Bursa Saham

Saham BMRI Anjlok Usai Rilis Laporan Keuangan 2024, Peluang atau Ancaman?

  • Meski laba bersih BMRI tumbuh dan DPK meningkat, saham Bank Mandiri justru tertekan. Apakah ini kesempatan beli atau sinyal waspada bagi investor?
Menara Mandiri.jpg
Gedung Menara Bank Mandiri di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami tekanan hebat setelah merilis laporan keuangan 2024 yang menunjukkan hasil positif. Situasi ini bisa menjadi peluang, mengingat emiten perbankan memiliki target ambisius di tahun 2025. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham BMRI pada perdagangan Kamis, 6 Februari 2025, pukul 14.55 WIB, bertengger di harga Rp5.125 per saham, yang mencerminkan pelemahan 7,24%. 

Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya saham Bank Mandiri juga ditutup melemah dengan total net foreign inflow mencapai Rp67,2 miliar. Dari sisi broker, CGS CIMB Sekuritas menjadi perusahaan efek yang paling banyak melepas saham ini dengan transaksi Rp201 miliar. 

Kendati begitu, ada beberapa broker yang mulai mengakumulasi saham ini antara lain JP Morgan Sekuritas yang memborong saham ini sebesar Rp81,3 miliar, ini diikuti oleh Mandiri Sekuritas sebesar Rp56,3 miliar dan Mirae Asset Sekuritas dengan transaksi Rp47,3 miliar. 

Kinerja Keuangan 2024 

Di tengah tekanan di pasar saham, BMRI justru mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada 2024. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp55,78 triliun, tumbuh 1,31% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp55,06 triliun pada 2023.

Laporan keuangan menunjukkan bahwa pertumbuhan laba ini didukung oleh pendapatan bunga dan syariah bersih yang mencapai Rp101,75 triliun, meningkat 6,12% YoY. Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 19,36% YoY, mencapai Rp1.623,21 triliun per Desember 2024. 

Yang menarik, lualitas kredit pun tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross sebesar 0,97% dan NPL net sebesar 0,33%. Selain itu, penghimpunan dana juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil. 

Nah, total dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.698,89 triliun, meningkat 7,74% YoY dari Rp1.576,94 triliun pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) mencapai 98,04% pada akhir 2024, naik dari 86,75% pada tahun sebelumnya.

Dari sisi aset, total aset Bank Mandiri tumbuh 11,63% YoY menjadi Rp2.427,22 triliun pada akhir 2024. Dengan pencapaian ini, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana prospek kinerja BMRI di tahun 2025 dan apakah target yang ditetapkan dapat tercapai?

Proyeksi Kinerja 2025

Analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis, mencatat bahwa pertumbuhan laba bersih BMRI pada 2024 terbebani oleh kinerja kuartal IV/2024 yang lebih lemah. Laba bersih kuartal IV tercatat Rp13,8 triliun, mengalami penurunan 14% YoY dan 11% dibanding kuartal sebelumnya. 

Ia menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh kenaikan biaya operasional (opex), terutama terkait teknologi informasi (TI) dan administrasi umum (G&A), serta lonjakan biaya kredit.

Meskipun demikian, Bank Mandiri tetap menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat sepanjang 2024, dengan kenaikan sebesar 20% YoY, yang didorong oleh segmen korporasi (27% YoY) dan komersial (23% YoY). “Pertumbuhan ini membantu mengimbangi peningkatan biaya pendanaan dan kredit yang lebih tinggi,” jelasnya dalam riset pada Rabu, 5 Februari 2025.

Untuk 2025, Sucor Sekuritas menilai target pertumbuhan kredit BMRI sebesar 10%-12% dan target penurunan LDR ke 90% sebagai sesuatu yang ambisius, terutama di tengah kondisi likuiditas yang ketat. Analis memperkirakan laba bersih BMRI akan tumbuh secara moderat sebesar 3% YoY menjadi Rp57,4 triliun, dengan pertumbuhan kredit sekitar 10% YoY.

Di sisi lain, cost of credit (CoC) diperkirakan naik menjadi 1,2% dari 0,8% pada 2024, sedangkan net interest margin (NIM) diprediksi tetap stabil seiring adanya penyesuaian imbal hasil kredit.

Rekomendasi Saham dan Dividen Oke 

Dari sisi rekomendasi, target harga saham BMRI diperkirakan mencapai Rp7.647 per saham pada 2025, yang berarti potensi kenaikan sebesar 48% dari harga penutupan terakhir. Sebanyak 15 analis yang dihimpun Bloomberg memberikan rekomendasi beli, sementara 2 analis menyarankan tahan, dan hanya 1 analis yang merekomendasikan jual.

Salah satu faktor pendukung prospek saham BMRI adalah kebijakan dividen yang diterapkan oleh manajemen. Secara historis, Bank Mandiri menjaga rasio pembayaran dividen di angka 60% dari laba bersih setiap tahunnya, yang menjadikannya menarik bagi investor yang mencari imbal hasil dividen.

Pada tahun buku 2023, laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp55,1 triliun, angka tertinggi dalam sejarah perusahaan, dengan dividen per saham sebesar Rp353,95. Setahun sebelumnya, pada 2022, laba bersih mencapai Rp41,2 triliun, dan pemegang saham menerima dividen per saham sebesar Rp529,34.

Tren positif ini juga terlihat pada 2021, dengan laba bersih Rp28 triliun dan dividen per saham Rp360,64. Bahkan pada tahun 2020, meskipun laba bersih turun ke Rp17,1 triliun akibat dampak pandemi, perseroan tetap mempertahankan rasio dividen 60%, sehingga investor tetap menerima dividen sebesar Rp220,27 per saham.

Sebelum pandemi, kinerja Bank Mandiri juga menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada 2019, laba bersih tercatat Rp27,5 triliun dengan dividen per saham sebesar Rp353,34. Dengan kebijakan dividen yang stabil dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, BMRI tetap menjadi salah satu pilihan utama di sektor perbankan bagi para investor.

i, kinerja keuangan Bank Mandiri menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada 2019, laba bersih mencapai Rp27,5 triliun, dengan dividen per saham sebesar Rp353,34. Dengan kebijakan dividen yang stabil di angka 60%, Bank Mandiri terus menjaga keseimbangan antara memberikan keuntungan bagi pemegang saham dan memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.