Bursa Saham

Reli Harga Emas Melambat, Apakah Saham ANTM, MDKA, dan HRTA Masih Layak Diburu?

  • MDKA diperkirakan mendapat dorongan dari proyek Pani yang mulai produksi pada akhir 2025 dan pembaruan studi kelayakan proyek tembaga TB yang menjadi katalis re-rating dalam waktu dekat.
Ilustrasi Harga Emas-5.jpg
Karyawati menunjukkan emas batangan 24 Karat di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Selasa, 13 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Seiring ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China yang mulai mereda, harga emas global tercatat mengalami koreksi. Namun, pelemahan harga ini tidak serta-merta menggerus prospek emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia, yang justru dinilai masih memiliki fundamental solid sepanjang 2025.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyebut harga emas berpotensi turun ke area US$3.000 per troy ounce dalam jangka pendek. Meski demikian, rata-rata harga jual emas masih tinggi dibanding kuartal sebelumnya, sehingga peluang pertumbuhan kinerja emiten tetap terbuka. 

Ekky menyoroti saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang secara teknikal memiliki support di level Rp2.400 dan Rp2.150, namun ia memilih bersikap wait and see karena kenaikan harga saham sejak awal April sudah cukup signifikan.

Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, turut menggarisbawahi bahwa meredanya ketegangan geopolitik telah mengurangi daya tarik aset safe haven seperti emas. Kendati demikian, ia memperkirakan kinerja emiten emas seperti ANTM dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masih akan tumbuh pada kuartal II-2025. 

Hal ini seiring dengan kenaikan Average Selling Price (ASP) dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I-2025, misalnya, laba bersih ANTM melonjak 1.003% secara tahunan, HRTA naik 46%, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tumbuh 313%.

Untuk itu, Audi merekomendasikan hold untuk saham ANTM dengan target harga Rp2.700, BRMS di Rp400, dan HRTA di Rp700. Ia menilai sentimen pemangkasan suku bunga acuan The Fed dan tingginya permintaan ETF emas akan tetap menopang harga emas dan prospek sektor ini.

Sektor Tambang Lain

Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, menilai koreksi harga emas yang terjadi pekan lalu tidak bersifat struktural. Mereka menekankan bahwa bahkan tanpa gejolak geopolitik, harga emas tetap terdorong oleh kekhawatiran terhadap pembiayaan utang AS. 

Saham ANTM, menurut mereka, turut terkoreksi akibat aksi ambil untung, meskipun aliran dana asing menunjukkan minat jangka panjang yang kuat. Untuk sektor logam tambang lainnya, PT Merdeka Copper Gold Tbj (MDKA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dipandang memiliki prospek menjanjikan. 

MDKA diperkirakan mendapat dorongan dari proyek Pani yang mulai produksi pada akhir 2025 dan pembaruan studi kelayakan proyek tembaga TB yang menjadi katalis re-rating dalam waktu dekat. Di sisi lain, INCO diperkirakan mulai membukukan keuntungan pada 2026 setelah proyek nikel dan HPAL selesai.

Oleh karena itu, Indo Premier menempatkan MDKA sebagai pilihan utama di sektor ini, diikuti oleh ANTM dan INCO. Menurut mereka, percepatan realisasi proyek dan potensi revaluasi saham menjadikan MDKA lebih atraktif dalam waktu dekat.

Meski harga emas tengah terkoreksi, prospek emiten tambang di dalam negeri tetap menunjukkan daya tarik yang kuat. Momentum fundamental dan katalis jangka menengah menjadi bahan bakar utama yang tetap menjaga kilau saham-saham tambang emas di mata investor.