UEA Berinisiatif Perkuat Sektor Fintech
- Negara-negara Timur Tengah menyadari fintech memiliki potensi yang cukup besar dalam perekonomian. Oleh karenanya mereka memunculkan beberapa inisiatif...

Acep Saepudin
Author


Negara-negara Timur Tengah menyadari fintech memiliki potensi yang cukup besar dalam perekonomian. Oleh karenanya mereka memunculkan beberapa inisiatif dalam peraturan yang memungkinkan para wirausahawan mengimplementasikan fintech sebagai solusi.
Hampir 70 persen penduduk Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) tidak memiliki akses perbankan. Sementara itu dari satu negara ke negara yang lain memiliki alasan berbeda mengapa hal itu lumrah di sana. Melihat hal tersebut, artinya akan ada pasar besar yang perlu ditangani.
Fintech tidak hanya tentang mempermudah akses keuangan bagi orang-orang yang tidak memiliki akses perbankan. Fintech juga adalah kekuatan pendorong bagi peningkatan ekonomi karena mudah dan cepat. Fintech bagi semua orang akan mempermudah dalam mengelola dan membelanjakan uangnya, yang pada akhirnya membuka peluang pasar baru.
UEA saat ini berada di garis depan dalam perkembangan industri fintech di Timur Tengah. Itu dibuktikan dengan tingginya angka transaksi investasi dan startup fintech yang didirikan di negara tersebut. Baru-baru ini, Dubai International Financial Centre (DIFC) mengumumkan tingginya angka pendaftaran perusahaan fintech.
Dubai dan Abu Dhabi memimpin beberapa akselerator, inkubator, dana, dan sandbox. Di Dubai terdapat Fintech Hive, sandbox DFSA yang disebut Innovation Testing Licence, program Intelaq UKM Dubai, akselerator Pusat Pengusaha Teknologi Dubai (Dtec).
Kesemuanya itu diperkenalkan oleh Otoritas Dubai Silicon Oasis, serta the DIFC Fintech Fund dan the AED 2 billion Mohammed bin Rashid.
Akhir tahun lalu, Startupbootcamp, akselerator dari Inggris juga didirikan di DIFC. Perusahaan itu menawarkan programnya dalam kemitraan dengan Visa, Mashreq, HSBC, dan tentu saja DIFC itu sendiri.
Berarti sekarang ada dua akselerator di DIFC: Fintech Hive yang merupakan inisiatif pemerintah, dan Startupbootcamp tetap menjadi akselerator swasta yang menyediakan program 3 bulan dalam kemitraan dengan entitas lain.
Startupbootcamp menyatakan, “Selama tiga tahun ke depan, Startupbootcamp di Dubai akan mengakselerasi 40 startup yang bekerja di berbagai bidang yang dampaknya ada pada inovasi layanan keuangan. Di mana kecerdasan buatan dan mesin serta teknologi ledger telah terdistribusi digital serta open banking.”
Startupbootcamp mengumumkan setidaknya 10 startup fintech telah bergabung dan memulai program mereka pada 19 Februari 2019.
Sementara di Abu Dhabi, terdapat RegLab (sandbox) dan Plug and Play ADGM. Akselerator fintech-nya kini berada pada tahun ketiga bersama berbagai lembaga keuangan pemerintah dan penginisiasi seperti Hub71.
Tahun lalu, Financial Services Regulatory Authority (FSRA) dari Abu Dhabi Global Markets (ADGM), menyetujui pengujian lintas batas pertama fintech sandbox di dunia yang bekerja sama dengan ASEAN Financial Innovation Network (AFIN), sebuah entitas fintech yang berlokasi di Singapura.
“Digital sandbox (DSB) ADGM mendukung agar pembuatan API dimungkinkan, sistem mesin virtual, dan dan aplikasi yang menghubung ke sistem yang diwariskan Lembaga Keuangan ke fintech sebagai penyedia teknologi yang lebih mapan,” jelas juru bicara dari ADGM.
