Transformasi Arab Saudi: Dari Konservatif ke Liberal
- Dari negara Islam konservatif, Riyadh kini bergerak menuju wajah baru yang lebih liberal, modern, dan ramah investasi global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Arab Saudi tengah mengalami transformasi sosial-ekonomi paling radikal dalam sejarah modernnya. Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), kerajaan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai negara Islam paling konservatif kini bergerak menuju wajah baru yang lebih terbuka, modern, dan pro-investasi global.
Perubahan ini menandai kontras tajam antara Arab Saudi “dulu” yang sangat islamis dan Arab Saudi “kini” yang semakin liberal secara sosial dan ekonomi, meski tetap otoriter secara politik.
Selama beberapa dekade, Arab Saudi menjadi simbol penerapan Islam konservatif. Ruang publik diatur ketat oleh norma keagamaan, dengan peran besar Polisi Syariah (Haia) dalam menegakkan aturan moral.
Perempuan dilarang mengemudi, bioskop tidak diizinkan, musik dan hiburan publik nyaris tak ada, serta interaksi sosial antara laki-laki dan perempuan dibatasi. Identitas negara sangat bertumpu pada dua pilar utama, Islam konservatif dan minyak.
Dalam jurnal terbitan Cambridge University Press, berjudul A History of Saudi Arabia yang ditulis Madawi Al-Rasheed, dikutip senin, 29 Desember 2025, Ajaran Wahabi di Arab Saudi merupakan fondasi ideologis berdirinya Arab Saudi modern. Paham ini berasal dari dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18 yang menyerukan pemurnian Islam dari praktik yang dianggap bid’ah dan syirik.
Ajaran tersebut kemudian bersekutu dengan Muhammad bin Saud, membentuk aliansi agama–politik yang menjadi dasar kekuasaan Dinasti Saud. Sejak berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada 1932, Wahabi dijadikan mazhab resmi negara dan berfungsi sebagai legitimasi religius bagi kekuasaan monarki.
Dalam praktik kenegaraan, Wahabi sangat memengaruhi sistem hukum, pendidikan, dan kehidupan sosial. Tafsir keagamaan yang literal dan konservatif diterapkan dalam peradilan berbasis Hanbali-Wahabi, sementara kurikulum pendidikan menanamkan doktrin tersebut sejak usia dini.
Polisi Syariah (Haia) selama puluhan tahun berperan aktif mengawasi moral publik, mulai dari cara berpakaian hingga ibadah. Negara dan agama menyatu erat, sehingga kritik terhadap ajaran Wahabi kerap dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.
Pengaruh Wahabi tidak hanya terbatas di dalam negeri. Sejak ledakan pendapatan minyak pada 1970-an, Arab Saudi secara masif mengekspor paham ini ke dunia Islam melalui pembangunan masjid, pendanaan lembaga pendidikan, beasiswa, dan literatur keagamaan.
Meski pemerintah Saudi menolak dikaitkan langsung dengan ekstremisme, banyak pengamat menilai penyebaran Wahabi turut mendorong konservatisme dan, dalam konteks tertentu, menjadi salah satu faktor yang memperkuat radikalisme di berbagai kawasan.
Namun, di era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), peran Wahabi mulai dibatasi. Pemerintah membekukan kewenangan Polisi Syariah, mereformasi kurikulum agama, dan mempromosikan narasi “Islam moderat”.
Meski Wahabi tetap menjadi referensi resmi, negara kini mengambil alih kendali penuh atas tafsir agama. Arab Saudi bergerak dari negara yang dikendalikan ulama menuju negara yang mengendalikan ulama, seiring agenda modernisasi ekonomi dan sosial di bawah Visi 2030.
Arab Saudi Liberal
Sejak MBS naik sebagai figur sentral kekuasaan, lanskap itu berubah drastis. Melalui agenda besar Visi 2030, pemerintah Saudi mendorong liberalisasi di berbagai sektor.
Perempuan kini diizinkan mengemudi, bekerja lintas sektor, dan tampil di ruang publik. Bioskop, konser musik internasional, festival hiburan, hingga ajang olahraga kelas dunia rutin digelar. Bahkan, Saudi membuka toko alkohol terbatas untuk diplomat dan ekspatriat non-Muslim—langkah yang dulu nyaris mustahil dibayangkan.
Reformasi juga menyentuh sektor keagamaan dan pendidikan. Kurikulum sekolah diarahkan lebih moderat, wacana keislaman yang ekstrem ditekan, dan kewenangan Polisi Syariah dibekukan. Pemerintah secara terbuka mempromosikan Islam “moderat dan toleran”.
Arab Saudi untuk pertama kalinya juga mengizinkan penjualan alkohol secara terbatas. Pada awal 2024, pemerintah Saudi membuka toko alkohol pertama di Riyadh, namun aksesnya sangat dibatasi hanya untuk diplomat asing non-Muslim dan pemegang izin khusus.
Namun, sejumlah media termasuk The Independent melaporkan Warga negara Saudi terutama generasi mudanya yang beragama Islam, mulai diizinkan mengonsumsi alkohol pada bulan desember 2025, meski belum ada izin resmi.
Dorongan utama transformasi ini bersifat sangat pragmatis. Kejatuhan harga minyak pada 2014–2016 menjadi alarm keras bagi Riyadh akan bahaya ketergantungan pada migas. Diversifikasi ekonomi menjadi keharusan.
Mega proyek seperti NEOM, Red Sea Project, dan pengembangan sektor pariwisata, hiburan, serta ekonomi digital digencarkan untuk menarik investasi dan talenta asing. Arab Saudi ingin beralih dari negara berbasis minyak menjadi pusat ekonomi jasa dan teknologi di Timur Tengah.
Reformasi MBS mendapat sambutan positif dari generasi muda dan perempuan Saudi yang melihat peluang baru dalam pekerjaan, hiburan, dan gaya hidup. Namun, resistensi tetap datang dari kelompok konservatif yang menilai perubahan ini menggerus nilai-nilai keislaman.
Di sisi lain, kritik juga muncul dari komunitas internasional dan aktivis HAM. Meski liberal secara sosial, Arab Saudi tetap sangat ketat secara politik. Kebebasan berpendapat, oposisi, dan kritik terhadap pemerintah masih dibatasi dengan hukuman berat.
Para pengamat menilai Arab Saudi saat ini berada dalam paradoks. Negara ini membuka diri di sektor sosial dan ekonomi, tetapi tetap menutup rapat ruang politik. Liberalisasi dilakukan secara terkontrol dari atas, bukan hasil tekanan demokratis dari bawah.
Langkah-langkah seperti pembukaan hiburan dan alkohol terbatas dipandang sebagai bagian kecil dari strategi besar: membangun citra Saudi yang ramah investor, global, dan relevan bagi generasi muda dunia.
Transformasi Arab Saudi menandai pergeseran identitas nasional, dari negara yang mendefinisikan diri lewat konservatisme agama, menjadi negara yang lebih pragmatis, ekonomis, dan global-oriented. Perubahan ini masih berlangsung dan penuh risiko. Namun satu hal jelas, Arab Saudi hari ini bukan lagi Arab Saudi yang sama seperti satu dekade lalu.

Muhammad Imam Hatami
Editor
