Bursa Saham

Susul Morgan Stanley, Goldman Sachs Pangkas Rating Saham Indonesia: Sinyal Buruk?

  • Secara akumulatif, nilai jual bersih (net sell) investor asing telah mencapai Rp23,19 triliun sejak awal tahun.
IHSG Ditutup Menguat-1.jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Rentetan aksi jual asing di pasar saham Indonesia semakin tajam setelah dua lembaga investasi global, Morgan Stanley dan Goldman Sachs, menurunkan peringkat saham Indonesia secara berturut-turut. Langkah ini memperburuk sentimen investor dan meningkatkan kekhawatiran terkait stabilitas pasar modal nasional.

Morgan Stanley memangkas peringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia dari "equal weight" menjadi "underweight" pada akhir Februari 2025. Kini, Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia dari "overweight" menjadi "market weight" serta memangkas peringkat obligasi tenor 10-20 tahun menjadi netral. Sebelumnya, obligasi ini sangat diminati pasar.

Ketidakpastian kebijakan ekonomi pemerintahan baru menjadi faktor utama di balik keputusan Goldman Sachs dan Morgan Stanley. Kebijakan seperti pembentukan sovereign wealth fund (SWF) Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta realokasi anggaran dinilai berisiko tinggi. Perluasan kebijakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah juga dianggap dapat memperburuk defisit fiskal Indonesia.

Goldman Sachs bahkan merevisi proyeksi defisit fiskal Indonesia untuk 2025 menjadi 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,5%. “Belum adanya laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk periode Januari 2025 semakin menambah ketidakpastian,” jelas Goldman Sachs dalam laporannya Senin, 10 Maret 2025.

Para investor mulai mempertanyakan kondisi keuangan pemerintah setelah kebijakan baru diumumkan. Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga turut mempengaruhi keputusan investor global. 

Ketegangan perdagangan dunia serta melemahnya ekonomi domestik membuat investor asing semakin berhati-hati dalam menanamkan modal di Indonesia. Sentimen negatif ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang baru-baru ini menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir.

Di sisi lain, laba emiten yang lebih rendah serta ketatnya likuiditas perbankan turut menjadi tantangan tambahan bagi pasar modal Indonesia. Aksi jual asing yang terus berlanjut semakin menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Senin, 10 Maret 2025, IHSG turun 0,57% atau 37,78 poin ke level 6.598,21.

Lokal dalam Tekanan

Secara akumulatif, nilai jual bersih (net sell) investor asing telah mencapai Rp23,19 triliun sejak awal tahun. Dengan komposisi investor asing sebesar 60% dan investor domestik sebesar 40%, tekanan jual dari luar negeri memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan pemangkasan peringkat ini, investor kini menghadapi pertanyaan besar: apakah arus keluar modal asing masih akan berlanjut atau justru membuka peluang bagi investor domestik? Pemerintah dan regulator perlu segera mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan investor dengan kebijakan yang lebih pro-pasar.

Sementara itu, investor lokal dihadapkan pada tantangan dalam memilih sektor atau saham yang masih memiliki daya tarik di tengah tekanan pasar. Sektor defensif seperti infrastruktur, energi, dan konsumsi bisa menjadi pilihan untuk menghadapi ketidakpastian yang masih berlanjut. Investor juga harus mempertimbangkan faktor global.

Dengan kondisi yang masih penuh tekanan ini, pelaku pasar harus tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan ekonomi dan dinamika pasar global yang dapat mempengaruhi arus modal di Indonesia. Respons pemerintah akan sangat menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa bulan mendatang.

Tags: SahamIHSG