Waspada, Peneliti Temukan 23 Titik Penurunan Tanah

  • Jakarta, Tim Geodesi Institut Teknologi Bandung memetakan hasil temuan 23 daerah di Indonesia yang mengalami penurunan muka tanah. Daerah tersebut berada di area sebaran tanah lunak. Daerah termaksud adalah Langsa, Medan, Indragiri, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Mahakam, Gorontalo, dan Papua selatan, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Pongkor, Bandung, Bungbulang, Cilacap, Pondok Bali, dan Cirebon. Daerah lain yang amblas yaitu […]

<p>lipi.go.id</p>

lipi.go.id

(Istimewa)

Jakarta, Tim Geodesi Institut Teknologi Bandung memetakan hasil temuan 23 daerah di Indonesia yang mengalami penurunan muka tanah. Daerah tersebut berada di area sebaran tanah lunak.

Daerah termaksud adalah Langsa, Medan, Indragiri, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Mahakam, Gorontalo, dan Papua selatan, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Pongkor, Bandung, Bungbulang, Cilacap, Pondok Bali, dan Cirebon. Daerah lain yang amblas yaitu Kendal, Semarang, Demak, dan Pekalongan.

Menurut anggota tim riset Geodesi ITB Heri Andreas, daerah pesisir pantai penurunan tanahnya rata-rata berkisar 1-20 sentimeter per tahun. Ancaman  banjir rob karena kenaikan air muka laut akibat pemanasan global.

“Kalau sea level rise aja nggak masuk hitungannya, ternyata land subsidence,” katanya, dikutip dari Tempo (16/12).

Metode penelitian tim Geodesi ITB menggunakan citra dan data satelit serta global positioning system (GPS). Keduanya kata Heri mengukur penurunan tanah di suatu kawasan dengan perhitungan data secara berkala.

Adapun terjadinya penurunan permukaan tanah, terutama di kota-kota besar disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengambilan air tanah, semakin banyak penduduk yang tinggal di suatu daerah maka akan semakin banyak kebutuhan air tanah yang harus diangkat ke permukaan.

Selain itu faktor massa bangunan juga berperan, seperti diketahui jika akan terjadi pemampatan di tanah yang dibangung bangunan di atasnya. Dengan demikian akan semakin menekan permukaan tanah.

Untuk mencegah atau menekan laju penurunan permukaan tanah, dapat dilakukan beberapa hal, seperti penggunaan air bawah tanah secara efisien, membuat sumur resapan, memperbanyak area terbuka hijau sebagai penyerap dan penahan air tanah. Kemudian dengan penerapan injeksi air tanah dan menampung air hujan untuk digunakan kembali.

Metode menampung air hujan sudah banyak dilakukan di daerah-daerah yang tidak memiliki sumber mata air seperti di kawasan karst Gunung Kidul, Yogyakarta dan gunung berapi seperti di Deles, Klaten, Yogyakarta.