Nasional & Dunia

Untuk Bertahan, Bank Harus Berperilaku Seperti Perusahaan Teknologi

  • Sejumlah besar pemain baru industri keuangan telah memasuki pasar untuk kemudian bersaing dengan bank-bank yang sudah mapan. Di Eropa misalnya, akun pengecekan berbasis aplikasi dari beberapa platform seperti Monzo, Revolut, dan N26 telah menarik jutaan pelanggan. Hal ini berkat user interface (UI) yang memudahkan pengguna serta rendahnya biaya yang dikeluarkan.

CNBC East Tech Event

Image Source : cnbc.com

(Istimewa)

Jakarta-Sejumlah besar pemain baru industri keuangan telah memasuki pasar untuk kemudian bersaing dengan bank-bank yang sudah mapan. Di Eropa misalnya, akun pengecekan berbasis aplikasi dari beberapa platform seperti Monzo, Revolut, dan N26 telah menarik jutaan pelanggan. Hal ini berkat user interface (UI) yang memudahkan pengguna serta rendahnya biaya yang dikeluarkan.

Raksasa teknologi seperti Apple, Facebook, dan sekarang Google telah membuat terobosan dalam teknologi keuangan. Hal ini tentu membuat perbankan konvensional semakin tertinggal. Apple pada awal tahun ini meluncurkan kartu kredit, dengan menggandeng Goldman Sachs. Sementara Facebook mengumumkan rencana peluncuran cryptocurrency libra, dan Google akan memulai debutnya dengan memeriksa rekening tahun depan.

Pada acara CNBC’s East Tech West di Guangzhou , Tiongkok, hadir beberapa orang narasumber dari perusahaan perbankan beberapa negara. Mereka memaparkan tentang pentingnya peran teknologi dalam industri keuangan. Turut dibahas mengenai nasib perbankan jika tidak mengikuti tren baru teknologi keuangan.

David Rafalovsky, chief technology officer at Russian state-owned lender Sberbank mengatakan, ia percaya banyak bank, meski tidak semua, berada dalam posisi yang baik untuk mengembangkan produk baru. Kategorisasi perusahaan FinTech atau teknologi keuangan yang terpisah dari bank dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan perbankan.

Sementara Standard Chartered memfokuskan pada bekerjanya tim IT. “Seperti halnya FinTech,” kata Michael Gorriz, kepala petugas informasi bank Standard Chartered. “Untuk setiap bank tanpa terkecuali harus menguasai teknologi demi meningkatkan kepuasan pelanggan.”

Menurut Gorriz, industri perbankan harus cepat menyadari pentingnya teknologi di sektor keuangan ini.

“Pelayanan keuangan harus sesingkat mungkin setidaknya cukup berminggu-minggu, bukan bertahun-tahun.” Gorriz menambahkan. “Para pemberi pinjaman telah berinvestasi di sejumlah perusahaan FinTech, untuk bermitra dan memanfaatkan teknologinya di dalam bank. Jika ini tidak cukup, maka kami lebih baik mendirikan perusahaan FinTech sendiri.”

Henry Ma chief information officer di WeBank, sebuah bank online yang didukung oleh raksasa teknologi China, Tencent. Ia memaparkan manfaat inovasi teknologi dalam layanan keuangan bagi orang-orang yang memiliki akses terbatas ke perbankan atau tidak memiliki akses ke perbankan sama sekali.

“Teknologi sebenarnya memberikan peluang emas bagi kita untuk memasuki pasar yang belum tersentuh sebelumnya,” katanya. “Bank Dunia menyebutkan sebanyak 1,7 miliar orang dewasa tidak memiliki rekening bank. Artinya mereka tidak memiliki rekening di lembaga keuangan,” jelasnya.

Rafalovsky setuju akan hal itu dan mengatakan, bank-bank yang akan “bertahan” dalam jangka panjang akan beroperasi mirip seperti Facebook atau Google. Di mana mereka akan menawarkan produk-produk berkualitas. “Produk mereka harus berkembang,” katanya. “Mereka harus bergerak dan beroperasi seperti yang perusahaan teknologi lakukan.”

Ma juga setuju dengan mengatakan, “Bank harus berperilaku lebih seperti perusahaan teknologi. Bank tanpa cabang banyak berinvestasi dalam merekrut insinyur dan ilmuwan data. Bank harus berinvestasi lebih banyak dalam teknologi inti dan bersaing sekali lagi.”

Tags: