Industri

Tutup 2021, Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen

  • Di penghujung 2021, Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7days reverse repo rate (BI7DRR) di level 3,5%. Bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 2,75% dan lending facility 4,25%
<p>Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. / Facebook @BankIndonesiaOfficial

(Facebook @BankIndonesiaOfficial

)

JAKARTA – Di penghujung 2021, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7day reverse repo rate (BI7DRR) di level 3,5%. Bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 2,75% dan lending facility 4,25%.

“Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR di level 3,5 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis, 16 Desember 2021.

Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan di tengah perkiraan inflasi yang rendah di dalam negeri.

Perry memaparkan, sinyal perbaikan ekonomi Indonesia sudah terlihat di mana-mana. Tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) di level 118,5, Purchasing Manufacture Index (PMI) sebesar 53,9. Serta inflasi tahunan November mencapai 1,75% year on year (yoy), tercatat sebagai inflasi tertinggi sejak Juli 2020. 

Surplus perdagangan juga mencapai rekor US$5,7 miliar pada Oktober 2021. Surplus disumbang aktivitas ekspor yang meningkat 53,5% (yoy). Lebih rendah dari ekspor, impor juga terpantau naik jadi 51,1% (yoy). Walhasil, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 18 bulan berturut-turut.

Di tengah gejolak pasar global, kebijakan moneter BI yang akomodatif dinilai berhasil menjaga posisi cadangan devisa (cadev) sebesar US$145,9 miliar pada November 2021. Tingkat cadangan devisa saat ini terhitung lebih dari cukup karena setara dengan 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Sudah jauh lebih tinggi dibandingkan standar kecukupan internasional yang hanya sekitar tiga bulan impor.”

Secara keseluruhan, tahun ini kinerja mata uang Indonesia relatif terkelola dengan baik dengan Rupiah diharapkan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada 2021.