Bursa Saham

Membaca Valuasi ANTM, HRTA, hingga MDKA Saat Harga Emas Melambung

  • Reli harga emas global di awal pekan bulan Juni kembali menarik perhatian pelaku pasar. Seiring dengan itu, muncul pertanyaan: bagaimana valuasi saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia, mengingat mayoritas saham komoditas logam mulia ini telah melejit sejak awal tahun?
Ilustrasi Emas Pegadaian-2.jpg
Karyawati menunjukkan emas batangan yang dijual di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis, 21 Juli 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Reli harga emas global di awal pekan bulan Juni kembali menarik perhatian pelaku pasar. Seiring dengan itu, muncul pertanyaan: bagaimana valuasi saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia, mengingat mayoritas saham komoditas logam mulia ini telah melejit sejak awal tahun?

Berdasarkan data IDX Mobile pada pembukaan perdagangan sesi pertama, Selasa, 3 Juni 2025, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat mengalami kenaikan tertinggi, yakni sebesar 116,83% secara year-to-date (YtD), dan kini berada di level Rp3.030 per saham.

Menyusul di belakangnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga melesat 95% YtD ke level Rp640 per saham. Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan kenaikan 32,92% YtD, dan kini diperdagangkan di level Rp2.120 per saham.

Namun, tidak semua saham tambang emas mengalami penguatan. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) justru melemah 1,99% YtD, dan saat ini berada di level Rp394 per saham. Hal serupa terjadi pada saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang tercatat turun 16,34% YtD ke posisi Rp21.425 per saham.

Melihat dinamika ini, TrenAsia akan membedah valuasi saham-saham tambang emas tersebut di tengah kenaikan harga logam mulia, dengan mengacu pada indikator Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Potret Reli Harga Emas 

Setelah sempat terkoreksi pada pertengahan Mei, harga emas dunia kembali menguat signifikan pada awal Juni 2025, mencetak level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu. Penguatan ini dipicu oleh dua faktor utama: pelemahan dolar AS dan memanasnya kembali konflik Rusia-Ukraina, yang meningkatkan permintaan terhadap aset tahan guncangan seperti emas.

Pada awal pekan, Senin, 2 Juni 2025, harga emas melonjak 2,73% ke level US$3.379,06 per troy ounce, menjadi level penutupan tertinggi sejak 6 Mei. Penguatan berlanjut pada perdagangan Selasa pagi, 3 Juni 2025, di mana harga emas di pasar spot tercatat naik lagi 0,23% ke posisi US$3.386,82 per troy ounce hingga pukul 06.30 WIB.

"Dari sisi teknikal, pola candlestick harian dan indikator Moving Average mendukung sentimen bullish. Jika dorongan beli berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance di US$3.392 dalam waktu dekat. Namun, jika terjadi tekanan jual mendadak atau reversal teknikal, maka harga bisa turun kembali ke level support terdekat di kisaran US$3.347," ujar Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, dalam ulasannya pada Selasa, 3 Juni 2025.

Nah, jika menilik tren, harga emas menunjukkan performa yang impresif sepanjang awal dan satu tahun terakhir. Bahkan, logam mulia ini sempat menyentuh puncak tertinggi di atas US$3.400 per troy ounce pada April–Mei 2025, dan saat ini tengah berkonsolidasi di level tinggi, yakni di kisaran US$3.364,50.

Potret Kenaikan Harga Emas; Source/Trading Economics

Analisis Valuasi Saham Tambang Emas

Meski harga emas global menunjukkan penguatan yang solid, hal tersebut tidak serta-merta tercermin pada valuasi semua saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan performa ini menggarisbawahi pentingnya meninjau kinerja keuangan dan strategi bisnis masing-masing emiten, alih-alih hanya mengikuti fluktuasi harga emas.

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Salah satu emiten yang menonjol adalah ANTM, yang mencatat kinerja luar biasa sepanjang tahun berjalan. Dengan harga saham menyentuh level Rp3.330, valuasi ANTM tercermin melalui beberapa indikator utama: dividend yield sebesar 2,39%, Price to Sales Ratio (PSR) 3,06x, Price to Earnings Ratio (PER) 14,40x, dan Price to Book Value (PBV) 2,30x. 

Rasio-rasio ini menunjukkan bahwa pasar memberikan premium valuation terhadap ANTM, seiring dengan prospek bisnis dan capaian kinerja yang solid. Ini juga tercemin dalam kinerja keuangan kuartal I-2025, dengan lonjakan laba bersih sebesar 1.003% secara tahunan (YoY) menjadi Rp2,32 triliun, seiring dengan kenaikan pendapatan 203% menjadi Rp26,15 triliun. 

