Episode Baru BLBI (Serial 2): Gurita Bisnis 30 Konglomerat Obligor BLBI
- Laporan khusus kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dari sisi sejarah hingga episode terbaru memburu koruptor kakap sejak era Soeharto.

Ananda Astri Dianka
Author
JAKARTA – Bagaikan tim pemburu hantu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Hak Tagih Negara dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) berkewajiban mengejar aset senilai Rp110,45 triliun yang masih buron di tangan 22 obligor dan debitur.
Bukan perkara mudah, sudah lebih dari 20 tahun sejak krisis ekonomi 1998, negara ternyata tak mampu menuntaskan kasus dana BLBI. Hingga akhirnya pemerintah kembali pasang kuda-kuda dengan membentuk Satgas sesuai dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2021 yang diteken pada 6 April 2021.
Tak tanggung-tanggung, Satgas BLBI ini dikomandani langsung oleh empat menteri koordinator, dua menteri serta jaksa agung, dan kepala Kepolisian Republik Indonesia. Dari total dana yang dikemplang para obligor, setidaknya ada enam macam bentuk tagihan.
Di antaranya dalam bentuk kredit sekitar Rp101 triliun, dalam bentuk properti sebesar Rp8 triliun, dan bentuk lainnya dalam saham hingga rekening mata uang asing.
- DBS Puji Fundamental Ekonomi RI Sekarang Lebih Baik Dibanding 2013
- Dana Otsus, Kontributor Utama Pembangunan yang Tak Kunjung Ungkit Ekonomi Papua
- Gonjang-Ganjing Utang Pemerintah: Sebagian Khawatir, Lainnya Tidak Ambil Pusing
Kendati Satgas BLBI telah dibentuk, pemerintah belum juga membuka nama obligor yang sudah lunas dan yang belum.
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan, pemerintah akan segera merilis nama obligor BLBI yang sudah lunas.
“Saya menyebut 48 obligor itu pada Desember tahun 1998, pemerintah membuat kucuran dana untuk BLBI, untuk 48 obligor. Jadi pada waktu itu. kan sudah ada yang ditagih, sudah ada yang lunas, dan sebagainya. Nanti kita beritahu kepada masyarakat siapa-siapa yang lunas,” kata Mahfud saat konferensi pers pada Kamis, 15 April 2021.
Data Kementerian Keuangan pada 2017 mencatat, aset negara masih berada di tangan 22 obligor. Meski lagi-lagi, pemerintah tidak merinci siapa saja obligor yang termasuk dalam 22 daftar tersebut.
Di luar status perdata terbarunya, TrenAsia.com menghimpun dari berbagai sumber terkait gurita bisnis dan kekayaan sejumlah konglomerat yang diduga terlibat dalam megaskandal BLBI ini:

1. Agus Anwar (Bank Pelita)
Direktur Utama Bank Pelita, Agus Anwar terlibat dalam kasus BLBI yang merugikan negara sebesar Rp1,9 triliun. Saat ini kabarnya ia melarikan diri ke Singapura dan diberitakan telah mengganti kewarganegaraan.
2. Hashim Djojohadikusumo (Bank Papan Sejahtera, Bank Pelita, dan Istimarat)
Adik Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto ini sudah sejak lama dikenal sebagai pengusaha nasional papan atas. Beberapa kali, nama Hashim masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia.
Dikutip dari Majalah Forbes, Jumat, 4 Desember 2020, pemilik Arsari Group ini menempati posisi ke-40 orang paling kaya Indonesia. Perusahaannya bergerak di berbagai sektor mulai dari kelapa sawit, pertambangan, industri kertas, dan jasa logistik.
Kekayaannya sebagaimana dicatat Forbes yakni sebesar US$800 juta atau sekitar Rp11,2 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS). Awalnya, Hashim magang di perusahaan ayahanda, Sumitro Djojohadikoesoemo, lantas ia mendirikan perusahaan pertamanya yakni PT Era Persada yang kemudian dijual pada 1998.
Kini, perusahaan-perusahaan miliknya bergabung ke dalam Arsari Group. Dalam konteks BLBI, Hasyim tak pernah berurusan dengan hukum. Kendati namanya selalu muncul dalam daftar penerima BLBI.
