjang pekan 14–17 April 2025, aliran dana masuk (net inflow) ke ETF spot Bitcoin yang terdaftar di AS tercatat sebesar US$15,85 juta. Ini menjadi kebalikan dari dua pekan sebelumnya yang justru mencatatkan aliran dana keluar (net outflow).
<p>Ilustrasi Trading Bitcoin / Pixabay.com</p>

Ilustrasi Trading Bitcoin / Pixabay.com

(Istimewa)

JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tren positif yang signifikan. Berdasarkan data Selasa pagi, 22 April 2025 pukul 08.00 WIB, harga BTC melonjak ke level US$88.300. Angka ini mencerminkan kenaikan lebih dari 17% dibandingkan posisi terendahnya di US$74.500 pada 7 April lalu. Dalam sepekan terakhir saja, Bitcoin telah naik sekitar 4%, di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih belum pasti.

Peningkatan harga ini juga diiringi dengan kenaikan dominasi pasar Bitcoin yang kini menyentuh angka 63%—tingkat tertinggi sejak awal tahun 2021. Fenomena ini memperlihatkan bahwa baik investor institusi maupun ritel kembali memposisikan Bitcoin sebagai aset pelindung nilai utama di tengah situasi global yang tidak menentu.

Tak hanya dari sisi harga, arus dana ke produk investasi berbasis kripto juga menunjukkan sinyal positif. Sepanjang pekan 14–17 April 2025, aliran dana masuk (net inflow) ke ETF spot Bitcoin yang terdaftar di AS tercatat sebesar US$15,85 juta. Ini menjadi kebalikan dari dua pekan sebelumnya yang justru mencatatkan aliran dana keluar (net outflow).

“Kembalinya aliran dana institusional menunjukkan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai lindung nilai strategis, bukan hanya sekadar aset spekulatif,” ujar Panji Yudha, Financial Expert dari Ajaib melalui hasil riset yang diterima TrenAsia, Selasa, 22 April 2025. 

Potensi Teknis Masih Terbuka Lebar

Dari sisi teknikal, Panji menambahkan bahwa tren penguatan harga BTC masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek.

“Sepanjang BTC mampu bertahan di atas US$85.000, maka berpotensi untuk menguji MA-100 dan resistance di kisaran US$91.000,” jelasnya.

Dampak Halving Bitcoin dan Sentimen Makro

Lonjakan harga BTC dalam beberapa bulan terakhir juga tidak bisa dilepaskan dari peristiwa halving yang terjadi pada 20 April 2024. Pada momen tersebut, reward untuk para penambang (miner) dipangkas dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC per blok. Pengurangan suplai ini secara historis menjadi pemicu utama kenaikan harga karena meningkatkan kelangkaan pasokan Bitcoin di pasar.

Selain itu, kondisi makro ekonomi global yang penuh ketegangan turut memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas usai Tiongkok mengumumkan tarif balasan. Di sisi lain, Presiden Donald Trump secara terbuka kembali melayangkan kritik tajam terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, bahkan menyampaikan ancaman pemecatan.

Baca Juga: Dolar AS Melemah, Bitcoin Menguat: Momentum Baru untuk Kripto?

Ketegangan antara lembaga eksekutif dan bank sentral ini menambah ketidakpastian yang mengganggu pasar ekuitas, dan justru mendorong minat investor ke aset seperti Bitcoin dan emas.

Dolar Melemah, Harga Emas Naik ke Rekor Baru

Faktor lain yang turut mendorong reli aset alternatif adalah pelemahan dolar AS. Indeks dolar (DXY) kini berada di level terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Dalam tiga bulan terakhir, mata uang AS ini telah mengalami penurunan sebesar 10%. Kondisi ini membuat lingkungan keuangan menjadi lebih longgar dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Harga emas pun turut merespons dengan kenaikan tajam, menyentuh rekor tertinggi baru di atas US$3.400 per troy ounce.

“Melemahnya dolar dan tekanan geopolitik menjadi bahan bakar baru bagi reli aset alternatif seperti Bitcoin dan emas,” ujar Panji Yudha menambahkan.

Agenda Ekonomi Padat Pekan Ini

Pekan ini akan menjadi periode yang sibuk bagi pasar global. Beberapa rilis data ekonomi penting dijadwalkan akan dirilis dan menjadi penentu arah pergerakan pasar ke depan.

  • Rabu: Data Global Services dan Manufacturing PMI yang akan memberikan gambaran aktivitas bisnis di sektor jasa dan manufaktur.
  • Kamis: Laporan Durable Goods Orders yang menjadi indikator penting konsumsi barang tahan lama oleh konsumen.
  • Jumat: Rilis Indeks Sentimen Konsumen dan ekspektasi inflasi, dua indikator utama untuk mengukur persepsi publik terhadap kondisi ekonomi AS.

Nada Kebijakan The Fed Dinantikan

Dalam suasana ketegangan politik terhadap independensi The Fed, pandangan dari para pejabat bank sentral akan menjadi perhatian utama pasar. Pada 22 April, pejabat The Fed Patrick Harker dan Christopher Waller dijadwalkan memberikan pidato. Sementara itu, Neel Kashkari akan menyusul memberikan pernyataan pada 24 April.

Komentar mereka, baik yang bernada dovish maupun hawkish, dapat memberikan dampak langsung terhadap pergerakan pasar, termasuk aset kripto.

Kepemimpinan Baru SEC dan Potensi Dampak terhadap Regulasi Kripto

Dinamika di level otoritas keuangan AS juga tengah mengalami perubahan signifikan. Senat AS baru saja menyetujui pengangkatan Paul Atkins sebagai Ketua Securities and Exchange Commission (SEC) yang baru. Atkins merupakan tokoh yang didukung langsung oleh Presiden Trump, dan diperkirakan akan mulai menjalankan tugasnya pekan ini.

Tim internal SEC pun sudah mulai melakukan proses transisi kepemimpinan, yang berpotensi membawa perubahan arah kebijakan terhadap regulasi industri aset digital di AS.

Reli harga Bitcoin saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor teknikal atau spekulasi jangka pendek. Perpaduan antara efek halving, meningkatnya ketidakpastian global, pelemahan dolar AS, dan perubahan lanskap kebijakan keuangan global menjadi faktor utama yang memperkuat posisi Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai yang semakin dipercaya oleh investor.