Pendorong utama pertumbuhan ini adalah lonjakan penjualan emas mencapai 13.739 kg, yang sebagian besar berasal dari aktivitas perdagangan. Strategi pemasaran agresif dan digitalisasi layanan melalui aplikasi Logam Mulia turut mendorong peningkatan margin usaha dan EBITDA, mencerminkan efisiensi operasional serta peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

2. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)

Meski memiliki valuasi yang lebih konservatif, emiten bersandikan HRTA menunjukkan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Dengan PSR sebesar 0,43x, PER 6,02x, PBV 1,18x, dan dividend yield 1,88%, tampak undervalued dibanding emiten yang hanya menjadi produsen emas. 

Dari sisi kinerja, HRTA sukses mencatat laba bersih sebesar Rp149,8 miliar pada kuartal I-2025, tumbuh 46% YoY, dengan pendapatan Rp6,8 triliun atau naik hampir 70%. Kinerja ini ditopang oleh dominasi segmen grosir serta kemitraan strategis dengan PT Pegadaian. 

Selain itu, ekspansi jaringan ritel yang menargetkan 100 toko hingga akhir 2025 memperkuat distribusi produk emas ritel HRTA. Walau margin bersihnya relatif tipis, strategi berbasis volume tinggi menjadikan pertumbuhan HRTA tetap solid dan berkelanjutan.

3. PT United Tractors Tbk (UNTR)

Berbeda dengan ANTM dan HRTA yang memiliki lini penjualan emas langsung ke konsumen, saham UNTR tampak memiliki valuasi paling konservatif. Ini tercermin dari indikator PER hanya 4,50x, PBV 0,79x, PSR 2,34x, serta dividend yield tinggi sebesar 6,78%. 

Sebab, laba bersih perusahaan turun 30% YoY menjadi Rp3,2 triliun, pendapatan masih meningkat 6% menjadi Rp34,3 triliun. Kendati begitu, segmen emas UNTR tetap solid dengan produksi 57.000 ons dan kontribusi pendapatan Rp2,9 triliun, tumbuh 61% dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan laba lebih disebabkan kerugian dari proyek nikel, bukan kinerja inti tambang emas. Nah, seiring situasi pelambatan sektor batu bara, sektor emas dapat menjadi penyeimbang terhadap profitabilitas perseroan.

4. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Mirip dengan UNTR, yang hanya mengolah tambang emas, MDKA sedikit lebih unggul karena memilki valuasi yang menarik di tengah penyesuaian fundamental perseroan. Saham afiliasi Boy Thohir memiliki indikator PER negatif di angka minus 57,57x, PBV 1,10x, PSR 1,42x, dan tidak membagikan dividen. 

Indikator tersebut dipengaruhi oleh pendapatan turun 7% YoY menjadi US$504 juta pada kuartal I-2025. Kendati begitu, EBITDA justru naik 85% menjadi US$105 juta, berkat margin operasi yang menguat dari tambang Tujuh Bukit. Yang menarik, penjualan emas melebihi produksi, yang mencerminkan efisiensi manajemen stok. 

Kinerja tersebut juga didukung proyek emas Pani yang tengah dibangun dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2026. Ini menunjukkan langkah strategis MDKA dalam memperkuat portofolio emas dan diversifikasi di tengah fluktuasi komoditas yang ditambang perseroan termasuk nikel dan tembaga.

5. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)

Selanjutnya, emiten Bakrie Group, BRMS, yang hanya mengolah tambang emas, menunjukkan valuasi relatif tinggi dibanding skala usahanya. Saham ini memiliki PER 95,30x, PSR 52,99x, PBV 3,32x, dan dividend yield sebesar 0%.

Meski demikian, perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 14,6% secara tahunan, menjadi US$14,8 juta, serta lonjakan laba bersih sebesar 181% menjadi US$4,4 juta. Peningkatan kinerja ini didorong oleh produksi emas dari tambang Poboya yang mencapai 4.872 ons.

Walaupun skala bisnis BRMS masih kecil dibanding emiten besar lainnya, perusahaan menunjukkan prospek pertumbuhan positif melalui pembangunan fasilitas pengolahan baru dan aktivitas eksplorasi yang intensif. Selain itu, diversifikasi ke logam dasar menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing perusahaan di pasar.