- Episode Baru BLBI (Serial 2): Gurita Bisnis 30 Konglomerat Obligor BLBI
- Masih Pandemi, Djasa Ubersakti Ngotot Genjot Proyek Properti Anak Usaha
- COVID-19 Kembali Merajalela, Begini Kondisi Stok Tabung Oksigen untuk Rumah Sakit Saat Ini
3. Samadikun Hartono (Bank Modern)
Samadikun Hartono merupakan terpidana kasus korupsi BLBI yang merugikan negara Rp169,4 miliar. Setelah buron selama 13 tahun, ia akhirnya ditangkap pada 2016 silam.
Pada 23 Mei 2003, Majelis Kasasi menyatakan Samadikun Hartono bersalah dan divonis 4 tahun penjara. Samadikun terjerat kasus BLBI yang merugikan lebih dari Rp100 miliar keuangan negara.
Samadikun Hartono merupakan pemilik Modern Group. Perusahaan Samadikun ini meliputi distributor Fujifilm, pengembang properti Modernland, sampai perusahaan retail 7-Eleven yang sudah gulung tikar.
Melalui Modern Group, Samadikun membangun kompleks perumahan Modernland di Tangerang. Samadikun juga memiliki lapangan golf, tempat Nasrudin ditembak yang kemudian menyeret Antasari Azhar ke penjara. Lalu Rumah Sakit Mayapada yang dulunya bernama RS Honoris.
Selain pengembang, Samadikun juga mendirikan Mal Metropolis. Di daerah Tangerang, nama Samadikun dijadikan nama jalan di perumahan tersebut bersama dengan ayahnya Otje Honoris.
4. Kaharuddin Ongko (Bank Umum Nasional)

Kaharuddin Ongko diketahui sebagai salah satu dari pemilik Ongko Group yang memiliki Omni Hospital melalui emiten PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME).
Kaharuddin adalah mantan pemilik PT Bank Umum Nasional yang menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama. Pada 2003, ia divonis bebas di PN Jakarta Pusat dalam kasus BLBI yang merugikan negara Rp6,7 triliun.
Padahal, total utang Grup Ongko sekitar Rp2,48 triliun atau obligor terbesar ke-15. Kelompok usaha milik Kaharudin Ongko ini berjumlah 23
perusahaan, bergerak dalam berbagai bidang, antara lain keuangan,
properti, hingga jasa.
5. Ulung Bursa (Bank Lautan Berlian)
Ulung Bursa tersangkut dana BLBI senilai Rp424,65 miliar.
- IHSG Masih Bearish Uji Level Psikologis 6.000, Simak Saham ASII, PWON, dan HMSP
- 3 Calon Emiten IPO Akhir Juni, Ada Tambang Emas Kakap Bidik Dana Rp2,79 Triliun
- Didorong BPK, BPJS Ketenagakerjaan Ancang-Ancang Cut Loss Portofolio Saham
6. Atang Latief (Bank Indonesia Raya)
Atang Latief diketahui memiliki utang senilai Rp325 miliar, akan tetapi telah dilunasinya sebesar Rp170 miliar, sehingga sisa utangnya kepada negara menjadi Rp155 miliar.
Dari informasi yang ada, saham Atang tersebar di sejumlah perusahaan seperti PT Bina Multi Finance (BMF), PT Cipta Selera Murni (CSEM), PT Cipta Swadaya Murni (CSWM), dan PT Ladang Karya Selaras Buana (LKSB).
7. Lidia Muchtar (Bank Tamara)
Sama seperti ayahnya Atang Latief, Lidia Muchtar juga menikmati dana BLBI. Meski tak banyak informasi tentangnya, Lidia diketahui turut menanggung utang sebesar Rp189,039 miliar.
8. Omar Putihrai (Bank Tamara)
Pada 2011, Omar Putihrai dinyatakan telah melunasi utang terkait dana BLBI sejumlah Rp175,05 miliar.
9. Adisaputra Januardy dan James Januardy (Bank Namura Yasonta)
Sebagai pemilik bank, keduanya dilaporkan telah melunasi kewajiban pembayaran utangnya senilai Rp303 juta plus aset Rp87,3 miliar.
10. Marimutu Sinivasan (Bank Putera Multikarsa)
Marimutu Sinivasan merupakan pendiri Group Texmaco, raja industri tekstil pada era 1980 hingga 1990-an. Terkini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat, nilai aset Texmaco mencapai triliunan termasuk anak perusahaan, sayangnya aset tersebut bermasalah sehingga menjadi piutang.
Menurut catatan BPPN, lima perusahaan yang berada di bawah Texmaco, yaitu PT Jaya Perkasa Engineering, PT Bina Prima Perdana, PT Texmaco Jaya Tbk, PT Wastra Indah, serta PT Polysindo Eka Perkasa (sekarang bernama PT Asia Pacific Fibers Tbk).
Total hak tagih di perusahaan-perusahaan milik Texmaco mencapai Rp36 triliun. Jumlah ini mencakup piutang berdenominasi rupiah sebesar Rp16,25 triliun, dan piutang dolar AS senilai US$2,21 miliar.
11. Santosa Sumali (Bank Metropolitan dan Bank Bahari)
Santosa Sumali diketahui memiliki utang terkait BLBI senilai Rp286 miliar.
12. Fadel Muhammad (Bank Intan)

Pada pelantikan 10 pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2019-2024, Fadel Muhammad melaporkan kekayaannya. Pada laporan 31 Mei 2019 ia menyatakan memiliki 8 bidang tanah dan bangunan senilai Rp41,74 miliar yang tersebar di Jakarta Selatan dan Bogor.
Harta bergerak lainnya senilai Rp928,95 juta, lalu surat berharga Rp70,11 miliar. Kas dan setara kas senilai Rp1,02 miliar. Dengan demikian total hartanya mencapai Rp113,81 miliar.
Laporan itu disampaikan di antaranya masa jabatannya sebagai Gubernur Gorontalo 2007-2012 (3 Juli 2006), Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2009-2014 (30 November 2009, 5 Januari 2012. Kemudian, anggota DPR periode 2014-2019 (20 Oktober 2014, 31 Desember 2017, 31 Desember 2018), serta calon anggota DPD (31 Mei 2019).
- Grup Bakrie: ENRG Rights Issue Rp1,82 Triliun, Siap Perbesar Porsi Migas Blok Kangean
- 3 Calon Emiten IPO Akhir Juni, Ada Tambang Emas Kakap Bidik Dana Rp2,79 Triliun
- Melesat 42,5 Persen, CIMB Niaga Syariah Kantongi Laba Rp459 Miliar pada Kuartal I-2021
13. Baringin MH Panggabean dan Joseph Januardy (Bank Namura Internusa)
Informasi yang berhasil didapat ialah Baringin telah ditangkap pada 2008. Sementara bersama Joseph Januardy, kedua mendapatkan dana BLBI senilai Rp158,9 miliar.
14. Trijono Gondokusumo (Bank Putera Surya Perkasa)
Memiliki utang senilai Rp2,9 triliun, Tijono merupakan salah satu obligor yang paling dicari pemerintah.
15. Hengky Wijaya (Bank Tata)
16. Tony Tanjung (Bank Tata)
17. I Gde Dermawan (Bank Aken)
18. Made Sudiarta (Bank Aken)
19. Tarunojo Nusa Wijaya (Bank Umum Servitia)
20. David Nusa Wijaya (Bank Umum Servitia)
David Nusa Wijaya divonis pidana penjara selama 4 tahun dan pidana denda sebesar Rp30 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.
Selain itu, terpidana David Nusa Wijaya juga dihukum membayar uang pengganti kepada negara sebesar Rp1,29 triliun. Pada Maret 2021, aset milik David dilelang dan menghasilkan dana senilai Rp3,60 miliar dan diserahkan ke jaksa eksekutor Kejaksaan Negeri Jakarta Barat untuk disetorkan ke negara sebagai pengembalian kerugian keuangan negara.
21. Liem Sioe Liong/Anthoni Salim/Salim Grup (Bank Central Asia)

Liem Sioe Liong atau Sudono Salim lebih dikenal dengan nama Om Liem. Dia merupakan pendiri Grup Salim yang kini diteruskan oleh anaknya, Anthoni Salim.
