Wisata Budaya Yogyakarta ‘Dijual’ ke Jerman
- JAKARTA-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mempromosikan potensi wisata budaya di...

wahyudatun nisa
Author
JAKARTA-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mempromosikan potensi wisata budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta ke pasar Eropa, khususnya Jerman.
Direktur Pemasaran PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Hetty Herawati mengatakan Yogyakarta memiliki potensi wisata yang tidak hanya terpaku pada kekayaan alam saja, melainkan juga memiliki daya tarik dari sisi kebudayaan.
“Ada banyak keraton dan juga candi yang terdapat di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selain itu, kita juga punya hasil kerajinan tangan dan kesenian tradisional yang unik dan menarik bagi wisatawan,” kata Hetty dalam keterangan resmi, Jumat, 14 Agustus 2020.
- Program Penggerak Kemendikbud Dorong Percepatan Kemampuan Adaptasi Guru
- Dukung Pelaku UMKM, Akulaku Finance Restrukturisasi Pinjaman
- Malaysia Resmi Resesi Susul Singapura dan Filipina, Ekonomi Anjlok 17,1 Persen
- Teten Minta BUMN Bantu UMKM, Erick Bilang Itu Wajib
- Pasar Respons Positif Pidato RAPBN 2021 Jokowi, IHSG Naik dan Investor Asing Borong Saham
Dia menyebutkan salah satu wisata budaya yang ada di daerah tersebut yaitu Candi Prambanan. Menurutnya wisatawan dapat memperoleh pengetahuan sejarah yang ada di Candi Prambanan sekaligus dapat menikmati pertunjukan Sendratari Ramayana Prambanan di malam hari.
“Selain itu, wisatawan juga bisa merasakan pengalaman bagaimana rasanya menjadi seorang arkeolog dalam mengkonservasi peninggalan sejarah Candi Sewu melalui paket junior archaeologist yang kami sediakan,” ujar Hetty.
Hetty juga meyakinkan masyarakat Jerman agar tidak perlu khawatir untuk berkunjung ke Yogyakarta dan Jawa Tengah di era new normal karena telah menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (cleanliness, healthy, safety, and environmental sustainability).
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM) Wiendu Nuryanti menyebutkan hampir 40% wisatawan mancanegara asal Eropa datang berkunjung ke Indonesia karena tertarik dengan tradisi dan budaya yang beraneka ragam.
“Mereka (Wisatawan Jerman) berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia, tidak hanya di Bali saja. Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia adalah kebanggan tersendiri bagi kita dan menjadi kekuatan kita menyambut kedatangan turis ke Indonesia,” ujarnya.
