Bisnis

BI Optimistis Capital Inflow Kembali ke RI Usai COVID-19

  • Dalam catatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dana asing keluar (capital outflow) sebesar Rp156,3 triliun akibat paniknya para investor yang menjual surat berharga dan memilih surat berharga yang lebih aman di tengah COVID-19.

<p>Perry Warjiyo dalam konferensi video pada Selasa, 24 Maret 2020 yang disiarkan melalui kanal YouTube Bank Indonesia (2)</p>

Perry Warjiyo dalam konferensi video pada Selasa, 24 Maret 2020 yang disiarkan melalui kanal YouTube Bank Indonesia (2)

(Istimewa)

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yakin aliran modal baik dalam dan luar negeri akan kembali masuk ke Indonesia jauh lebih besar dibandingkan aliran modal keluar apabila wabah Virus Corona baru (COVID-19) sudah mereda.

Dalam catatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dana asing keluar (capital outflow) sebesar Rp156,3 triliun akibat paniknya para investor yang menjual surat berharga dan memilih surat berharga yang lebih aman di tengah COVID-19.

Menurut data Kementerian Keuangan, capital outflow dari saham sejak Januari sampai April 2020 telah keluar sebesar Rp12,67 triliun. Sedangkan capital outflow dari surat utang negara (SUN) Rp,143,6 triliun.

“Kami yakin setelah periode COVID-19 mereda, ada capital inflow jauh lebih besar dalam periode lebih lama,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers daring di Jakarta, Jumat, 17 April 2020.

Keyakinan Perry itu karena selama tiga hari terakhir yakni 14-16 April 2020, aliran modal masuk ke portfolio inflow yakni pada 14 April tercatat sebesar Rp700 miliar, 15 April sebesar Rp200 miliar, dan 16 April sebesar Rp2,5 triliun atau total Rp3,4 triliun.

Sebagian besar aliran modal itu, lanjut dia, masuk melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Dengan masuknya aliran modal itu, kata dia, menandakan kepercayaan investor terhadap Indonesia semakin baik di tengah pandemi COVID-19.

Selain karena masuknya aliran modal selama beberapa hari belakangan, pengalaman aliran modal masuk RI tahun 2011-2019 juga menambah keyakinan Bank Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia itu menyebutkan secara historis tahun 2011-2019 aliran modal keluar relatif lebih kecil dan dalam waktu lebih pendek.

Pada periode tahun itu, lanjut dia, rata-rata aliran modal keluar mencapai Rp29,2 triliun dalam waktu rata-rata empat bulan yang dipicu gejolak global seperti perang dagang.

Namun setelah terjadinya aliran modal keluar dari SBN itu, aliran modal masuk malah lebih besar mencapai Rp229,1 triliun dengan periode yang lebih lama mencapai 21 bulan.

Dengan adanya aliran modal masuk ini, lanjut Perry Warjiyo, juga akan memperkuat nilai tukar rupiah yang diyakini akan semakin stabil mengarah Rp15.000 per dolar AS hingga akhir tahun 2020.

Inflasi Ramadan

Sementara itu, BI memprediksi bahwa nilai inflasi tetap rendah meskipun memasuki bulan Ramadan dan Lebaran . Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, rendahnya inflasi dipengaruhi oleh empat faktor.

“Ada setidaknya empat faktor yang kami lihat bahwa risiko tekanan inflasi, apakah bulan April atau Mei, itu akan lebih rendah dari pola historisnya,” kata dia.

Faktor pertama, yakni permintaan terhadap konsumsi lebih rendah. Rendahnya permintaan konsumsi, menurut Perry, sehubungan dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Protokol-protokol pencegahan COVID-19 akan masih berlangsung. Setelah PSBB di Jakarta, kemarin PSBB di Jawa Barat, khususnya di Bodetabek. Kita juga melihat ada PSBB di makassar,” kata dia.

Pemberlakuan PSBB yang berlangsung hingga akhir Mei dinilai akan mengurangi pergerakan manusia dan lalu berimbas pada pola konsumsi selama Ramadan hingga Idulfitri. Selain PSBB, rendahnya pergerakan manusia diakibatkan adanya aturan larangan mudik lebaran.

Faktor lain yang dipaparkan Perry, yakni terkait pasokan bahan pokok dan distribusi barang yang relatif terjaga. Dia juga menimbang, ekspektasi inflasi yang menguat di tengah kondisi ekonomi yang melemah.

“Kemarin saya sampaikan, sampai minggu kedua, inflasi di bulan April ini kami perkirakan juga rendah, 0,2% dan yoy (year-on-year) lebih rendah dari 3%. Dan ke depan terkendali,” tutur dia. Sementara untuk faktor terakhir, yakni dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang masih terpantau stabil. (SKO)