Peluang Cuan BMRI, Harga Saham Diskon ke Rp4.800-an
- Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan sesi I, Selasa 25 Februari 2025, saham BMRI parkir di level Rp3.830 atau terkoreksi sedalam 2,69% (90 poin).

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih menunjukkan tren pelemahan harga saham dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun, perseroan melaporkan kinerja keuangan yang solid untuk periode Januari 2025.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan sesi I, Selasa 25 Februari 2025, saham BMRI parkir di level Rp3.830 atau terkoreksi sedalam 2,69% (90 poin). Pelemahan ini masih dipicu oleh tekanan jual besar dari investor asing. Siang ini, investor asing melego saham BMRI senilai Rp467 miliar.
Harga saham tersebut juga berada di bawah harga stock split di level Rp5.250 per saham pada April 2023 lalu. Jika ditarik mundur, tekanan harga saham BMRI sudah tercermin cukup lama, dalam sebulan terakhir saham BMRI sudah melemah 19,84%, lalu dalam tiga bulan koreksinya menyentuh 25,63%, dan setahun terakhir turun 30,64%.
Namun untuk jangka panjang, saham BMRI masih menunjukkan tajinya dengan return sebesar 27,01% dalam tiga tahun terakhir. Juga menguat 25,38% dalam lima tahun ke belakang. Dengan kinerja keuangan yang solid, target saham BMRI tetap dipatok tinggi.
“Target harga rata-rata adalah Rp7.046 dengan estimasi tertinggo Rp8.800 dan estimasi terendah Rp5.100,” tulis Stockbit Sekuritas, dikutip Selasa, 25 Februari 2025.
Optimisme terhadap harga saham BMRI didukung oleh kinerja solid Bank Mandiri. Dalam laporan bulanan terbaru, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih (bank only) sebesar Rp4 triliun pada Januari 2025 atau meningkat 4,5% secara tahunan (YoY) atau menguat 1,1% secara bulanan (MoM).
“Relatif sejalan dengan estimasi full year 2025 konsensus di level 5% secara tahunan. Kami menilai kinerja ini sebagai performa yang relatif baik.”
Secara positif, menurut Stockbit, kinerja tersebut didorong oleh credit cost (CoC) relatif terjaga dan likuiditas mulai membaik. Di sisi lain, Net Interest Margin (NIM) kembali turun dan beban operasional membengkak.
Berikut adalah penjelasannya:
1. CoC Relatif Terjaga
CoC bank only masih terjaga di level yang relatif rendah pada Januari 2025, yakni 0,52% dibandingkan dengan Januari 2024 sebesar 0,65%, Desember 2024 pembalikan -0,03%. Hal ini tercermin pada beban provisi yang turun menjadi Rp568 miliar dari Januari 2024 sebesar Rp594 miliar, Desember 2024 pembalikan provisi Rp32 miliar.
2. Likuiditas Mulai Membaik
Pertumbuhan kredit bank only melandai ke level +19,3% YoY pada Januari 2025 (vs. Januari 2024: +19,6% YoY, Desember 2024: +20,7% YoY), masih lebih tinggi dibandingkan guidance FY25 dari manajemen di kisaran +10–12% YoY. Adapun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai +15,1% YoY pada Januari 2025 (vs. Januari 2024: +1,5% YoY, Desember 2024: +6,8% YoY), kembali ke level double digit setelah pertumbuhan rendah pada Desember 2024.
Dinamika keduanya membuat Loan–to–Deposit Ratio (LDR) bank only mulai membaik ke level 93,7%, meski masih lebih tinggi dibandingkan posisi Januari 2024. Pelonggaran LDR tersebut sejalan dengan guidance FY25 dari manajemen yang menargetkan LDR dapat ternormalisasi dan turun ke kisaran 90–95% selama FY25, setelah sempat membengkak ke level 98,8% pada Desember 2024.
3. NIM Kembali Turun
NIM turun ke level 4,42% pada Januari 2025 (-8 bps YoY, -59 bps MoM), kembali tertekan ke level ~4% setelah sempat melonjak ke level 5% pada Desember 2024. Meski likuiditas mulai melonggar secara bulanan, pertumbuhan DPK lebih didorong oleh deposito, sehingga cost of fund (CoF) relatif tinggi. Sementara itu, pertumbuhan earnings assets secara bulanan lebih didorong oleh efek (termasuk obligasi pemerintah) yang memiliki yield lebih rendah dibandingkan kredit. Namun, Net Interest Income (NII) masih mencatatkan pertumbuhan secara tahunan yang kuat ke level Rp6,5 T pada Januari 2025 (+11% YoY, -10% MoM).
4. Beban Operasional Membengkak
Beban operasional bank only membengkak sebesar +23% YoY pada Januari 2025, didorong oleh kenaikan beban tenaga kerja (+26% YoY) dan beban lainnya (+18% YoY). Meski demikian, Pre–Provision Operating Profit (PPOP) masih dapat tumbuh (+3,3% YoY, +13% MoM) akibat ditopang oleh pertumbuhan top–line.

Ananda Astri Dianka
Editor
