Tren Lifting Meningkat, Bahlil Optimistis Pasokan Gas dari Sumber Baru Akan Cukupi Kekurangan di Wilayah Barat Akibat Natural Declining
- Menurut Bahlil, penambahan produksi gas akan berasal dari proyek-proyek baru seperti Blok Geng North yang dikelola ENI, serta temuan cadangan baru di sumur Layaran dan Tangkulo yang saat ini dikelola Mubadala.

Debrinata Rizky
Author


JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pasokan nasional tetap terjaga seiring bertambahnya suplai dari sejumlah proyek gas yang akan mulai berproduksi pada tahun 2026 hingga 2027. Adapun penurunan pasokan di sebagian wilayah terutama Sumatera dan Jawa bagian Barat akibat natural declining akan diupayakan terpenuhi dari sejumlah sumber baru.
“Saya kemarin baru pulang dari Kalimantan. Mengecek 2026–2027, lifting kita akan mulai naik. Ya, 2025 ini kita belum pernah ada impor gas kok. Belum ada,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat, 2 April 2025.
Menurut Bahlil, penambahan produksi gas akan berasal dari proyek-proyek baru seperti Blok Geng North yang dikelola ENI, serta temuan cadangan baru di sumur Layaran dan Tangkulo yang saat ini dikelola Mubadala.
Ia juga menambahkan bahwa terjadinya defisit pasokan sebelumnya lebih disebabkan oleh meningkatnya konsumsi dalam negeri dan belum optimalnya perencanaan kebutuhan. Namun setelah dilakukan review, pemerintah meyakini produksi dalam negeri akan mencukupi.
“Tahun 2026 dan 2027 diperkirakan lifting gas akan mengalami kenaikan. Jadi sebisa mungkin tidak ada impor gas, kecuali dalam kondisi sangat darurat. Kita harus yakin bahwa produksi dalam negeri cukup untuk kebutuhan kita,” tegasnya.
Pernyataan Bahlil tersebut menyikapi potensi terjadinya penurunan pasokan dari sejumlah sumur gas eksisting yang berusia tua yang selama ini memasok ke wilayah Sumatera dan Jawa bagian Barat akibat natural declining. Hal tersebut sebagaimana disampaikan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI pada 28 April 2025.
Direktur Utama PGN Arief S Handoko menjelaskan bahwa turunnya pasokan yang berpotensi defisit ada di level perusahaan yang selama ini didominasi dari sejumlah sumber yang mengalami natura declining. Bukan pada skala nasional.
“Kalau kita lihat dari 2025 sampai 2035, cenderung terjadi short gas di Sumatera bagian utara dan tengah, ini turun sejak 2028. Jadi kalau kita lihat sejak 2028 ke 2035 shortage sampai ke 96 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd),” ujar Arief.
Secara internal, PGN memperkirakan neraca gas yang mereka kelola akan mengalami kekurangan pasokan hingga 513 MMscfd pada akhir 2035, jika tidak segera dilakukan penguatan suplai dari sumber baru.

Chrisna Chanis Cara
Editor
