China Produksi Vaksin COVID-19 Sebagai ‘Barang Bebas Global’
- China akan meningkatkan kerja sama internasional jika berhasil mengembangkan vaksin virus corona jenis baru atau COVID-19. Menteri Sains dan Teknologi China...

Sukirno
Author
China akan meningkatkan kerja sama internasional jika berhasil mengembangkan vaksin virus corona jenis baru atau COVID-19.
Menteri Sains dan Teknologi China Wang Zhigang mengatakan negaranya akan membuat vaksin menjadi “barang publik global” ketika sudah siap.
Sebelumnya, pemerintah China mengungkapkan telah mengalokasikan dana sebesar US$20 juta setara Rp281 miliar untuk Aliansi Vaksin dan Imunisasi Global (GAVI) selama periode 2021-2025.
- Setelah Toko dan Mobil, Anies Baswedan Terapkan Ganjil-Genap Motor
- Tagihan Listrik Bengkak, PLN Minta Maaf
- China Produksi Vaksin COVID-19 Sebagai ‘Barang Bebas Global’
- BI Sudah Beli SBN Rp445,4 Triliun
- Mengalir Kian Deras, Modal Asing Masuk RI Rp7,01 Triliun
Perdana Menteri Li Keqiang saat menyampaikan pidato secara virtual pada KTT Vaksin Global 2020, Kamis, 4 Juni 2020, mengatakan langkah itu diambil untuk meningkatkan kerja sama vaksin COVID-19 secara global dalam mengembangkan vaksin COVID-19, sejalan dengan komitmen untuk menyediakan kebutuhan masyarakat global.
Para pengamat menilai kehadiran pejabat senior itu menunjukkan bahwa China sangat mementingkan kerja sama dengan dunia di tengah pandemi selain China memang telah berkomitmen melindungi kehidupan umat manusia.
KTT tahun ini, yang diketuai oleh Inggris, telah berhasil menghimpun dana sekurang-kurangnya US$7,4 miliar setara Rp104 triliun untuk mendanai GAVI . Dana tersebut antara lain berasal dari Bill and Melinda Gates Foundation, WHO, dan Unicef.
Terdapat 10 vaksin yang sedang diuji klinis dan 123 kandidat vaksin sedang menjalani evaluasi praklinis sebagaimana disebutkan dalam laporan terbaru WHO, Kamis, 4 Juni 2020, dilansir Reuters.
Di antara 10 vaksin tersebut, lima di antaranya dikembangkan oleh China dan kini memasuki uji klinis tahap kedua.
Satu vaksin diregistrasi oleh pengembang dari China, Jerman, dan Amerika Serikat dan saat ini memasuki tahap pertama uji klinis.
Hingga kini, jumlah infeksi di China, tempat laporan virus corona pertama kali muncul pada akhir tahun lalu, mencapai 83.036. Sementara itu, jumlah kematian masih berjumlah 4.634. (SKO)
