Industri

Tumbuh 10,2%, BI Sebut Utang Luar Negeri Indonesia Terkendali

  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan III 2019 tumbuh 10,2% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta.

Ilustrasi Utang Luar Negeri Indonesia

Ilustrasi

(Istimewa)

Jakarta-Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan III 2019 tumbuh 10,2% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta.

Pertumbuhan ULN pemerintah meningkat sejalan dengan optimisme investor asing terhadap prospek perekonomian nasional. Posisi ULN pemerintah pada triwulan III 2019 tercatat sebesar USD194,4 miliar. Angka tersebut tumbuh 10,3% (yoy), meningkat dari 9,1% (yoy) pada triwulan sebelumnya, sebagaimana dilansir dari laman resmi BI Jumat (15/11).

BI menyebutkan, angka ULN Indonesia pada kuartal ini tercatat sebesar 395,6 miliar dolar AS. Angka ini terdiri dari ULN publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar 197,1 miliar dolar AS. Kemudian ULN swasta termasuk BUMN sebesar 19,5 miliar dolar AS.

“Sepanjang triwulan III 2019, investor nonresiden membukukan pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang cukup besar. Sehingga hal ini mendorong kenaikan ULN Pemerintah. Perkembangan ini mencerminkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Juga imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang menarik,” jelas BI

Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif. Di mana sektor ini mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seperti sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,0% dari total ULN Pemerintah).

Kemudian sektor konstruksi (16,5%), sektor jasa pendidikan (16,0%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,3%). Selanjutnya adalah sektor jasa keuangan dan asuransi (13,7%).

Sementara ULN swasta tumbuh melambat dari triwulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan III 2019 tumbuh 10,4% (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3% (yoy).

Perlambatan ULN swasta tersebut terutama disebabkan oleh penurunan ULN Bank. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, dan uap/air panas dan udara (LGA). Kemudian sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,4%.

Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan III 2019 sebesar 36,3%. Angka ini membaik dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,1% dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN. Di mana hal ini didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Baik pemerintah dan BI akan terus mengoptimalkan ULN dalam menyokong pembiayaan pembangunan. Salah satunya adalah dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tutup BI.

Data lengkap mengenai ULN Indonesia terkini dan metadatanya dapat dilihat pada publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi November 2019. SULNI dapat dilihat pada situs web Bank Indonesia. Publikasi ini juga dapat diakses melalui situs web Kementerian Keuangan.