Energi

Tambang Nikel di Raja Ampat Rusak Lingkungan, Bahlil Hentikan Sementara Operasional PT GAG

  • Sayangnya, proyek hilirisasi nikel yang selama ini dipromosikan pemerintah sebagai bagian dari transisi energi hijau justru mulai menorehkan jejak kerusakan di kawasan tersebut.
Raja Ampat.jpg
Raja Ampat (icctf.or.id)

JAKARTA - Raja Ampat akhir-akhir ini menarik perhatian. Ini setelah ramai gelombang kemarahan publik di sosial media yang menyesalkan bahwa kawasan konservasi laut di raja Ampat dikabarkan terancam oleh aktivitas tambang nikel.

Tagar Save Raja Ampat (#saveRajaAmpat) menggema. Raja Ampat, yang terletak di Papua Barat, memiliki lebih dari 1.500 gugusan pulau kecil dan merupakan salah satu ekosistem laut paling kaya di Bumi. Kelestarian wilayah Raja Ampat, yang menyimpan sekitar 75% spesies karang dunia harus dijaga.

Sayangnya, proyek hilirisasi nikel yang selama ini dipromosikan pemerintah sebagai bagian dari transisi energi hijau justru mulai menorehkan jejak kerusakan di kawasan tersebut.

Aktivitas pertambangan dikhawatirkan akan mencemari laut, merusak ekosistem pesisir, dan mengusir biota laut yang menjadi tulang punggung ekowisata masyarakat lokal.

PT GAG Berenti Beroperasi

Menyikapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, bahwa di Raja Ampat terdapat lima Izin Usaha Pertambangan (IUP), namun yang saat ini aktif beroperasi hanya satu, yaitu PT GAG NikeL, anak usaha PT Antam Tbk.

Di mana IUP produksi perusahaan ini terbit pada 2017 dan mulai beroperasi sejak 2018 setelah mengantongi AMDAL. "Operasi tambang PT GAG Nikel untuk sementara dihentikan sambil menunggu hasil verifikasi lapangan yang sedang dilakukan oleh tim Kementerian," Katanya ditemui di Kementerian ESDM pada Kamis, 5 Juni 2025.

Terkait potensi pelarangan izin baru di Raja Ampat, Bahlil menyatakan belum ada keputusan dan semua akan ditentukan setelah evaluasi selesai.

Berdasarkan hasil tinjauannya, Bahlil menyebut lokasi operasional Gag Nikel terletak sejauh 30 hingga 40 km dari Pulau Pianemo yang merupakan salah satu pulau pariwisata di Raja Ampat. Di sisi lain, Bahlil menegaskan jika luas wilayah Raja Ampat mendekati wilayah Provinsi Maluku Utara dan terdapat banyak hutan konservasi dan pulau untuk kegiatan pariwisata.

Sekilas Tentang PT GAG

PT Gag Nikel merupakan anak perusahaan PT Antam, Tbk yang bergerak di bidang usaha pertambangan nikel di Pulau Gag, Papua Barat.

Awalnya, kepemilikan saham mayoritas PT Gag Nikel dimiliki oleh Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (APN Pty. Ltd) sebesar 75% dan PT. Antam Tbk. sebesar 25%. Namun sejak 2008 PT. Antam Tbk. berhasil mengakuisisi semua saham PT. Asia Pacific Nickel Pty. Ltd, sehingga pada tahun 2008, PT. Gag Nickel sepenuhnya dikendalikan oleh PT. Antam Tbk.

Kabupaten Raja Ampat

Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat Daya, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai. Kabupaten ini memiliki 610 pulau, termasuk kepulauan Raja Ampat. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar.

Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama. Kabupaten ini memiliki total luas 67.379,60 km² dengan rincian luas daratan 7.559,60 km² dan luas lautan 59.820,00 km².

Kabupaten Raja Ampat dideklarasikan sebagai kabupaten baru, berdasarkan UU No. 26 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat, tanggal 3 Mei tahun 2002. Kabupaten Raja Ampat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong dan termasuk salah satu dari 14 kabupaten baru di Tanah Papua.