Tren Pasar

Viral Pidatomology, Ini Riset Soal Korelasi Pidato Pemimpin dan Pasar Saham

  • Pidatomology viral di X, tapi benarkah pidato Prabowo gerakkan IHSG? Riset Trump Effect dan Erdogan Effect menjawabnya. Ini bukan soal gaya bicara, tapi kandungan kebijakan.
prabowo dan erdogan.jpg
prabowo dan erdogan (sekretariat presiden)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Istilah "pidatomology" mendadak ramai di linimasa X minggu ini. Warganet menyusun semacam katalog tidak resmi: setiap kali Presiden Prabowo Subianto berpidato, IHSG disebut ikut bergerak. Videonya dipotong-potong, ditempel tangkapan layar pergerakan indeks, lalu dibagikan dengan nada satir.

Pertanyaannya sederhana tapi penting dijawab, benarkah ada hubungan antara pidato presiden dan pergerakan pasar saham, atau ini cuma anekdot yang terasa benar karena confirmation bias?

Pada 20 Mei 2026, IHSG dibuka di zona hijau menuju level 6.459, menyambut optimis pidato penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal yang terdengar teknis. 

Di tengah pidato, Prabowo mengumumkan dua hal yang tidak diantisipasi pasar: peraturan pemerintah soal ekspor komoditas wajib lewat BUMN, dan pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia. 

IHSG langsung ambruk ke 6.217, turun 2,40 persen dalam satu sesi. Sektor basic industry anjlok 5,75 persen, saham TPIA kena auto rejection bawah. Tekanan baru mereda setelah pidato selesai.

Ini bukan korelasi semu. Ada pengumuman kebijakan konkret, dengan dampak nyata ke struktur bisnis emiten tertentu, yang disampaikan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bandingkan dengan kasus 26 Juni 2026. Potongan video pidato Prabowo yang memakai diksi informal seperti "ndasmu" dan "emang gue pikirin" viral di X. 

IHSG memang sempat dibuka melemah ke 5.873, tapi rebound ke 5.904 dalam waktu dua menit. Narasi "pidato bikin IHSG merah" menyebar cepat. Tapi pergerakan dua menit itu jauh lebih masuk akal dijelaskan sebagai fluktuasi normal pembukaan pasar, bukan reaksi terhadap pilihan kata presiden.

Mencampurkan dua kasus ini ke dalam satu narasi "pidato presiden = sentimen pasar" adalah kesalahan kategori. Yang pertama punya mekanisme kausal yang jelas. Yang kedua adalah koinsiden yang terasa benar karena confirmation bias, orang cenderung mengingat kasus yang mengonfirmasi keyakinan mereka dan melupakan kasus yang tidak.

Riset soal "Trump Effect"

Amerika Serikat sudah lebih dulu punya fenomena serupa dengan istilah berbeda: Trump Effect. Setiap unggahan Twitter Donald Trump dipantau ketat oleh trader karena reputasinya bisa menggerakkan saham individual maupun indeks secara keseluruhan.

Riset akademik soal ini ternyata jauh lebih nuanced dari yang dibayangkan kebanyakan orang. Studi yang dipublikasikan di PLOS One meneliti 100 cuitan Trump yang menyebut nama perusahaan publik sepanjang dua tahun pertama masa jabatannya. 

Hasilnya, secara keseluruhan, cuitan presiden tidak menghasilkan respons signifikan dari pasar saham. Tapi ketika peneliti memperhitungkan sentimen cuitan, polanya berubah. Cuitan dengan sentimen negatif yang kuat menghasilkan respons negatif yang signifikan secara ekonomi dari komunitas investor. Investor jauh lebih sensitif terhadap berita buruk dibanding berita baik.

Riset lain yang dipublikasikan di Journal of Economics and Finance menggunakan pendekatan machine learning untuk mengklasifikasi cuitan Trump berdasarkan kontennya. 

Temuannya tegas. Cuitan soal kebijakan luar negeri dan perdagangan, kebijakan moneter, dan kebijakan imigrasi secara signifikan meningkatkan ketidakpastian pasar yang diukur lewat indeks VIX. Sebagian besar efeknya bersifat sementara, mencapai puncak sekitar dua jam setelah cuitan dipublikasikan, lalu mereda.

Riset paling relevan untuk konteks "pidatomology" datang dari studi Juma'h dan Alnsour yang meneliti 58 cuitan Trump yang menyebut nama perusahaan spesifik, dikombinasikan dengan cuitan soal imigrasi, ketenagakerjaan, reformasi pajak, finansial, dan ekonomi secara umum. Kesimpulannya: rata-rata, tidak ada efek signifikan dari cuitan-cuitan itu terhadap indeks pasar atau harga saham. 

Pola yang konsisten muncul dari semua riset ini: pasar tidak bereaksi terhadap siapa yang bicara atau gaya bicaranya, tapi terhadap kandungan kebijakan konkret di dalamnya — terutama kalau kontennya tidak diantisipasi sebelumnya dan menyentuh isu yang punya dampak finansial langsung seperti tarif dagang atau kebijakan moneter.