Anthoni, salah satu konglomerat paling terkenal di Indonesia. Di era kejayaannya, Grup Salim hampir memiliki usaha di semua sektor industri, mulai dari bisnis di sektor perbankan, industri makanan, bahan bangunan, ritel, hingga otomotif.
Salah satunya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA, namun pada krisis 1998, ia terpaksa menjual perseroan kepada Grup Djarum besutan duo Hartono, Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono.
- IHSG Masih Bearish Uji Level Psikologis 6.000, Simak Saham ASII, PWON, dan HMSP
- Peluang IHSG Bearish Lagi Akibat Dana Asing Kering, Rekomendasi Saham CPIN, ADHI, WSBP, dan TBIG
- Ada Potensi Penguatan Lanjutan pada IHSG, Simak Saham ASRI, ICBP, dan HOKI
Akan tetapi, kehilangan BCA tak menjadikannya hilang dari peredaran orang paling tajir di Indonesia. Buktinya, hingga kini Grup Salim masih merupakan kerajaan bisnis besar yang menjadi pemilik Bogasari, Indofood, perkebunan sawit, Indomobil, Sari Roti hingga Indomaret yang kini sudah banyak tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan beberapa negara di Asia hingga Afrika.
Pada 2017, Grup Salim kembali menjajaki bisnis di dunia perbankan. Tepatnya, pada Januari 2017, Grup Salim membeli saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) sebanyak 29,02% lewat NS Financials Fund sebesar 10,58% saham dan melalui NS Asean Financial Fund sebesar 18,44%.
Dalam keterbukaan informasi BINA pada 10 Januari 2020, Grup salim resmi menjadi ultimate shareholder atau pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) perseroan bersama pemilik Bali United (PT Bali Bintang Sejahtera Tbk/BOLA), Pieter Tanuri.
22. Mohammad “Bob” Hasan (Bank Umum Nasional)
Pengusaha sekaligus mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Era Soeharto ini memiliki rekam jejak panjang di dunia bisnis Tanah Air. Almarhum yang meninggal pada 31 Maret 2020 ini dikenak sebagai Raja Hutan karena kerajaan bisnisnya di industri perkayuan.
Di bawah Grup Nusamba (Nusa Ampera Bhakti), Bob memiliki bisnis inti di bidang perkayuan, perkebunan, dan penerbangan memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Di luar itu, Bob Hasan menggenggam empat kelompok usaha: Grup Pasopati, Grup Bank Umum Nasonal, Bank Duta, Grup Kalimanis, dan grup Hasfarm.
Saking banyaknya perusahaan, Bob Hasan diperkirakan menguasai sekitar 160 perusahaan di berbagai sektor yang berjaya di masa pemerintahan Soeharto.
23. Sjamsul Nursalim (Bank Dagang Nasional Indonesia/BDNI)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Samsjul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim sebagai tersangka kasus BLBI yang merugikan negara hingga Rp4,58 triliun.
Berdasarkan data Forbes pada akhir 2020, kekayaan Sjamsul telah menyusut dari US$990 juta atau Rp13,99 triliun menjadi US$788 juta atau Rp10,67 triliun. Dengan posisi keuangan itu, peringkat Sjamsul di jajaran orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes 2020 pun ikut terpeleset ke nomor 35 dari sebelumnya 33.
Kekayaan Sjamsul diperoleh dari sejumlah bisnisnya di Tanah Air, terutama di sektor properti, batu bara, dan ritel. Sjamsul Nursalim merupakan pemilik PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), yang memiliki pangsa pasar sebesar 30% di Asia Tenggara, Afria, dan Timur Tengah.
Sementara, ia juga memiliki saham di PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), perusahaan yang mengoperasionalkan merek-merek, seperti Zara, Topshop, Steve Madden, Mango, Mark Spencer, Adidas, dan sejumlah merek asing lainnya.
24. Sudwikatmono (Bank Surya)

Sepupu Soeharto ini pernah menjabat sebagai PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), serta PT Bogasari Flour Mills. Dia dikenal sebagai bos Subentra Group dan Golden Trully Group.
