Bunga Turun, IHSG Naik: Tren Positif untuk Jangka Panjang atau Pendek?
- Langkah BI menurunkan suku bunga langsung disambut positif oleh pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,7% ke level 7.142,5 setelah pengumuman tersebut. Kenaikan indeks ini didorong oleh aliran dana asing yang cukup deras, tercatat mencapai Rp960,4 miliar.

Idham Nur Indrajaya
Author


JAKARTA — Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 20–21 Mei 2025. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian, termasuk ketegangan perdagangan yang terus berlangsung.
Langkah pelonggaran kebijakan moneter ini mencakup penurunan suku bunga deposit facility menjadi 4,75% dan lending facility menjadi 6,25%. Ini merupakan penurunan suku bunga kedua yang dilakukan BI sepanjang tahun ini, setelah langkah serupa pada Januari 2025.
Senior Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto mengatakan, pemangkasan suku bunga ini menunjukkan bahwa BI kini lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun masih ada tekanan dari ketidakpastian global.
- Foo Fighters Siap Guncang Jakarta Oktober 2025, Tiket Mulai Rp1,7 Juta
- Mulai Hari Ini, Berikut Cara Cek Bansos PKH Mei 2025
- Asing Serbu Saham ANTM Senilai Rp2,75 Triliun, Target Rp3.200 Kian Dekat!
Pemangkasan Suku Bunga yang Tak Lazim di Kuartal II
Menurut Rully, kebijakan penurunan suku bunga di kuartal kedua terbilang tidak biasa. Sejak tahun 2017, BI cenderung menghindari pelonggaran kebijakan moneter di periode ini karena adanya tekanan musiman terhadap nilai tukar rupiah, khususnya akibat repatriasi dividen oleh perusahaan asing. Namun, situasi kali ini berbeda.
“Ini menjadi pengecualian penting yang menandakan betapa seriusnya BI dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi,” jelas Rully melalui hasil risetnya, dikutip Kamis, 22 Mei 2025.
Pertumbuhan Ekonomi Melambat, BI Turunkan Proyeksi PDB
Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat hanya 4,87% (yoy). Ini merupakan laju pertumbuhan paling lambat dalam 14 kuartal terakhir. Melemahnya belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga yang masih lesu, serta investasi yang belum pulih menjadi penyebab utama.
Menanggapi kondisi ini, BI kembali merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 menjadi 4,6%–5,4%, dari sebelumnya 4,7%–5,5%. Ini merupakan revisi kedua sepanjang tahun berjalan.
“Pelemahan konsumsi domestik dan aktivitas investasi menjadi faktor dominan yang menekan pertumbuhan PDB,” ujar Rully.
Target Pertumbuhan Kredit Juga Direvisi
Tidak hanya menurunkan proyeksi PDB, BI juga menyesuaikan target pertumbuhan kredit perbankan. Target yang semula berada pada kisaran 11%–13% diturunkan menjadi 8%–11%.
Hal ini tak lepas dari melambatnya laju pertumbuhan kredit yang tercatat hanya 8,8% yoy pada April 2025, level terendah dalam 18 bulan terakhir. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga melambat menjadi 4,6% yoy.
“Pertumbuhan kredit yang lebih kuat masih sangat dibutuhkan untuk menopang pemulihan ekonomi. Namun, sejumlah tantangan seperti kualitas kredit yang belum membaik masih membayangi,” kata Rully.
Data BI menunjukkan rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan masih bertahan di atas 2% selama tiga bulan terakhir. Meski demikian, likuiditas perbankan masih cukup memadai dengan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) mencapai 88%.
Saham BMRI dan BBCA Tetap Unggul di Tengah Perlambatan
Dalam situasi yang menantang ini, sejumlah saham bank besar tetap menunjukkan kinerja solid. Rully menyebut bahwa dua bank unggulan, yakni Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Central Asia (BBCA), mencatatkan pertumbuhan kredit dan simpanan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri pada kuartal I-2025.
“Kinerja BBCA dan BMRI masih berada di atas rata-rata sektor, menjadikan keduanya sebagai pilihan utama investor di tengah perlambatan,” ujar Rully.
Pasar Saham Merespons Positif, IHSG Naik 0,7%
Langkah BI menurunkan suku bunga langsung disambut positif oleh pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,7% ke level 7.142,5 setelah pengumuman tersebut. Kenaikan indeks ini didorong oleh aliran dana asing yang cukup deras, tercatat mencapai Rp960,4 miliar.
Saham BBCA melonjak 2,4% ke level 9.700, sedangkan BMRI naik 0,9% ke posisi 5.450. Kenaikan signifikan juga dialami oleh saham Aneka Tambang (ANTM) yang melesat 6,6% ke level 2.910, seiring lonjakan harga emas dunia yang menembus US$3.300 per troy ounce.
“Respon pasar yang positif mencerminkan ekspektasi bahwa pelonggaran kebijakan BI akan memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi dan profitabilitas sektor korporasi,” ungkap Rully.
Proyeksi IHSG Akhir Tahun Tetap Dikoreksi
Meski pasar saat ini menunjukkan optimisme jangka pendek, Rully mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap prospek jangka panjang.
“Kami tetap berhati-hati terhadap outlook jangka menengah hingga akhir tahun, mengingat tantangan fundamental ekonomi belum mereda,” katanya.
Rully menegaskan bahwa pihaknya masih mempertahankan target IHSG di akhir tahun pada level 6.900, dengan asumsi pertumbuhan PDB Indonesia berada di level 4,75% untuk tahun 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang tercatat sebesar 5,03%.
- Saham PGEO hingga GOTO Menguat Paling Kencang di LQ45
- Saham BBRI dan Bank Besar Melemah Serempak, Tapi Ada Potensi Upside
- Sejarah Penetapan Hari Kebangkitan Nasional: Dari Budi Utomo hingga Simbol Semangat Persatuan
Kesimpulan
Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga di kuartal II menjadi sinyal penting bahwa stabilitas pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global. Meskipun pasar modal menyambut baik langkah ini, tantangan ekonomi makro seperti perlambatan konsumsi, investasi, serta risiko kualitas kredit masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dengan pelonggaran kebijakan moneter ini, diharapkan ada dorongan baru bagi sektor riil untuk tumbuh lebih kuat. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi eksternal dan respons sektor swasta dalam memanfaatkan peluang pendanaan murah untuk ekspansi.
“Suku bunga yang lebih rendah adalah stimulus, tetapi kita juga butuh sinergi kebijakan fiskal dan reformasi struktural untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Rully.

Ananda Astridianka
Editor