Erdogan: Ketika Gaya Bicara Menggerakkan Pasar

Ada satu kasus di dunia di mana gaya komunikasi seorang kepala negara memang secara konsisten dan langsung menghantam pasar finansial: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan menyebut dirinya sebagai "musuh" suku bunga dan berulang kali menyatakan suku bunga tinggi adalah "ibu dari segala kejahatan." Itu adalah keyakinan ekonomi yang ia pegang secara konsisten dan ia paksakan ke kebijakan bank sentral, bertentangan dengan ortodoksi ekonomi konvensional yang menyatakan suku bunga harus dinaikkan untuk meredam inflasi.

Hasilnya bisa dilihat dari data. Turki terus menurunkan suku bunga acuan dari 19 persen di akhir 2021 menjadi 8,5 persen pada Maret 2023, persis di saat inflasi melonjak hingga tembus 80 persen di akhir 2022. Lira anjlok 78 persen terhadap dolar AS dalam lima tahun.

Analis Hamish Kinnear dari firma intelijen risiko Verisk Maplecroft bahkan mencatat efek samping kebijakan ini ke independensi bank sentral. "Gubernur bank sentral terakhir yang menaikkan suku bunga dipecat oleh presiden setelah kurang dari lima bulan menjabat."

Mengapa kasus Erdogan berbeda dari Trump Effect yang ternyata lemah secara statistik? Jawabannya ada pada prediktabilitas arah kebijakan, bukan pada pilihan katanya. Setiap kali Erdogan bicara soal suku bunga, pasar tahu persis apa yang akan terjadi, tekanan ke bank sentral untuk melawan ortodoksi ekonomi. 

Pernyataannya menjadi sinyal kebijakan yang konsisten dan bisa diprediksi arahnya, meski arah itu sendiri dianggap tidak rasional oleh standar ekonomi konvensional.

Berakar dari Ketidakpastian Kebijakan

Ada kerangka akademik yang bisa menyatukan ketiga kasus ini — Trump, Erdogan, dan Prabowo — dalam satu logika yang konsisten. Ekonom Scott Baker, Nicholas Bloom, dan Steven Davis mengembangkan Economic Policy Uncertainty Index, indeks yang mengukur ketidakpastian kebijakan ekonomi berdasarkan frekuensi liputan media soal ketidakpastian kebijakan, ketidakpastian soal perpajakan, dan perselisihan proyeksi ekonomi antar forecaster.

Riset mereka dan replikasinya di berbagai negara secara konsisten menunjukkan lonjakan Economic Policy Uncertainty berkorelasi dengan penurunan investasi, output, dan lapangan kerja di tingkat perusahaan, industri, dan negara. 

Pasar tidak takut pada kebijakan tertentu, pasar takut pada ketidakpastian soal kebijakan apa yang akan datang berikutnya. Inilah benang merah yang menjelaskan tiga kasus berbeda itu. 

Trump Effect lemah karena sebagian besar cuitannya bersifat retorik dan tidak mengubah ekspektasi kebijakan riil — pasar sudah belajar mengabaikan noise dari sinyal. 

Erdogan Effect kuat karena setiap pernyataannya soal suku bunga adalah sinyal kebijakan yang konsisten dan bisa diprediksi arahnya, meski arahnya berlawanan dengan logika konvensional. 

Adapun kasus 20 Mei Indonesia kuat karena pidato itu memuat pengumuman kebijakan struktural — pembentukan DSI dan kewajiban ekspor lewat BUMN — yang sebelumnya tidak masuk radar ekspektasi pasar sama sekali.

Masalah yang sesungguhnya dihadapi investor asing terhadap Indonesia bukan soal gaya bicara presiden. Masalahnya adalah pola di mana kebijakan besar kadang diumumkan tanpa konsultasi publik yang memadai sebelumnya, dalam format pidato yang tidak disiapkan pasar untuk menerimanya. 

DSI Danantara diumumkan di tengah pidato DPR yang tampak rutin. Pernyataan "orang desa tidak pakai dolar" keluar di acara kerakyatan biasa. Pola pengumuman seperti ini menciptakan ketidakpastian bukan karena pilihan katanya, tapi karena investor tidak bisa memprediksi kapan dan di mana kebijakan besar berikutnya akan diumumkan.

Pelajaran untuk Investor Ritel

Dari semua riset dan preseden ini, ada satu pelajaran praktis yang bisa langsung dipakai investor ritel ketika membaca berita soal pidato pejabat negara.

Tanyakan dulu apakah ada pengumuman kebijakan konkret di dalamnya — aturan baru, perubahan regulasi, struktur kelembagaan baru — yang punya dampak langsung ke sektor atau emiten tertentu? Kalau jawabannya ya, itu sinyal yang layak direspons dengan analisis lebih lanjut.

Atau apakah yang viral hanya gaya bicara, diksi informal, atau komentar spontan tanpa kandungan kebijakan baru? Kalau jawabannya ya, itu kemungkinan besar noise — dan bereaksi terhadapnya di pasar saham, seperti menjual saham karena panik melihat klip viral, biasanya lebih merugikan daripada menguntungkan.

"Pidatomology" sebagai istilah satir punya nilai sebagai kritik sosial. Ia menangkap kegelisahan publik soal bagaimana kebijakan besar sering muncul tiba-tiba tanpa sinyal jelas sebelumnya. Tapi sebagai alat analisis pasar, ia perlu dipakai dengan hati-hati.