Di luar dua grup tadi, Dwi juga pernah terlibat di Tasik Madu Group yang bergerak di bidang perkapalan. Di bidang perfilman, selain menajdi distributor film dan membangun jaringan Cineplex, Dwi juga berencana membangun studio film seperti di Hollywood. Tahun 1972, dia menjadi ketua asosiasi importir film mandarin.
Pada 1 Maret 1996, dia mendirikan PT Indika Inti Mandiri yang di antaranya membawahi Net Visi Media. Anak-anak Dwi juga terjun ke dunia bisnis. Putrinya dulu dikenal dalam waralaba Planet Hollywood. Semenatra anak laki-lakinya, Agus Lasmono, berbisnis batubara, minyak, dan gas dalam PT Indika Energy Tbk (INDY).
25. Ibrahim Risjad (Bank Risjad Salim Internasional)

Risjad bersama dengan Sudwikatmono dan atasannya Sudono Salim, mereka kemudian mendirikan perseroan terbatas. Perusahaan mereka diberi nama PT Waringin Kencana. Masih bersama dengan partner bisnisnya terdahulu dan ditambah anggota baru bernama Djuhar Susanto, Risjad pun mendirikan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP). Dari sinilah, keempat pebisnis tersebut sering diberi julukan sebagai “The Gang of Four”.
Setelah Waringin Kencana, mereka mendirikan perusahaan semen, lalu mendirikan PT Bogasari yang kemudian berada di bawah naungan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Produk-produk mereka mencakup kebutuhan pokok masyarakat.
Beberapa sektor bisnis yang dikelola oleh Risjadson adalah sektor properti seperti Park Royal Apartment, kemudian perusahaan kosmetik bernama PT Ayu Agung, dan perbankan, yaitu Bank Windu Kentjana.
Di sektor lain, ia memiliki Takengon Pulp and Paper dan perkebunan sawit PT Satya Agung.
26. Bambang Trihatmodjo (Bank Alfa)

Bambang barangkali merupakan salah satu anak Soeharto yang paling terkenal. Tak hanya bisnisnya, kehidupan rumah tangganya juga kerap disorot. Suami pesohor Mayangsari ini juga diketahui mewarisi gurita bisnis sang ayah.
Bambang merupakan pendiri Bimantara Citra yang saat ini berubah menjadi PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang kini dikuasai konglomerat Hary Tanoesoedibjo. Tahun 1981, Bambang berkongsi dengan empat kawannya yakni Mochamad Tachril, Rosano Barack, Indra Rukmana, dan Peter F. Gontha untuk merintis Bimantara.
Kelompok bisnis Bambang Trihatmodjo memiliki saham di 96 perusahaan. Di antara 96 anak perusahaan itu, masing-masing terbagi atas 35 buah subsidiary company dan lebih dari 50% modalnya berasal dari Bimantara.
Lalu 48 perusahaan lainnya dikategorikan sebagai affiliate company yang saham Bimantara di dalamnya kurang dari 50%. Sedang 13 sisanya terbilang other company yang saham Bimantara hanya sekitar 10% sampai 20%.
- Grup Bakrie: ENRG Rights Issue Rp1,82 Triliun, Siap Perbesar Porsi Migas Blok Kangean
- 3 Calon Emiten IPO Akhir Juni, Ada Tambang Emas Kakap Bidik Dana Rp2,79 Triliun
- Melesat 42,5 Persen, CIMB Niaga Syariah Kantongi Laba Rp459 Miliar pada Kuartal I-2021
Salah satu perusahaan milik Keluarga Cendana itu tergabung dalam beberapa sub-holding dan Bimantara menjadi holding company. Bambang juga merambah ke bisnis bank dengan mendirikan Bank Andromeda.
Saat itu, jenis kegiatan usaha Bimantara antara lain adalah kimia dengan aset Rp666,7 miliar, agrobisnis yang terdiri dari perusahaan kayu di Balikpapan dan Nestle (Rp957,7 miliar).
