Pendapatan BUMN Ini Ternyata Berasal dari Kompensasi BBM Senilai Rp347,54 Triliun
- Pemerintah telah melunasi pembayaran kompensasi BBM sebesar US$22,29 miliar.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menutup tahun 2022 dengan kas super tebal. Dari catatan laporan keuangan BUMN migas tersebut terungkap bahwa nilai kas dan setara kas perusahaan mencapai US$19,05 miliar, bertambah sekitar US$8,12 miliar dibandingkan tahun 2021 sebesar US$10,93 miliar.
Tahun lalu, Pertamina sukses menumpuk pendapatan hingga senilai US$84,86 miliar, termasuk di antaranya adalah pembayaran kompensasi BBM dari pemerintah senilai US$22,29 miliar atau setara dengan Rp347,54 triliun (asumsi kurs Rp15.592 per dolar AS). Pada tahun 2021, pendapatan Pertamina sebesar US$57,58 miliar, dengan pembayaran kompensasi BBM dari pemerintah sebesar US$4,39 miliar.
"Capaian ini bukan capaian windfall semata dan sebagainya, ada yang menyatakan ini karena ICP, kurs, ayo kita lihat data. Ini kinerja terbaik dari tahun ke tahun kalau dikatakan kurs tinggi kita pernah alami kurs tinggi beberapa tahun, ICP pernah di atas US$ 100 per barel tapi capaian gak demikian," terang Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati dalam Konfrensi Pers, Selasa 6 Juni 2023.
- Emiten Perbankan Tertekan Walau Kebijakan Suku Bunga BI Sesuai Ekspektasi, Ini Penyebabnya
- Canggih! Ini Cara Tulis Email dengan AI Baru Google
- Tarif Listrik Nonsubsidi Periode Juli-September 2023 Tidak Naik
Sumber pendapatan Pertamina diantaranya berasal dari penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak sebesar US$51,85 miliar, naik daripada tahun 2021 sebesaar US$39,29 miliar. Selanjutnya dari penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi dan produk minyak bumi berkontribusi sebesar US$9,29 miliar dari tahun sebelumnya US$8,31 miliar. Sementara penggantian biaya subsidi dari pemerintah mencapai US$6,29 miliar, meningkat dibandingkan US$5,11 miliar di 2021.
Salah satu sumber pendapatan besar Pertamina di 2021 justru berasal dari pendapatan usaha dari aktivitas lainnya yaitu US$17,30 miliar, melesat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$4,76 miliar.
Dari pendapatan usaha senilai US$17,30 miliar, catatan 31 laporan keuangan Pertamina 2022 mengungkap, sumbernya adalah selisih harga dan formula (catatan 8a) yaitu senilai US$15,88 miliar, melesat dibandingkan tahun 2021 sebesar US$3,60 miliar.
Terkait pembayaran kompensasi BBM dari pemerintah, dalam laporan keuangan 2022 catatan 8a disebutkan, Pertamina mencatat piutang atas pendapatan selisih harga formula dan harga jual dari periode tahun 2017-2022 sebesar US$26,15 miliar. Dari jumlah tersebut kemudian dilakukan penyesuaian nilai wajar piutang, sehingga berkurang sekitar US$2,16 miliar. Sehingga piutang bersih Pertamina kepada pemerintah untuk periode lima tahun tersebut menjadi US$24,01 miliar.
Dari total piutang bersih periode 2017-2022 itu pada tahun 2022, pemerintah telah melunasi pembayaran kompensasi BBM sebesar US$22,29 miliar. Sehingga menutup tahun 2022, Pertamina mencatat sisa dana kompensasi BBM yang belum dibayarkan oleh pemerintah sebesar US$2,52 miliar. Piutang tersebut tercatat pada laporan anak usaha yaitu PT Pertamina Patra Niaga.
Perlu diketahui piutang atas pengakuan pendapatan dana kompensasi atas selisih harga jual eceran BBM merupakan dana kompensasi yang dibayarkan pemerintah kepada PT Pertamina dan PT Pertamina Patra Niaga (PN) akibat kekurangan penerimaan selisih antara harga jual eceran berdasarkan formula dan harga jual eceran berdasarkan harga jual ketetapan pemerintah.
Kinerja positif Pertamina tahun 2022 juga tergambar melalui arus kas dari aktivitas operasi yang surplus US$10,43 miliar, melonjak dibandingkan tahun sebelum sebesar US$4,01 miliar. Salah satu sumber arus kas operasi terbesar adalah penerimaan dari Pemerintah yang mencapai US$27,02 miliar, naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun 2021 sebesar US$8,43 miliar.

Ananda Astri Dianka
Editor
