Dunia

Untuk Kurangi Kekejaman Polisi, Brazil Akhirnya Uji Coba Body Cams

  • Selama bertahun-tahun, Carlos Minc, anggota parlemen di Rio de Janeiro, mendorong adanya kewajiban pemasangan body cameras pada seluruh lembaga pene
Body Cams-AP.jpeg

SAO PAULO – Selama bertahun-tahun, Carlos Minc, anggota parlemen di Rio de Janeiro, mendorong adanya kewajiban pemasangan body cameras pada seluruh lembaga penegak hukum. Proposalnya mendekam di badan legislatif Rio selama bertahun-tahun.

Kemudian datanglah operasi polisi paling mematikan di kota itu. Pada 6 Mei, ratusan polisi dengan kendaraan lapis baja menyerbu lingkungan kelas pekerja di wilayah Jacarezinho saat fajar, seolah olah untuk menangkap penjahat. Sebaliknya, mereka meninggalkan 28 mayat yang seluruhnya merupakan penduduk setempat. 

Bahkan di kota yang terbiasa dengan kejamnya kepolisian, insiden itu cukup mengejutkan. Minc berkata bahwa peristiwa berdarah itu membantu mengumpulkan dukungan untuk meloloskan RUU hanya beberapa hari setelahnya.

Masih belum jelas kapan petugas di Rio akan mulai menggunakan kamera di badan mereka. Tetapi, negara bagian terpadat Brazil, Sao Paulo, sudah memulai uji coba dengan body cams. Data awal yang terbatas menunjukkan kemungkinan akan adanya penurunan kekerasan oleh polisi, walaupun ada temuan yang beragam di negara yang sudah menggunakannya.

Bagaimanapun, Minc yakin: “Jika hukum mengenai kamera yang dikenakan di seragam sudah berjalan, pembantaian di Jacarezinho tidak akan terjadi,” katanya pada The Associated Press.

Selama bertahun-tahun, otoritas negara bagian di Brazil telah mempertimbangkan untuk membuat petugas hukum menggunakan kamera di tubuh mereka, terkadang mencoba inisiatif skala kecil, dan mereka mengamati dengan saksama penerapan baru-baru ini di Sao Paulo.

Secara keseluruhan Brazil memiliki sejarah panjang dengan kekerasan oleh polisi. Tahun lalu, lebih dari 6.400 orang meninggal di tangan petugas baik yang sedang bertugas atau tidak, menurut Brazilian Forum of Public Safety, organisasi independen yang melacak statistik kejahatan nasional. Itu menunjukkan lebih dari 17 per hari, dan yang terbanyak sejak kelompok itu mulai memantau pada 2013.

Meski begitu, banyak orang Brazil yang lebih khawatir pada kejahatan itu sendiri: Hukum dan ketertiban memainkan peran utama pada pemilihan presiden terakhir, ketika kandidat pemenang Jair Bolsonaro berjanji untuk memberikan wewenang penuh untuk menggunakan kekuatan mematikan.

Adopsi penggunaan kamera di tubuh adalah “indikasi akan adanya keterbukaan yang lebih besar untuk berbicara tentang masalah kejahatan kepolisian,” kata David Marques, koordinator proyek Forum of Public Safety.

Pada bulan Juni, 3000 petugas kepolisian di Sao Paulo mulai menggunakan body cameras di 18 dari 120 batalyon-nya. Melina Risso, direktur program di Lembaga wadah pemikir di Rio, Igarape Institute, mengatakan bahwa beberapa batalyon yang dipilih memiliki masa lalu yang panjang tentang kekerasan.

Data internal kepolisian yang didapat The Associated Press menunjukkan bahwa 18 batalyon itu terlibat dalam 10 kematian selama empat bulan berikutnya, turun dari 73 dalam periode yang sama di 2020. Penurunan terbesar terjadi pada kesatuan elit yang melakukan penggerebekkan pada tersangka. Petugasnya terlibat dalam 4 kematian sejak Juni sampai September, turun dari 23 pada tahun 2020.