Berikutnya yakni perusahaan di bidang keuangan dan asuransi (Rp105,7 miliar), media dan komunikasi (Rp382,6 miliar), pertambangan dan energi (Rp234,9 miliar), farmasi (Rp10 miliar), real estate dan properti (Rp881,8 miliar), otomotif (Rp148,6 miliar), dan transportasi udara (Rp120,2 miliar).
Beberapa perusahaan besar yang diketahui berada di bawah Bimantara Group antara lain stasiun televisi RCTI, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), Asriland, PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Bambang Trihatmodjo juga mendirikan induk usaha lain, PT Bumi Kusuma Prima.
Beberapa perusahaan Bimantara termasuk kelompok perusahaan ini antara lain PT Gelatindo Multi Graha (produsen cangkang kapsul), PT Lima Satria Nirwana (keagenan Mercedes-Benz), dan PT Citra Auto Nusantara (Ford).
27. Suryadi/Subandi Tanuwidjaja (Bank Sino)
28. Keluarga Ciputra (Bank Ciputra)

Pemilik raksasa properti, Ciputra meninggal pada 27 November 2019. Sepeninggalnya, gurita bisnis Ciputra tetap menggeliat terutama di bidang properti seperti Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group lewat PT Ciputra Development Tbk (CTRA).
Bersama dengan Sudono Salim (Liem Soe Liong), Sudwikatmono, Budi Brasali dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group. Perusahaan tersebut membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai (BSDE).
Pada masa itu, Ciputra menjabat sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. Hingga akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group.
29. Aldo Brasali (Bank Orient)

Mendiang Aldo Putra Brasali merupakan anak dari taipan Budi Brasali atau Lie Twan Hong. Awalnya, Budi mendirikan Brasali Group pada 1991 yang bergerak di bidang usaha komputer, listrik, industrial real estate, keuangan, industri tata udara, hingga industri kimia.
Sepeninggal Budi pada 2006, bisnis Brasali Grup di bawah besutan anaknya yakni Iwan Putra Brasali dan Aldo Putra Brasali makin berkembang pesat.
Salah satunya adalah bisnis properti seperti Brasali Realty, Pede Realty, Pondok Indah Group, hingga Metropolitan Group. Satrio Tower, Mercure Bali Legian, Menara Batavia, Golfhill Terrace Apartemen, Batavia, Ibis Arcadia, Ibis Mangga Dua, Ibis Rajawali, Ibis Cikarang.
30. Sofjan Wanandi (Bank Danahutama)
Pemilik Santini Group ini sempat kembali ramai diperbincangkan lantaran membeli saham klub peserta League One atau kasta ketiga Liga Inggris, Tranmere Rovers. Santini Group dibentuk oleh Sofjan Wanandi pada tahun 1994. Ini merupakan induk usaha asal Indonesia yang memiliki jenis usaha di bidang peralatan otomotif, infrastruktur, sumber daya alam, pengembangan properti, dan jasa.
Dirinya mulai mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri pada 1980, di awal usahanya tersebut ia membuka usaha komponen otomotif dengan nama PT Anugerah Daya Laksana. Bersama anggota keluarga Wanandi yang lain, usaha Sofjan pun dilebur menjadi satu grup dengan nama perusahaan baru yakni PT Sapta Panji Manggala.
Nama grup usahanya tersebut kemudian berubah menjadi Gemala Group tahun 1987. Grup usaha ini pun berkembang hingga menjalin kerja sama dengan Yuasa Corporation of Japan. Sejak itulah produk-produk Gemala Group dipasarkan di negara-negara lain.
Kesuksesan demi kesuksesan berhasil diraih Gemala Group, bahkan pada 2016 lalu, laman Globeasia.com memasukkan nama Sofjan Wanandi sebagai salah satu konglomerat di Indonesia.
Dalam laman tersebut disebutkan jika Sofjan berada di urutan ke-73 dalam daftar 150 Orang Terkaya di Indonesia. Ia diketahui memiliki kekayaan hingga US$610 juta atau Rp8,9 triliun. (SKO)
Artikel ini merupakan serial laporan khusus bagian terakhir dari tulisan sebelumnya berjudul “Episode Baru BLBI (Serial 1): Sejarah Panjang Duit Negara Dijarah.”
