Hadapi New Normal, Indonesia Butuh Akselerasi Teknologi Digital
Indonesia berada di urutan 56 dari 63 negara dalam peringkat (Institute for Management Development) IMD Digital World Competitiveness, di bawah Singapura (2), Malaysia (26), Thailand (40), dan Filipina (55).

Khoirul Anam
Author


Ilustrasi belajar secara daring. / Pixabay
(Istimewa)Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 mengenai pencegahan COVID-19 di tempat kerja saat new normal. Peraturan tersebut bertujuan agar operasional perusahaan dapat berjalan secara optimal di tengah pandemi.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menilai perlunya akselerasi teknologi digital untuk mendukung kondisi new normal alias kenormalan baru itu. Kondisi ini menutut segala aktivitas berjalan dengan pembatasan aktivitas fisik sebelum ditemukannya vaksin untuk menangani COVID-19.
“Untuk itu, ke depan, semakin penting untuk mendorong kesiapan teknologi digital sebagai key driver transformasi baik dalam perekonomian, pemerintahan, dunia usaha, dunia pendidikan, dan aktivitas-aktivitas sosial agar produktivitas tetap terjaga,” tulis Bank Mandiri dalam laman resminya, Selasa 26 Mei 2020.
- Online Trends are Booming (Serial 1): Exploring the Drivers of Indonesia’s Digital Economy
- UGM Jadikan Wisma Kagama dan UC Hotel Sebagai Selter COVID-19
- Bangun Infrastruktur Baru, Google Perluas Layanan Cloud di India
- Bantu Start Up, Erick Refocusing Telkom dan Telkomsel
- Booming Tren Daring (Serial 5): SDM dan Infrastruktur Tertinggal, Perlindungan Data Tak Andal
Diketahui, pada tahun 2019, Indonesia berada di urutan 56 dari 63 negara dalam peringkat (Institute for Management Development) IMD Digital World Competitiveness, di bawah Singapura (2), Malaysia (26), Thailand (40), dan Filipina (55).
“Indonesia masih perlu meningkatkan berbagai aspek, baik knowledge maupun technology (bandwith speed),” tegas Bank Mandiri.
Namun, lanjut bank Mandiri, yang paling utama terkait dengan kesiapan menghadapi masa mendatang, yaitu mengenai adaptasi seperti internet retailing atau integrasi IT seperti layanan e-government.
Sementara itu, perekonomian global masih akan terus tertekan, baik akibat ketidakpastian pemulihan pandemi COVID-19 maupun meningkatnya risiko geopolitik.
Pada Jumat lalu, misalnya, China mengumumkan tidak akan memasang target pertumbuhan ekonomi 2020. Ini menyiratkan pemulihan ekonomi Tiongkok kemungkinan akan berlangsung lama karena besarnya ketidakpastian tentang pandemi ini.
Sebagai informasi, beberapa negara secara bertahap mulai mengurangi pembatasan sosial untuk memberi ruang pemulihan aktivitas ekonomi. Diketahui, Tiongkok mulai membuka aktivitas di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat makan, serta membuka aktivitas sekolah dan transportasi publik secara parsial.
Selain China, Korea Selatan juga telah membuka lima area penting mulai dari sekolah, pusat perbelanjaan, tempat makan, transportasi publik, hinga kunjungan WNA. Sedangkan India baru membuka secara parsial untuk pusat perbelanjaan, Jepang membuka pusat perbelanjaan, tempat makan, hingga transportasi publik, dan Singapura membuka transportasi publik. (SKO)
