Tren Pasar

TLKM Cs Berdarah Dihajar Internet Murah, Saham WIFI Dilirik?

  • Perang tarif pecah! Internet Rp100 ribu obrak-abrik pasar. Riset BRI Danareksa sebut TLKM paling terdampak. Cek nasib saham ISAT & EXCL di sini.
Gedung Telkom.jpg
Gedung kantor Telkom di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Industri internet kabel atau fixed broadband (FBB) Indonesia yang selama ini tenang, kini berubah menjadi medan pertempuran sengit. Tahun 2026 diprediksi menjadi saksi bisu lonjakan penetrasi internet hingga 41%, namun pertumbuhan ini dibayar mahal dengan pecahnya perang harga yang brutal antar penyedia layanan.

Dalam riset publikasi terbarunya, BRI Danareksa Sekuritas melalui analis Kafi Ananta dan Erindra Krisnawanmembongkar fakta bahwa stagnasi pasar tiga tahun terakhir akhirnya didobrak oleh strategi nekat pemain baru. Mereka masuk dengan membanting harga ke level terendah, mengancam kenyamanan para penguasa pasar broadband tradisional.

Era internet mahal tampaknya akan segera berakhir. Dengan senjata tarif murah dan teknologi nirkabel, para penantang siap menggerus kue pangsa pasar yang selama ini dinikmati operator pelat merah maupun swasta besar.

1. Lonjakan Penetrasi Ekstrem

Fakta pertama yang soroti adalah perubahan drastis dalam adopsi internet. Pasar yang sebelumnya lesu kini dipaksa berlari kencang berkat perang harga dan teknologi baru. Kafi dan Erindra mencatat adanya potensi kenaikan penetrasi hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat.

"Setelah pangsa pasar stagnan di kisaran 18–19% selama tiga tahun terakhir, penetrasi FBB, termasuk FWA, diproyeksikan meningkat dari sekitar 24% pada tahun lalu menjadi setinggi 41% pada FY26," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya.

2. Tarif Rp100 Ribu: Senjata Mematikan

Strategi paling radikal adalah penetapan harga "lantai dasar". ISP penantang seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DATA) berani menawarkan paket internet di kisaran Rp100.000 hingga Rp116.000 per bulan, yang kemudian diekor oleh PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).

Harga miring ini jelas menjadi pukulan telak bagi pemain lama yang rata-rata mematok tarif di atas Rp250.000. Strategi harga disruptif ini sukses memikat segmen pasar menengah ke bawah yang sensitif harga, sekaligus memaksa standar tarif industri untuk turun drastis demi mempertahankan pelanggan.

3. Tiga Kuda Hitam Penguasa Baru

Pasar tidak lagi dikuasai pemain tunggal. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) lewat MyRepublic, bersama WIFI (Surge) dan DATA (NetHome), kini disebut analis sebagai motor utama pertumbuhan. Mereka bergerak agresif mengisi ceruk pasar yang selama ini tidak terjangkau operator besar.

"Dalam fase ini, WIFI (Starlite dan IRA), MORA (MyRepublic dan Oxygen), serta DATA (NetHome) dinilai menjadi proksi utama pertumbuhan incremental homeconnect," sebut Kafi dan Erindra menegaskan posisi strategis para penantang baru tersebut di pasar yang sedang berkembang pesat ini.

4. TLKM Paling "Berdarah" Terdampak

Di tengah gempuran harga murah ini, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai sebagai raksasa yang paling rentan terluka. Riset tersebut menyoroti bahwa TLKM memiliki eksposur pendapatan FBB (IndiHome) paling besar, yakni sekitar 18% dari total pendapatannya.

Kondisi ini berbeda dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) yang posisinya dinilai lebih aman. Kontribusi pendapatan FBB kedua operator seluler ini masing-masing hanya 7% dan 2%, membuat mereka relatif lebih kebal terhadap guncangan perang harga di segmen internet kabel.

5. Pertaruhan Hidup-Mati di Capex

Meski terlihat garang dengan harga murah, strategi ISP penantang seperti WIFI dan INET sebenarnya menyimpan risiko fatal. Model bisnis margin tipis ini membuat belanja modal (capex) membengkak di awal atau front-loaded. Keberhasilan mereka murni bergantung pada volume massa pelanggan.

Para penantang ini wajib menjaga tingkat adopsi pelanggan di atas 50–60% per area untuk bisa balik modal. Jika gagal mencapai target volume tersebut, strategi jual rugi ini justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan arus kas perusahaan mereka sendiri di masa depan karena beban infrastruktur.

6. Rekomendasi Saham di Tengah Perang

Walaupun sektor ini sedang "berdarah-darah", BRI Danareksa melihat peluang cuan. Saham WIFI dan INET dinilai seksi dengan valuasi murah ditopang potensi pertumbuhan EBITDA. Sementara saham ISAT dan EXCL tetap direkomendasikan beli karena fundamental selulernya yang kuat.

Adapun target harga saham di tengah gejolak ini adalah: ISAT di Rp3.000, TLKM di Rp4.000, dan EXCL di Rp4.100. Investor disarankan jeli memilih: mau masuk ke saham penantang yang agresif (high risk) atau bertahan di saham penguasa pasar yang sedang diuji dominasinya.