Tiga Skenario Pergerakan IHSG dan Saham-Saham Jagoan di 2021 Versi JP Morgan-Mirae Asset
JAKARTA – Sejumlah sekuritas mulai merilis target dan proyeksi terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2021. Dua di antara yang telah merilis proyeksi itu adalah JP Morgan dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Kedua sekuritas ini memiliki tiga skenario dalam analisanya, yakni skema terbaik, terburuk, dan nomal. JP Morgan misalnya, memprediksi pergerakan IHSG pada skema […]

Fajar Yusuf Rasdianto
Author


Karyawan berktivitas dengan latar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di atas 5.000 dan parkir di zona hijau dengan menguat 0,85 persen ke level 5.176,099 pada akhir sesi. Sebanyak 213 saham menguat, 217 terkoreksi, dan 161 stagnan, IHSG mengalami penguatan seiring dengan sentimen Omnibus Law dan langkah Bank Indonesia untuk pemulihan ekonomi. Selain itu, rencana merger bank BUMN syariah turut mendorong saham-saham perbankan lainnya, dan mengisi jajaran top gainers hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Sejumlah sekuritas mulai merilis target dan proyeksi terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2021. Dua di antara yang telah merilis proyeksi itu adalah JP Morgan dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Kedua sekuritas ini memiliki tiga skenario dalam analisanya, yakni skema terbaik, terburuk, dan nomal. JP Morgan misalnya, memprediksi pergerakan IHSG pada skema terburuk tahun depan bakal jatuh hingga level 4.800.
Kondisi ini terjadi apabila pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2021 di bawah 4% dan rupiah kembali melonjak ke level Rp15.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini mungkin terjadi jika proses pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19 berjalan lambat.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
“Pelebaran defisit fiskal dan peningkatan bunga surat utang negara (SUN) juga bisa menjadi pemicu keluarnya dana asing (foreign outflow),” tulis JP Morgan dalam risetnya, disitir Selasa, 8 Desember 2020.
Dalam situasi nomal, IHSG mungkin akan begerak ke level 6.800. Syaratnya, PDB mesti tumbuh lebih dari 4% dan rupiah berada di level Rp13.500 per dolar AS.
Kemungkinan ini bisa terjadi apabila pembukaan kembali perekonomian berjalan lancar. Plus stimulus pemerintah atas dampak pandemi COVID-19 tetap berlanjut.
Sementara untuk skenario terbaik, JP Morgan memperkirakan bahwa IHSG bakal bergerak ke level 7.250. Capaian terbaik ini bisa tercapai apabila PDB bisa naik lebih dari 4% dan rupiah menguat ke level Rp13.500 per dolar AS.
“Eksekusi Omnibus Law lebih cepat dari ekspektasi sehingga mampu mendorong FDI (foreign direct investment) dan mentransformasi Indonesia sebagai pusat manufaktur Asia di masa mendatang,” tulis riset itu.
Dalam ketiga skenario ini, JP Morgan turut menjagokan tiga sektor yang bakal meraja di 2021, yakni finansial, konsumer, dan komunikasi. Adapun saham-saham pilihan JP Morgan pada 2021, antara lain BBCA, BBRI, UNTR, JSMR, INTP, TLKM, SCMA, dan PWON.
Proyeksi Mirae Asset
Setali tiga uang dengan JP Morgan, Mirae Asset juga memiliki tiga skenario untuk proyeksi IHSG 2021. Skenario terbaiknya, IHSG bakal menjulang hingga level 7.150, normal bakal berada di 6.880, dan terburuk di level 5.150.
Faktor-faktor yang menjadi penentu dalam tiga skema ini, antara lain nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, harga komoditas, dan PDB Indonesia. Nilai tukar rupiah yang melemah pada 2021 bakal berkolerasi positif terhadap harga komoditas.
“IHSG cenderung positif sepanjang penguatan dolar AS,” tulis riset Mirae Asset.
Kemudian, jika ekspansi Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur di China, pembangunan pabrik, dan ekspor komoditas berlanjut, maka harga komoditas juga akan bangkit. Penguatan pada harga komoditas ini juga diprediksi bakal berefek baik bagi Indonesia.
Dengan perbaikan harga komiditas ini, Mirae Asset pun telah menjagokan sejumlah sektor yang bakal manggung di 2021. Sektor-sektor itu antara lain, perbankan, nikel, agrobisnis, dan pertambangan.
“Pilihan utama untuk saham-saham di sektor perbankan, komoditas, dan peternakan antara lain BBRI, BMRI, BBNI, JPFA, ANTM, INCO, LSIP, dan UNTR,” pungkas riset itu.
