Tren Penggunaan Transaksi Digital Perbankan Kian Digandrungi
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital perbankan pada April 2020 meroket 37,35% seiring diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan penyebaran COVID0-19. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan masa pandemi COVID-19 yang dimulai di Indonesia sejak awal Maret menunjukkan masyarakat kian gemar bertransaksi perbankan lewat gawai. “Ke depan, BI terus meningkatkan efektivitas […]

Sukirno
Author


Transaksi digital Bank BNI. / Facebook @BNI
(Istimewa)JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital perbankan pada April 2020 meroket 37,35% seiring diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan penyebaran COVID0-19.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan masa pandemi COVID-19 yang dimulai di Indonesia sejak awal Maret menunjukkan masyarakat kian gemar bertransaksi perbankan lewat gawai.
“Ke depan, BI terus meningkatkan efektivitas sistem pembayaran di era normal baru,” ujarnya saat pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2020.
- Online Trends are Booming (Serial 1): Exploring the Drivers of Indonesia’s Digital Economy
- UGM Jadikan Wisma Kagama dan UC Hotel Sebagai Selter COVID-19
- Bangun Infrastruktur Baru, Google Perluas Layanan Cloud di India
- Bantu Start Up, Erick Refocusing Telkom dan Telkomsel
- Booming Tren Daring (Serial 5): SDM dan Infrastruktur Tertinggal, Perlindungan Data Tak Andal
Sementara itu, jumlah uang kartal yang diedarkan pada Mei 2020 mencapai Rp798,6 triliun. Jumlah itu turun 6,06% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Transaksi nontunai menggunakan Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu kredit, dan uang elektronik, tercatat turun 4,72% pada Maret 2020, turun lagi 18,96% pada April 2020.
“Ini sejalan dengan dampak menurunnya permintaan uang akibat kegiatan ekonomi pada masa pandemi yang melemah dan dampak penundaan cuti bersama Idulfitri,” ujar Gubernur BI.
Dengan adanya lonjakan transaksi digital itu, Perry menilai kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital mulai membaik. Termasuk, sambungnya, meningkatnya keinginan masyarakat terhadap pembayaran digital oleh bank dan perusahaan finansial berbasis teknologi.
Momentum ini, lanjut Perry, menjadikan BI secara masif dan agresif melakukan digitalisasi sistem pembayaran di saat normal baru.
Bank sentral ini akan memperluas jangkauan QRIS atau sistem pembayaran berbasis barcode di pasar tradisional, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pendidikan, dan aspek lainnya agar digitalisasi sistem pembayaran semakin lumrah.
“Preferensi masyarakat kepada digital semakin menguat dengan adanya COVID-19,” tegasnya.