Jangka waktu yang singkat membuat sulit untuk mengambil kesimpulan, terutama karena kematian yang melibatkan polisi secara keseluruhan turun di negara bagian itu, meskipun jauh lebih sedikit.

Program itu berniat untuk meningkatkan hingga 10.000 kamera untuk 80.000 pasukan Sao Paulo pada bulan Juni.

Kolonel Robson Cabanas, petugas polisi militer yang mengkoordinasikan program itu, mengatakan tujuannya bukan hanya untuk mengurangi kebrutalan polisi atau memperbaiki citra kepolisian; ia juga berharap dengan adanya kamera akan menghasilkan bukti.

“Pikirkan kekerasan dalam rumah tangga, kejahatan yang sulit dibuktikan. Petugas yang ada di TKP akan melihat anak kecil menangis, rumah yang berantakan, terkadang mereka akan melihat seorang suami yang sedang marah-marah. Semua itu dapat menjadi bukti di pengadilan,” kata Cabanas di markas kepolisian. “Seseorang yang mabuk dan menuduh seorang petugas melakukan kekerasan akan bisa dicek. Kami juga akan mendisiplinkan mereka yang melakukan kesalahan.”

Dalam rekaman body cam terbaru yang dirilis kepolisian Sao Paulo di akun YouTube, seorang pria yang ditangkap setelah pengejaran malam hari mengaku bahwa dia telah merampok dan melepaskan beberapa tembakan ke arah petugas yang mengejar.

Eksperimen yang dilakukan di Sao Paulo telah menarik perhatian dari kepolisian lain di negara terbesar di Amerika Latin, termasuk di Rio dan Brasilia.

Sementara itu di A.S., program tersebut telah menyebabkan beberapa kegelisahan di antara perwira tinggi, kebanyakan dari mereka khawatir tentang efek dari rekaman tanpa henti itu.

Seorang petugas Sao Paulo dengan pengalaman 20 tahun mengatakan bahwa beberapa polisi menahan diri untuk mendekati tersangka, khawatir dengan video yang akan membuat mereka terlihat buruk. 

Studi di A.S., Denmark, dan negara-negara lain menunjukkan penemuan yang beragam mengenai apakah kamera mengurangi kekerasan oleh petugas. Pakar keamanan di Brasil juga menyatakan skeptis bahwa hanya dengan teknologi saja dapat mengurangi kekerasan oleh polisi.

Rafael Alcadipani, spesialis keamanan public di Getulio Vargas Foundation, mengatakan reformasi lainnya telah membantu mengurangi pembunuhan oleh polisi, termasuk penyelidikan internal yang kuat, penggunaan taser daripada senjata, dan hukuman terhadap petugas yang menggunakan kekerasan.

“Di Sao Paulo, polisi memulai proses yang kompleks di beberapa bidang, berusaha mengurangi kematian dalam penggerebekan. Contohnya, setiap seorang petugas membunuh orang, operasi itu ditinjau ulang dan para komandan harus merespon dalam sebuah dewan,” kata Alcadipani.

Mentalitas juga harus berubah, menurut pakar. Di Brazil, “ada gagasan bahwa keamanan publik adalah konfrontasi, perang, bukan hak sosial untuk semua orang,” kata Felippe Angeli, pakar keamanan publik di kelompok pencegahan, Sou da Paz di Sao Paulo.

Angeli mencatat bahwa lambang pasukan elit Rio adalah sebuah tengkorak dengan belati yang tertanam dan pistol yang bersilang. Kendaraan lapis baja yang digunakan dalam penggerebekan disebut “big skulls.

Koordinator Network of Security Observatories, Silvia Ramos, menyampaikan keraguan mengenai kamera akan dapat mengurangi pembunuhan oleh polisi. Jaringannya terdiri dari kelompok pengawas di tujuh negara bagian, termasuk Sao Paulo dan Rio.

“Di Jacarezinho, polisi memindahkan mayat-mayat dari tempat mereka meninggal, pihak berwenang mendukung penuh penggerebekan itu dan memerintahkan investigasi (lima) tahun. 

“Kamera-kamera itu, tidak akan secara ajaib merubah sikap para petugas.”