Industri

Utang Luar Negeri Indonesia Oktober 2019 Melonjak 11,9 Persen

  • Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 meningkat dibandingkan dengan ULN pada September 2019. Menurut Bank Indonesia (BI), ULN Indonesia pada Oktober 2019 adalah sebesar USD 400,6 miliar, tumbuh 11,9% yoy atau lebih tinggi dari pertumbuhan bulan September 2019 yang sebesar 10,4% yoy.

Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia

(Istimewa)

Jakarta – Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 meningkat dibandingkan dengan September 2019.

Menurut Bank Indonesia (BI), ULN Indonesia pada Oktober 2019 adalah sebesar USD 400,6 miliar, tumbuh 11,9% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year to year (yoy). Pertumbuhan juga lebih tinggi dibandingkan September 2019 yang sebesar 10,4% yoy.

“ULN Indonesia terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar 202,0 miliar dolar AS. Kemudian ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 198,6 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut tumbuh 11,9% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,4% (yoy). Ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Oleh karena itu, utang dalam Rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS,” sebagaimana dikutip bi.go.id.
Senin (16/12)

Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2019 sebesar 35,8%. Rasio ULN ini membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya.

Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4% dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, BI dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN. Koordinasi didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan. Pengoptimalan ULN dilakukan dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Menurut BI, pertumbuhan ULN yang meningkat dipengaruhi oleh peningkatan pertumbuhan ULN Pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta. Pertumbuhan ULN terutama dipengaruhi oleh peningkatan arus masuk neto asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan global bonds pada Oktober 2019.

Pengelolaan ULN Pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan. Di mana porsi terbesar adalah pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor-sektor tersebut adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,0% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,5%), sektor jasa pendidikan (16,1%), sektor administrasi Pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,3%). Kemudian sektor jasa keuangan dan asuransi (13,4%).

“ULN swasta tumbuh melambat dari bulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir Oktober 2019 tumbuh 10,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7% (yoy),” jelas BI.

Menurut BI, perkembangan ini disebabkan oleh pertumbuhan ULN Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Juga Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan (PBLK) yang melambat. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan & asuransi. Kemudian sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan & penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%.